Pagi itu Nala lebih dulu mengurus Tiara lebih dahulu sebelum mengurus Akhtar yang banyak maunya itu, menjadi istri selama sebulan ini membuat Nala tahu, bahwa seorang Akhtar yang biasanya bersikap dingin, tak tersentuh dan juga sedatar papan triplek itu juga memiliki sifat manja tak mau kalah dengan anaknya, kadang Nala harus lebih menyabarkan diri menghadapi Akhtar yang permintaannya kadang membuatnya harus lebih banyak menghela nafas dan menahan kesal.
“Bunda, semalam Ayah ikut tidur sama kita ya.” Tiara bertanya
“Iya, pengen tidur sama Tiara, kenapa Sayang?”
“Tiala nggak mau tidul sama Ayah lagi, Ayah galak Bunda.” Eluh Tiara pada Nala
“Enggak, Ayah nggak galak—ayah cuman mau tegas sama Tiara, jadi Tiara harus nurut ya, kan dulu sebelum ada Bunda Tiara sama Ayah kan, apa-apa sama Ayah, nggak boleh gitu ya, Nak.” Nala memberi pengertian pada Tiara “Tiara dengar Bunda?”
“Iya Bunda, Tiala ngalti. Jadi Tiala halus maafin Ayah ya.”
“Iya, dong cantik—udah yuk mandinya, keburu Ayah bangun.” Tiara mengangguk
Dengan telaten Nala mendandani Tiara dengan begitu rapi, sebelum mengajak Tiara untuk membangunkan Akhtar untuk bangun, meskipun hari ini weekand Nala sudah mengatur dengan peratur barunya sebagai istri, tetap bangun pagi pada hari weekand. Meskipun nantinya kegiatan mereka tetap di rumah ia menegakkan kedisiplinan bahkan Akhtar tak begitu mempermasalahkan.
“Yuk, bangunin Ayah.” Ajak Nala dengan menggandeng tangan Tiara
“Nanti Ayah ndak malah lagi kan, Bun.”
“Enggak, Ayah udah baik, Ra.”
Tiara membuka pintu connecting door mendahulukan Tiara agar masuk lebih dulu, Tiara memandang ragu Nala dan Nala hanya menganggukan kepala menyakin putri sambungnya itu bahwa Akhtar sudah tidak marah-marah pada Tiara. Yang sebenarnya adalah Akhtar memang tak ingin berlaku tegas pada Tiara namun putri mungilnya itu akhir-akhir—semenjak Nala berada di rumah mereka, Tiara berperilaku manja dan lebih membutuhkan Nala padahal dulu Tiara adalah gadis yang menurut.
Nala menaikkan Tiara ke atas kasur, Tiara masih menatap ragu pada sang Bunda, namun Nala masih menyuruh Tiara untuk membangunkan sang Ayah yang masih memejamkan mata. Tiara mendekat ke arah Akhtar itu.
“Ayah.” Panggil lirih Tiara
“Yang kenceng, Ra. Ayah nggak akan bangun kamu panggil lirih gitu.” Ujar Nala
“Ayah—bangun, ayo.” Tiara berteriak di dekat pipi Akhtar
Akhtar yang memang sudah bangun namun kembali berpura-pura tidur itu sengaja mengerjai sang putrinya itu, sebenarnya Akhtar sudah tidak marah kepada Tiara hanya bersikap tegas pada Tiara yang biasanya sudah bisa mandiri.
“Coba di cium pipi, Ayahnya, Ra.” Pinta Nala
“Boleh?”
“Boleh dong, nanti Ayahnya cepet bangun.” Tiara menuruti apa yang Nala katakan
Cup
Akhtar langsung memperangkap Tiara pada pelukannya, membuat Tiara berteriak keras, meminta tolong sang Bunda untuk di lepaskan dari sang ayah yang juga kembali menghujani ciuman-ciuman gemas pada pipi gembul Tiara.
