Maria menatap bahagia putra tunggalnya yang sebentar lagi akan resmi menikah. Akhirnya penantiannya memiliki menantu terwujud, meskipun dulu ia sempat setuju saja jika anaknya hanya mengadopsi anak sebagai penerus kelak. Namun, dalam hati kecilnya lebih bahagia jika penerus keluarga Colline adalah darah daging dari anaknya sendiri. “Kau tampan sayang.” Maria memandangi Rain yang sedang berkaca dicermin memakai tuksedo putih lengkap dengan dasi kupu-kupu. “Thanks mom.” Rain masih berusaha merapikan pakaiannya yang sekarang dibantu ibunya. “Hmmm.. Apa kau tidak terlalu keras pada calon istrimu, nak. Mama sedikit kasian melihatnya seperti itu.” “Tenanglah ma. Ini tak seperti yang terlihat, dia hanya berlebihan dengan emosinya. Lambat laun pasti dia akan bisa memahami.” “Baiklah. Mama aka

