Dua Belas

995 Kata

Arsen berharap-harap cemas di meja makan. Tangannya mengetuk meja dengan gelisah. Ia mengantuk, tentu saja. Bagaimana tidak? Setelah kejadian semalam, dirinya tak dapat tertidur lagi. Panik dengan pikirannya yang kalut. Ia melirik jam dinding yang menggantung. Sudah pukul enam seperempat, tapi kenapa adiknya belum memunculkan batang hidungnya? Arsen menggigit pipi bagian dalamnya pelan, merasa ragu untuk menghampiri Mio atau tidak. Pasalnya waktu terus berjalan, mereka bisa-bisa terlambat ke sekolah tanpa sarapan jika tak memulai sarapannya sekarang juga. Berusaha mengabaikan pikiran berdosanya akan semalam, Arsen pun segera beranjak dan membuka pintu kamarnya pelan. Mengintip terlebih dahulu dengan menyembulkan kepalanya dari luar kamar. "Mio?" panggilnya. Ia menatap heran Mio yang te

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN