Muslihat

1354 Kata
Daniel melirik ke arah lengannya yang memiliki luka gores. “Oh ini ... Semalam aku main basket di rumah dan terjatuh. “Kenapa memang?” tanyanya berbalik. Dimas tidak langsung menjawab. Ia hanya diam mengamati. Lalu kemudian berbalik badan begitu saja kembali ke lantai atas untuk mandi. “Kenapa dia ...?” tanya Daniel sembari mengamati Dimas yang pergi tanpa bicara sepatah kata pun. Netra Anggun juga mengikuti pergerakan Dimas. “Hanya dia yang tahu. Mungkin masih ngantuk,” sahutnya sembari mengajak Daniel untuk duduk di sofa. Seringnya Daniel datang berkunjung ke rumah, merupakan cara agar ia bisa lebih dekat dengannya, batinnya penuh rencana. Setelah Dimas selesai mandi dan turun dari tangga, mereka berempat segera sarapan dan kemudian bersiap berangkat. Rencananya mereka pergi menggunakan mobil Daniel. Namun Dimas tidak setuju, ia tahu jika Daniel yang mengemudi bisa-bisa mereka akan ke villa, bukannya ke kebun binatang. Ia tahu bagaimana sifat Daniel yang sebenarnya. Seseorang pria yang egois dan selalu menginginkan semua keinginannya terwujud. Daniel menginginkan Villa, entah berniat apa dia di sana, pikirnya. Ia tidak akan membiarkan rencana Daniel terlaksana. “Baiklah, jika kamu mau pake mobil sendiri,” ujar Daniel pada Dimas. “Ayo sayang, kita berangkat,” sambungnya sembari mengajak Rose untuk segera mengikutinya dan masuk mobilnya. “Kenapa harus menggunakan mobil satu-satu? Mobil Daniel masih muat untuk kita berempat,” kata Rose sebelum mengekor di belakang Daniel. “Iya Dimas, lebih baik kita ikut di mobil Daniel saja,” kata Anggun sembari melirik ke arah Daniel yang berjalan ke arah mobilnya. Rasanya tidak rela membiarkan Maminya berduaan dengan Daniel. “Lebih nyaman menggunakan mobil sendiri.” Dimas menekankan. “Baiklah jika begitu. Kita ketemu di depan gerbang kebun binatang ya,” ujar Rose sembari melambai. Dimas tersenyum simpul. Anggun menyikut perut Dimas. “Hei, kenapa tidak bareng mobil Daniel aja?” tanyanya lagi. Dimas memicingkan matanya. “Jika kamu mau bareng sama dia, yaudah sana bareng saja sana. Tapi aku tetap di sini.” Anggun mengatupkan bibirnya, lalu mencibir. “Jika tidak takut ketahuan kita nikah pura-pura, aku udah gabung di mobil Daniel!” Dimas melengos. Mengabaikan kata-kata Anggun dan akan masuk ke dalam mobil. Namun sudut matanya menangkap ban mobil yang kempes. “Astaga!” Anggun yang akan masuk ke dalam sedan hitam itu sampai keluar karena terkejut dengan suara Dimas. “Ada apa?” “Bannya kempes!” pekik Dimas heran. “Kenapa tiba-tiba kempes?” Anggun segera menoleh ke arah mobil Daniel. Untung saja mobil Daniel belum pergi. “Mami! Daniel! Tunggu, kita ikut sama kalian!” teriaknya. “Kenapa mereka?” tanya Rose lirih sembari melihat ke arah Anggun yang berlari mendekat. Daniel tersenyum tipis. “Kenapa mobil kalian?” tanyanya sembari memegangi setir mobil. “Ban mobil Dimas kempes,” jawab Anggun cepat. “Ya sudah masuk.” Rose menjawab sembari melirik ke arah bangku belakang. “Dimas, ayo cepat ke sini!” seru Anggun heboh. Dimas masih menggerutu, memikirkan bagaimana bisa ban mobilnya tiba-tiba kempes begini padahal sebelumnya baik-baik saja. Suara Anggun yang terus berteriak memanggilnya, membuat Dimas terpaksa ikut dalam mobil Daniel. “Dimas jangan lupa gembok pagarnya,” pesan Rose ketika melihat Dimas membuka dan kemudian menutup pagar. Dimas mengangguk sembari kepalanya masih memikirkan ban mobil yang kempes itu. “Sudah, jangan dipikirkan,” kata Rose sembari menoleh ke belakang, menatap Dimas yang terduduk dengan raut muka kusut. “Tinggal ganti ban saja. Kamu punya ban serep kan?” “Punya sih ...,” jawab Dimas. “Aku tidak memikirkan tentang bannya kempes. Tapi kenapa bannya kempes? Padahal semalam baik-baik saja. Apa mungkin pria yang menyelinap semalam sengaja membuat ban mobilku kempes ...?” sambungnya sembari memandang ke arah Daniel. Anggun dan Rose terkesiap mendengarnya. “Apa? Ada pria yang menyelinap semalam?” tanya mereka bersamaan. “Kenapa kamu enggak ngasih tahu aku?” Anggun membulatkan sepasang mata indahnya. “Aku kan udah kasih tahu kamu. Aku malah bangunin kamu. Tapi kamunya tidur nyenyak begitu. Kek orang mati, di bangunin malah ngigo enggak jelas. Tahu gitu aku rekam,” tutur Dimas sembari teringat saat Anggun mengerjainya. Anggun mengatupkan bibirnya rapat-rapat. Ia mulai ingat, ya memang Dimas membangunkannya malam tadi. Tapi dia malah mengabaikannya dan tetap menikmati kenyamanan mimpi indahnya. “Kamu kejar laki-laki yang menyelinap masuk rumah kita?” Rose bertanya dengan raut muka panik. “Aku mengejarnya, tapi tidak ketemu. Dia nekat melompat masuk ke dalam halaman belakang rumah tetangga di blok seberang sana. Aku tidak mendapatkannya. Tapi aku melihat lengannya tergores tembok pagar pembatas rumah tersebut,” jawab Dimas sembari melirik ke arah Daniel. “Astaga ... Apa dia berniat mencuri ya ...?” Rose lirih bertanya. Pertanyaan yang juga untuk dirinya sendiri. “Belasan tahun tinggal di perumahan ini, tidak biasanya ada maling ....” “Ehem ....” Daniel berdeham untuk memecah ketegangan. “Yang penting maling itu tidak berhasil masuk ke dalam rumah. Besok aku akan memasang cctv di pintu rumah dan juga pintu belakang.” Dimas masih menatap Daniel dengan tatapan curiga. Apakah pria semalam yang menggunakan masker dan topi hitam adalah Daniel? Dari perawakan tubuh pria itu tidak asing. “Kita bersiap berangkat?” tanya Daniel sembari memandang satu persatu. Rose mengangguk semangat. “Sudah lama sekali aku tidak rekreasi keluarga begini,” ucapnya lirih dan sembari melihat ke arah Anggun. Anggun hanya tersenyum simpul. “Tapi sepertinya kita tidak jadi ke kebun binatangnya Rose. Maaf. Sepertinya lain kali. Aku ada pekerjaan mendadak. Aku harus mengerjakan laporan keuangan hari ini juga. Kamu tahu kan jika ayahku itu orang yang keras kepala. Jika aku diminta mengerjakan hari ini, maka ya harus selesai hari ini juga,” ucap Daniel dengan wajah sendu. “Terus kita mau ke mana?” tanya Rose. “Kita enggak jadi jalan-jalannya?” Anggun juga bertanya. “Jadi,” jawab Daniel sembari menganggukkan kepalanya. “Tapi bukan ke kebun binatang. Kita ke villa saja. Karena jika di villa, aku bisa mengerjakan tugas yang diminta oleh ayahku. Bagaimana? Kalian mau?” “Kenapa tidak dari tadi saat baru tiba kamu mengatakannya?” Dimas menyela. Ia merasa ada sesuatu yang sedang direncanakan oleh Daniel. Entah ada apa dengan Villa itu. Dia terus bersikukuh dengan Villa dan ingin kita semua ke sana. “Bukannya aku tidak mau mengatakannya tadi. Aku hanya bingung menjelaskannya. Wajah Rose yang bersemangat dan semangatnya kita yang akan rekreasi membuat lidahku kelu untuk bicara,” jawab Daniel dramatis. Rose menatap wajah sendu Daniel. Ia menjadi tidak tega. “Tidak apa-apa. Baiklah, kita bisa ke villamu. Kamu bisa mengerjakan tugas pekerjaanmu dan kami bisa menikmati alam,” jawabnya sembari tersenyum. Lalu menoleh ke bangku belakang. “Bagaimana Anggun? Dimas? Kalian setuju kan?” Anggun tidak langsung menjawab. Tapi semenit kemudian ia segera mengangguk. “Baiklah ... Aku rasa bukan ide buruk, menikmati alam. Dari pada masuk kerja.” “Tenang saja, bosmu calon Papa tirimu,” bisik Dimas mengejek. Anggun melirik ke arah Dimas sembari berdesis kesal. “Oke, kita berangkat,” kata Daniel sembari memijakkan pedal gas dan kemudian mobil sedan miliknya melesat perlahan ke jalanan. “Tidak jauh dari villaku ada air terjun.” “Air terjun sialan,” pekik Dimas lirih. Jadi ini niat Daniel? Membawa Rose dan Anggun ke air terjun? Hatinya terasa ngilu ketika mengingat air terjun di villa itu. Entah apa maksud Daniel membawa mereka ke sana? Pasti ada rencana yang dipikirkannya. Apa dia akan melancarkan aksinya lagi di air terjun? Daniel yang selalu merasa ingin lebih unggul ... Apa rencanamu? “Apa kamu bicara sesuatu?” tanya Anggun lirih. Ia menatap bola mata Dimas yang tampak risau. Dimas menggeleng. “Tadi aku seperti mendengar kamu bicara.” Anggun memberitahu. “Aku tidak mengatakan apa pun. Hanya perasaanmu saja,” jawab Dimas lirih. “Anggun, jika sudah sampai di villa, aku harap kamu jangan ke air terjunnya,” sambungnya berbisik. “Memang kenapa?” tanya Anggun sembari mengerutkan kening. “Ada apa di air terjun itu?” Dimas tidak langsung menjawab. Hatinya bimbang antara menceritakan pada Anggun atau tidak. Manik matanya melirik ke arah kursi depan. Terlihat Rose sangat senang. Ia bernyanyi merdu dan Daniel menatapnya sesekali sembari tetap memfokuskan diri pada kemudi mobil yang melesat di jalan raya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN