Anggun berdiri di depan pintu kamar kayu jati. Ia berdiri mematung di sana. Sedikit memikirkan Maminya yang pasti akan memarahinya. Tapi entah kenapa ia suka membuat Maminya kesal. Maminya sok cantik, dan selalu ingin terlihat selalu muda dan lebih unggul darinya, pikirnya.
“Mami ....” Anggun mendorong pintu kamar.
“Masuk saja.” Suara Rose menjawab.
Seperti yang diminta Rose, Anggun melangkah masuk dan memandangi punggung Maminya yang membelakanginya. “Kata Daniel, Mami memanggilku?”
Rose berbalik badan. Ia memandangi Anggun dengan wajah sendu dan tatapan sayu. “Iya, Mami memanggilmu. Mami ingin mengatakan sesuatu padamu ....”
“Apa?” tanya Anggun lirih. “Mami ingin memarahiku lagi. Aku tahu aku salah. Aku memang anak yang menyebalkan. Aku selalu membuat Mami kesal.”
“Kenapa kamu selalu ingin membuat Mami kesal? Apa dengan hidup seperi itu ... Menjalin hubungan bebas tanpa ikatan dengan Dimas membuatmu senang? Kamu yang rugi ...,” ujar Rose menasehati. “Berapa kali Mami menasehati kamu betapa pentingnya seorang wanita menjaga kehormatannya? Dan kamu malah pura-pura menikah agar bisa hidup bebas tanpa ikatan dengan Dimas. Ayahmu pasti sedih melihatmu, Anggun ....”
Anggun tidak suka mendiang Ayahnya dibawa-bawa. “Ayah tidak akan sedih. Aku tidak melakukan apa pun dengan Dimas.”
“Lalu beberapa malam tidur satu kamar dengan Dimas. Apa yang kalian lakukan? Kamu kira Mami tidak tahu apa-apa?”
Anggun mengatupkan bibirnya. Rasanya percuma menjelaskan pada Maminya.
“Ya, ya ... Aku akan menikah dengan Dimas,” kata Anggun dengan nada bicara lebih tegas.
Rose memandangi Anggun dengan tatapan nanar. “Mami memanggilmu ke mari, ingin mengatakan ... Jangan memaksakan pernikahan ini.”
Anggun terkejut. “Loh, bukannya tadi Mami memaksaku untuk menikah dengan Dimas? Kenapa sekarang malah Mami mengatakan jangan memaksakan pernikahan ini?”
“Mami enggak mau hidupmu tidak bahagia Anggun. Karena pernikahan itu untuk selamanya. Mami hanya ingin kamu bahagia dan tidak dirugikan.”
Hening.
Anggun dan Rose saling berhadapan dan menatap satu sama lain.
“Tapi Mami sudah merencanakan pernikahan aku ini kan ... Mami sampai memanggil penghulu yang sebentar lagi datang.”
Rose mendesah pelan. Lalu mengatupkan bibirnya. “Mami memang mengkhawatirkan masa depanmu, jika Dimas tidak bertanggung jawab. Dia pergi begitu saja ... Tapi pernikahan dadakan ini sebetulnya sudah disiapkan oleh Daniel.”
“Apa?” Anggun terkesiap mendengarnya. “Kenapa Daniel yang repot-repot menyiapkan semua ini?” tanyanya dengan kedua alis yang bertaut.
“Dia mencemaskanmu Anggun. Dia takut kamu dipermainkan oleh Dimas. Karena ternyata Dimas tidak sebaik yang kamu kira dan sebaik penampilannya yang terlihat.” Rose menjelaskan. “Kamu harus bersyukur, ternyata Daniel begitu perhatian pada keluarga kita. Daniel menyayangi anak Mami. Dia peduli padamu.”
“Daniel peduli padaku. Makanya dia merencanakan pernikahan ini?” Anggun memastikan. Hatinya terasa tergores sembilu mendengar pria pujaannya lah yang telah menyusun rencana menikahkannya dengan Dimas. Kerongkongannya kering dan dengan susah payah ia menelan ludah agar tenggorokannya tidak terasa sakit. ‘Ya, Daniel tidak mencintaiku. Dia justru ingin aku cepat-cepat menikah dengan Dimas. Lalu tinggal berjauhan dengan Mami. Dan dia bisa pacaran bebas sama Mami di rumah. Oh, tidak ... Kenapa aku tidak berpikir ke arah sana?’
“Dimas itu memang gemar mempermainkan wanita. Apa lagi yang polos seperti kamu.”
“Kata siapa? Daniel yang bilang?”
Rose mengangguk. “Tentu saja Daniel yang bilang. Dia kakak Dimas. Dia tahu segalanya tentang adiknya.”
Anggun tersenyum kecut.
“Tapi walau begitu, Mami ingin mendengar dari mulutmu. Apa kamu mencintai Dimas? Apa kamu mencintainya? Apa kamu ingin melanjutkan pernikahan ini? Sebetulnya Mami tidak ingin membuatmu tertekan.”
Anggun menatap Rose lebih lekat. “Bukannya Mami pikir aku dan Dimas sudah berbuat macam-macam, lalu takut Dimas meninggalkan aku ...?”
“Ya, memang. Tapi jika kamu tidak ingin menikah dengan Dimas. Tinggalkan saja dia ... Kita bisa pulihkan kembali kegadisanmu dengan operasi.”
Anggun tertawa lirih. Ia merasa lucu dengan pemikiran Maminya. Jadi maminya pikirkan itu ...? batinnya. Padahal Dimas tidak pernah menyentuhnya. Lalu kenapa Daniel menjelek-jelekkan Dimas pada Mami? tanyanya di dalam hati. Tiba-tiba ia teringat akan kata-kata Dimas tentang Daniel yang selalu membuat citranya buruk dan selalu menginginkan lebih unggul darinya.
Tiba-tiba saja ia menjadi penasaran dengan apa yang terjadi pada kakak beradik itu. Ini bukan mengenai dirinya dan Maminya. Namun sudah beranjak menjadi masalah dua keluarga.
Jika aku tidak suka dengan gaya Mami yang selalu ingin tampil lebih oke dan kece dariku. Maka Dimas tidak menyukai Daniel, kakaknya yang selalu menginginkan lebih unggul darinya. Jika aku menolak pernikahan ini, maka Dimas akan terlihat semakin buruk. Dia terlihat seperti pria tidak bertanggung jawab dan menyedihkan, pikirnya sekali lagi.
‘Kasihan sekali dia,’ katanya di dalam hati.
Rose menggoyang-goyangkan tubuh Anggun yang termenung dengan sorot mata kelabu dan kosong. “Anggun, apa kamu mendengarkan Mami?”
Lamunan Anggun terkoyak dan menghilang ketika suara Rose mulai menembus alam sadarnya. “Hm ...?” tanyanya lirih.
“Kamu melamun? Mami barusan tanya, apa kamu mau menjalani pernikahan ini? Sebelum penghulu datang, kamu harus memberi kepastian. Karena Mami hanya menginginkan kebahagiaanmu. Kita pasti punya jalan keluar setelah ini.”
Hening.
Anggun tidak langsung menjawab. Ia menatap wajah Maminya yang jelita.
“Anggun ...?” panggil Rose sekali lagi.
Anggun menjilat bibir bawahnya dan kemudian menarik nafas panjang dan dalam. “Aku ... Aku bersedia menikah dengan Dimas. Aku tidak terpaksa melakukan ini. Aku bukan gadis menyedihkan yang ditinggalkan oleh seorang pria kemudian enggak laku-laku ....”
“Kamu yakin?”
“Ya, aku yakin,” jawab Anggun lugas.
Rose tersenyum simpul dan memeluk putrinya. “Apa pun itu Mami menghargai keputusanmu ....”
Anggun tersenyum kecut.
***
Akhirnya acara pernikahan dilaksanakan secara sederhana. Ijab qobul telah dilaksanakan. Anggun mengenakan kebaya putih dan Dimas mengenakan kemeja putih. Semua ini sudah dipersiapkan oleh Daniel.
Bahkan Maminya seperti dipengaruhi olehnya, pikir Anggun.
Kenapa Daniel melakukannya? Dia seperti takut pada Dimas ... Ada apa dengan Daniel? tanyanya di dalam hati.
Beberapa kali Anggun melirik ke arah Dimas. Entah kenapa ia menjadi amat tertarik dengan semua tentangnya. Apa lagi sekelumit kehidupannya yang misterius. ‘Ada sesuatu antara Dimas dan Daniel,’ ucapnya di dalam hati sembari melirik ke arah Dimas dan kemudian melirik ke arah Daniel yang sejak tadi terlihat sumringah dengan senyuman lebar tak luput dari wajahnya.
Kepala Anggun dipenuhi tanya hingga ia tidak sadar Dimas sudah bersalaman dengan wali hakim yang telah mengucapkan bacaan ijab.
Lalu Dimas menjawab, mengucapkan kobul, “Saya terima nikahnya dan kawinnya Anggun Sekar Arum Sari binti Yudit Atmaja dengan mas kawinnya yang tersebut, tunai.”
“Bagaimana saksi?”
“Syah!”
“Syah!”
“Syah!” Pak Sukri yang menjadi saksi dan dua orang pria berkumis tipis berusia empat puluh lima tahun yang dibawa oleh penghulu menyahut dengan lantang. Lalu semuanya mengandahkan tangannya, “Alhamdulillah amiiiin ....”
Anggun merasakan waktu bergulir begitu cepat. Lalu tangan Dimas terulur ke arahnya.
Anggun tertegun. Menatap punggung tangan Dimas yang menggantung di depan mukanya. “Kamu tidak mau mencium tanganku? Aku suamimu sekarang.”
Bibir Anggun sedikit terbuka. “Apa ...?” Seolah dia masih termenung, belum sadar betul.
Semua orang menatap Anggun dan Dimas.
“Kita sudah suami istri sekarang,” jawab Dimas memperjelas sembari tersenyum simpul penuh arti.
Penghulu dan wali hakim yang menikahkan saling bertatapan. Sang mempelai wanita seperti kebingungan.
“Anggun,” pekik Dimas lirih dan tertahan. Sepasang matanya mendelik, terkesan menegur.
Anggun baru sadar dan ia segera meraih tangan Dimas dan mencium punggung telapak tangannya. Lalu Dimas mengecup kening Anggun. Mereka sudah terlihat pasutri yang baru saja menikah. Pasangan pengantin baru yang bahagia.
Semua orang yang berada di dalam ruang keluarga bertepuk tangan. Suara riuh menyelamati.
Anggun tersenyum simpul. Netranya memandang Rose yang sedang menyeka air mata yang mengalir perlahan karena terharu. Daniel merangkul dan mengusap bahu Rose. ‘Mungkin dengan menikah, Mami tidak perlu berlebihan mengaturku dan mencemaskan aku. Lalu dengan menikah pula ... aku tidak terlihat menyedihkan karena selalu patah hati. Daniel, pria yang aku cintai ... yang tidak pernah bisa kugapai karena dia mencintai Mamiku,’ ucapnya di dalam hati.
Satu sentuhan tangan menggenggam telapak tangannya. Anggun memandang ke arah sisi, dilihatnya Dimas menggenggam tangannya erat. Wajah Dimas terhias senyuman yang tak pudar, memamerkan pada Daniel dan Rose. Seolah menunjukkan jika dia dan dirinya bahagia.
Ini adalah hari pernikahanku ....