“Huahhhhhhhhh……..” Adeline menguap terbangun dari tidurnya. Rasanya tidur tak nikmat setelah khayalannya semalam. Baginya menjadi uring-uringannya dan malah membuatnya sakit kepala.
Langsung saja ia masuk ke kamar mandi, membersihkan diri dan bersiap ke kantor. Hari ini ia sengaja memakai setelan yang sedikit formal karena akan bertemu dengan client untuk membahas tentang launching produk terbaru.
Adeline memakai blouse putih berbahan shiffon warna putih ditambah blazer warna coklat, celana palazzo putih membuat tampilannya menjadi wanita yang tenang, manis, dan memancarkan aura berbeda. Heels nude mempercantik bentuk tubuhnya. Make up natural dengan liptik nude dan bush on peach membuatnya tampak lebih muda dari umurnya.
“How beautiful you’re, Baby” Ucap Adel mengagumi dirinya sendiri.
Adel menuruni tangga menuju ruang makan, disana ia bertemu kembali dengan kedua orang tuanya. Keluarga kecil ini selalu menyempatkan sarapan bersama untuk memulai hari mereka.
“Morming, Mom, Dad.” Adeline menyapa orang tuanya dan mulai mengambil sandwich dan s**u buatan ibunya.
“Morning, Sweety.” Ayahnya menyaut. “Jadi hari ini Tiara dan Tommy tunangan? Lalu kau datang dengan siapa?”
“iya, Dad. Makanya hari ini aku handle sendiri meetingnya. Jadi aku sekalian bawa baju ganti.” Jawab Adel.
“Adel datang dengan Junno. Dia kenalannya Tommy.”
“Del, jangan terlalu dekat dengannya. Jodohmu jadi jauh.” Ibunya berkata tanpa melihatnya sama sekali. Mungkin beliau masih kesal karena kejadian semalam.
Ck. Adel berdecik menunjukkan kekesalannya pada ibunya. Mengapa beliau berkata begitu padahal mereka sudah kenal sejak Adel dan Junno masuk kuliah pertama.
“Mom, Please. Dia sahabat terbaikku mom. Mommy kan kenal sifatnya Junno!” Nafsu makan Adel mulai turun karena kesal dengan kelakuan ibunya.
“Mana ada pria mendekatimu kalau kau terus saja berdua dengannya. Mereka pasti mengira kau dan dia ada hubungan special.”Nada bicara ibunya mulai tak karuan.
“Baguslah Adel tak perlu diganggu pria tak jelas asal-usulnya.” Ledek Adel.
“Hyaa” ibunya tersentak mengeluarkan nada tinggi, mengejutkan Adel dan Ayahnya.
“Mom, sudahlah. Siapa tau memang Junno berjodoh dengan Adel. Hanya perlu waktu mengenali.” Kata Ayahnya menenangkan.
“Nai (tidak). Junno itu lelaki yang pasrah, nurut saja dengan Adel. Mommy ilfeel sama lelaki yang tunduk sama wanita. Harusnya dia bisa yang melindungi wanita, bukan hanya lempeng saja seperti itu.” Ibunya mulai menunjukkan ketidaksukaannya dengan sahabat anaknya itu.
Adel malas sekali memulai harinya dengan rebut hal yang tak penting sama sekali menurutnya.
“Stop, Mom, Dad. Aku berangkat dulu. Perdebatan ini tak akan selesai sampai aku berjodoh dengan mafia berdarah dingin. Aku berangkat” Ucap Adel.
Adel mengucapkan itu taka da maksud apapun. Hanya menunjukkan kalau perdebatan ini tak aka nada ujungnya dan akan terus terjadi karna ia tak mungkin menikahi mafia berdarah dingin. Mengenal mafia atau masuk club pun ia enggan, apalagi menikahinya. Membuat bulu kuduk Adel bergidik.
*08.00 Pagi. Kantor Adel.
“Materi untuk meeting hari ini sudah siap bos, akan saya tunjukkan sekarang juga.” Kata Adel kepada atasannya itu, Mr. Park, Jimmy Park tepatnya.
“tidak perlu, Del. Siapakan saja langsung di ruang meeting. Mungkin sebentar lagi Mr. Colline dan team akan sampai.” Ucap Mr. Park.
CEOnya ini masih termasuk muda, berumur sekitar kepala tiga namun belum juga memiliki pasangan. Eits, tapi tak terjadi apapun antara Adel dan Mr. Park. Gossip yang beredar bahwa beliau tidak menyukai wanita. Entah benar atau tidak, buktinya ia pun tak tertarik dengan kecantikan bahwannya. Begitu juga Adel tak suka terlibat skandal percintaan di tempat kerja. Itu akan merepotkan karirnya.
*08.00 Pagi. Kantor Rainold.
“Anda yakin akan mengambil kerjasama ini, bos. Sepertinya ini berbeda dengan konsep awal perusahaan kita.” Kata salah satu teamnya.
“Maka samakan.” Ucap Rain sambil berjalan menyusuri lobby menuju ke mobil yang sudah siap akan membawanya ke meeting.
“T..ta..tapi bos.” Jawab karyawan tersebut yang malah membuat Rain berbalik dan memandanginya dengan tajam.
“Mau mati?” ucap Rain dengan mata yang tajam, senyum menyungging disalah satu ujung bibirnya. Terlihat sangat buas dan menakutkan.
“T…tidak bos. Akan saya handle langsung eventnya.” Karyawan itu menjawab ketakutan menunduk diikuti semua teamnya yang merasakan ketakutan.
“Great… laporkan pada saya detail setiap acara. Progress hariannya, bahkan laporkan siapa saja karyawan mereka yang menghandle ini bersama kalian. Jangan ada yang jatuh cinta pada mereka, atau kalian akan……” Ucap Rain dengan nada sedikit mengancam.
Team event Rain benar-benar dibuat ketakutan setengah mati olehnya. Pasalnya tak hanya masalah pemecatan, namun berimbas pula ke hal-hal lain di hidup mereka yang tak bisa dinalar dengan logika mereka. Seluruh karyawan tau karakter Rain dan seberapa bahayanya bekerja dengan pria itu. Namun gaji yang ia berikan sungguh fantastis sehingga mereka tetap bertahan dengan sikap CEOnya itu.
Mereka pun tak habis pikir kenapa bosnya itu mau mengambil event di perusahaan kosmetik padahal itu jauh berbeda dengan dengan event yang diambil oleh perusahaan humasnya itu. Rain sempat menjelaskan bahwa itu karena mereka harus berkembang dan bisa tersedia untuk semua perusahaan dan mengembangkan bisnis dibidang ini.
09.00 Kantor New York Cosmetics. Tempat kerja Adel.
Mr. Park dan tim Marketingnya sudah bersiap diri diruang meeting. Menyiapkan segala kebutuhan meeting kecuali Tiara. Itupun karena ia persiapan tunangan yang akan diselenggarakan nanti malam. Mereka sibuk dengan file-file yang akan mereka bahas satu persatu, makanan ringan dan minuman pun sudah disiapkan oleh office boy dikantor.
Adel mengecek kembali persiapan mereka bahkan sampai makanan dan minuman. Mengecek ke resepsionis untuk menanyakan kedatangan koleganya itu. Sepertinya belum ada tanda mereka akan muncul. Sebentar lagi mungkin.
“belum sampai bos.”ucap Adel ke Mr. Park.
Maklum ini pertama kalinya mereka akan menjalin kerjasama dengan perusahaan humas ternama. Mereka tak mau kehilangan kesempatan emas ini.
“Pak, saya ijin ke toilet dulu. Sebentar saja.” Ucap Adel ke Mr.Park.
Tiba-tiba perutnya mulas sekali. Mungkin akan datang bulan.
“Ini buka waktu yang tepat untuk datang nak, aku sudah dandan cantik tapi kau malah ingin merusak mood pagiku.” Gumamnya menuju ke toilet.
Sementara Rain dan timnya sudah menunjukkan tanda kedatangannya dengan mobil mewahnya yang telah berhenti tepat didepan kantor diikuti mobil yang lain berisi tim dan bodyguardnya.
Langsung saja resepsionis memberi kabar ke lantai 14, meeting room agar mereka bersiap disana. Sementara dilobby kantor sudah ada karyawan yang menyambut kedatangan Rain dan Timnya, lalu menuntun mereka memasuki lift khusus direksi dan menekan lantai 14.
Rain tak sabar memberikan kejutan pada pujaan hatinya. Ia yakin wanitanya akan menghindar namun ia tak bisa. Mau tak mau gadis itu harus menatapnya dan berdamai dengannya.
Seperti itulah Rain, suka memaksakan keinginannya bahkan jika orang lain tak mau ia akan memaksanya untuk mau. Ia tau cara lembut tak bisa membuat Adel mendekat sebab wanita itu sangat berpendirian dan tak suka diatur. Sedangkan Rain sangat tertantang untuk menjinakkan bunga liarnya itu. Maka caranya harus dipaksa. Bahkan tak masalah jika harus sedikit menyakiti Adel.
“Silahkan Tuan. Ini ruang meetingnya dan di dalam Mr. Park dan tim sudah menunggu.”ucap pegawai yang mengantarkan Rain.
“Trimakasih.” Ujar Rain ke pegawai itu.
Pegawai itu tersenyum dan menunduk tanda pamit undur diri dari hadapan mereka.
Kedatangan mereka disambut baik oleh Mr. Park dengan obrolan basa basi di awal percakapan dan selanjutnya mempersilahkan masuk ke ruang meeting. Mr.Park mempersilahkan Rain dan timnya duduk ditempat yang sudah tersedia dan menikmati cemilan dan minuman kecil yang sudah disediakan sebelum memulai obrolan tentang pekerjaan. Sambil membaca materi event yang akan mereka kerjakan, Rain dan timnya menikamti cemilan itu.
Rasanya ada yang janggal dari pertemuan ini. Rain tak menemukan bunganya, Adeline Florensia. Padahal ia rela iku meeting hanya untuk bertemu dengan sang pujaan hati, namun ia malah tak bertemu dengannya.
“Permisi Mr.Park. Aku membaca anggotamu dan sepertinya belum lengkap. Apa mereka tidak ingin menyambut timku pak?” kata Rain dengan sangat serius menatap langsung ke arah Mr.Park.
“Ahh.. sebelumnya saya minta maaf tuan. Salah satu tim kami hari ini akan melangsungkan pertunangan jadi dia mengambil cuti. Satu lagi tadi sudah hadir namun tiba-tiba tadi pingsan dikamar mandi dan kami larikan ke rumah sakit. Sekarng mungkin sedang ditangani dokter jadi kami belum tau perkembangannya” Penjelasan Mr.Park dengan sangat tenang.
Rain masih mencerna ucapan koleganya itu. Adel masuk kategori mana? Tidak mungkin Adel bertunangan dengan pria lain. Ia bisa gila kalau benar Adel mencintai pria lain. Ia pasti akan membunuh pria itu secara keji. Hanya Rain yang boleh menyentuh wanita itu.
“Siapa yang sakit? Siapa yang bertunangan?” Rain mengernyitkan dahinya. Penasaran dengan jawaban Mr. Park.
“Adeline sakit. Tadi tiba-tiba ia pingsan dikamar mandi beberapa menit sebelum anda tiba pak.” Jawab Mr. Park.
“Dan yang bertunangan……..” Mr. Park menjelaskan panjang lebar kepada Rain namun pikiran Rain sudah kemana-mana.
Adeline pingsan. Dia sakit. Rain tak tenang sama sekali memikirkan apa yang terjadi dengan Adel. Setau Rain, wanitanya itu tak memiliki riwayat sakit keras. Lalu apa yang sebenarnya terjadi? Ya. Rain memiliki seluruh informasi tentang Adeline. Bahkan riwayat kesehatan orang tua Adel pun tau. Rain menyelidiki Adel seditail mungkin agar ia menemukan celah masuk kembali ke hidup wanita idamnnya itu.
Siapkan mobil. Aku akan pergi sekarang juga. Pesan dari Rain tertuju pada B-one.
Ia harus segera mengetahui tentang kesehatan Adel.