“Bunda—tolong, Ala Bunda.” Teriak Tiara yang ingin melepaskan diri dari Akhtar
“Udah, main sama Ayah dulu ya. Bunda mau nyiapin baju buat Ayah.” Nala memilih memberikan waktu untuk anak dan ayah itu
¤¤¤
Nala meninggalkan anak dan ayah itu dan memilih keluar dari kamar setelah menyiapkan kebutuhan suaminya itu, setelahnya ia membantu sang mertua untuk menyiapkan menu sarapan di weekand pagi nan cerah ini. Bahkan Nala sudah sangat luwes memasak, masakan kedua orang spesialnya itu.
Mengingat kata spesial, Nala benar-benar sudah menerima dengan lapang pernikahannya dengan Akhtar dan keduanya memang spesial untuk Nala—sama-sama memiliki sifat bertolak belakang yang satu penuh hangat dan satu lagi seperti papan triplek namun dengan gengsi segudang, kadang Nala bingung dengan keinginan Akhtar yang unik, contohnya saja kopi hitam yang harus di campur dengan garam kata Akhtar kala itu cita rasanya makin kuat kalo di tambah garam. Nala yang enggan ribut membantah lebih naik mengikuti keinginan Akhtar.
Kalo Nala boleh memilih, Nala inginnya mengurus putrinya saja yang lebih mudah dan menurut itu, tapi bila ia meninginkan Tiara ia juga harus menerima sang Ayahnya bukan—satu paket.
“La, mau masak apa?” Tanya sang Razita yang baru saja memasuki dapur
“Pagi-pagi gini enaknya nasi goreng sih, Ma—atau mau bikin soup aja?” Tanya Nala sembari melihat isi kulkas
“Papa nggak suka yang garingan, La.?”
“Aku buatin soup sama nasi goreng apa ya, Ma. Nanti lauknya nugget tadi malam kita buat sama ikan goreng, gimana?”
“Boleh deh, yaudah ayo masak dulu.”
Ini yang Nala suka dari keluarga suaminya, Mama mertuanya tak malu dan tak segan bersahabat dengan dapur, malah Razita yang lebih banyak memasak di dapur meski memiliki pembantu. Karena Papa mertuanya lebih suka makan masakan sang Mama mertua.
“Kamu sering masak sendiri di rumah dulu, La.” Tanya sang Mama di sela Nala sedang membersihkan ikan dengan telaten
“Sering, Ma. Bantu Mbok Atmi—Nala juga suka masak bereksperimen sih Ma, hehehe.” Ringis Nala
“Bisa bikin roti nggak?” Tanya Razita yang sedang mengaduk kuah soup
“Bisa sih, Ma, cuman nggak pro banget.”
“Nanti siang kita bikin kue spons keju yuk.”
“Eh—ayo Ma, udah ada bahannya?”
“Belum, Nanti kita belanja dulu ya.” Razita mengajak Nala berbelanja sekalian membeli kebutuhan yang menipis
Kemudian Nala dan Razita sudah kembali fokus pada kegiatan mereka masing-masing, sebelum sang suami alias mertua Nala kembali pulang setelah berjogging pagi sarapan sudah harus sudah siap di atas meja makan.
“La?” Panggil Razita
“Udah ada tanda-tanda, belum?”
“Hah? Tanda-tanda apa Ma?” Tanya Nala bingung
“Kamu udah isi belum?”
“Isi angin iya sih Ma—hehehe.” Ringis Nala menjawab pertanyaan mertua
“Oh berarti belum ya, La?” Tanya Razita lagi
“Belum Ma, kebetulan ini Nala lagi halangan juga, doain aja ya Ma cepet isi.” Nala berharap
“Aminn, kalian juga harus sama-sama berusaha juga.”
“Pasti, Ma—aku bawa ini dulu ya, Ma.”
“Iya, sekalian Mama juga mau mandi dulu.”
“Iya, Ma.”
¤¤¤
Nala menghembuskan nafas leganya, ini yang Nala takutkan pertanyaan-pertanyaan kapan ia akan isi, mau isi bagaimana partner yang bikin Nala mengembang saja masih diam saja alias tidak ada itikat menunjukkan ingin mempunyai keturunan lagi. Bahkan Nala sudah mengikhlaskan diri untuk menyerahkan dirinya kepada Akhtar.
Memang intensitas keintiman Akhtar dan Nala mulai terbangun namun hanya sebatas saling menyentuh dan berciuman sesudah itu Akhtar akan menarik diri. Mungkin bagi Nala Akhtar memang belum bisa membuka hatinya harus membutuhkan proses. Nala cukup menghormati itu.
Nala berdecak kesal, pasalnya anak dan suaminya masih setia bergelung manja di kasur besar itu bahkan kunciran Tiara sudah kembali rusak, ia yakin pasti Akhtar dan Tiara bermain glitik-glitikan yang mengakibatkan kunciran cantiknya hancur.
“Kenapa belum mandi?” Tanya Nala ketika masuk ke dalam kamar
“weekand ini.”
“Terus kalo nggak weekand nggak mandi? Mandi cepet Mas terus kita sarapan bareng.” Nala menyuruh Akhtar
“Bunda bawel ya, Ra.” Dan gadis kecil itu hanya mengangguk mantap dengan netra yang menatap asik layar tv
“Ck, yaudah aku yang mandi dulu—abis aku selesai Mas yang mandi.”
“Hmm.” Akhtar hanya berdeham
Nala memilih shower kali ini, agar cepat selesai dan menyiapkan makan untuk Tiara, namun saat Nala sedang asik menyabuni tubuhnya ia merasa tangan melingkar tepat di pinggangnya membuatnya sontak berbalik dan melihat siapa gerangan yang merangkulnya.
“Mas—“
“Mandii, jangan bawel.” Ujar Akhtar yang kini juga sama-sama basah sedangkan Nala tidak berani melihat sang suami
“Mas, nanti ke rumah Ayah ya—kemarin Ayah minta di bawain bakpao.”
“Hmmm.” Nala memutar bola matanya kesal
Selesai makan pagi itu Nala meminta ijin pada Razita bahwa ia ada janji sebentar dengan Ayahnya maka Nala yang akan berbelanja kebutuhan mereka dan kebutuhan membuat kue, Razita mengiyakan ia malah bisa menyiapkan yang lain sembari menunggu Nala pulang.
Nala menenteng kotak bekal untuk Tiara yang sedang rewel makan, maka ia membawa 3 lapis roti tawar dengan 3 varian rasa dan satu wadah isi nasi goreng.
“Ayo, Nak makan dulu.” Ajak Nala pada Tiara
“Ngga mau Bunda—lidah Tiala saliawan.” Adu gadis mungil itu
“Iya nanti beli obat dulu tapi harus makan dulu ya—mau nasi goreng?” Bujuk Nala lagi Tiara masih menggeleng enggan
“Makan Tiara.” Pinta Akhtar dengan suara tegas
“Bunda—“
“Makanya ayo makan, nanti Ayah marah lho—ya kan Ayah.” Akhtar yang sedang fokus hanya mengangguk
“Sakit bunda.” Rengek Tiara
“Makannya di sebelah kanan, Nak, ayo—aaaakk buka.” Tiara masih enggan membuka “Ya sudah, buat Ayah aja—ayo Yah, buka mulutnya.” Nala malah menyuapkan roti ke pada Akhtar
Akhtar memandang ke arah Nala dan seakan mengerti kode Nala, tanpa sungkan Akhtar membuka mulutnya dan menggigit roti di tangan Nala
“Tuh, Ayah mau, ayo akhh buka mulutnya.”
Dengan ragu Tiara membuka mulutnya dan mengigit kecil rotinya dengan pelan ia mengunyah seakan takut bila lidahnya akan hancur. Sedangkan Akhtar melirik pada Nala ia ingin di suapi lagi namun gengsi lebih mendasar, saat Nala menoleh ke arah Akhtar laki-laki itu kembali memofokuskan pandangannya. Nala seakan tahu kode Akhtar ia mengambil lapis roti baru dan kembali menyuapkan pada Akhtar, awalnya ragu namun akhirnya Akhtar menggigit rotinya.
“Enak kan,” Celoteh Nala dan di balas dengan dua anggukan Tiara dan Akhtar
“Terima kasih.” Ujar Akhtar lirih dengan senyuman singkatnya namun mampu membuat Nala berdetum jantungnya.
¤¤¤