Ungkapan Raka yang tiba membuat Ara tersedak. Apa Raka sedang mabuk? Tapi sepertinya pria itu tidak sedang mabuk. “Aku cinta sama kamu, Ra. Kembali ke rumah. Aku butuh kamu. Butuh istri aku,” ucap Raka lirih. “Kamu bohong,” balas Ara. Raka mengambil satu tangan Ara, ia meletakkannya pada d**a Raka yang bergemuruh. “Apa ini belum bisa dibuat sebagai bukti, Ra?” tanya Raka. Ara menunduk. Ia menggeleng dan melepas tangannya. “Aku masih ragu. Kamu bilang kamu cinta sama aku, Kak. Tapi perilaku kamu ke aku nggak menunjukkan hal itu. Semuanya terasa bohong buat aku.” “Enggak, nggak bohong. Aku beneran cinta sama kamu, Ayara prima. Sikap aku, semuanya karena aku cemburu.” “Terus kalau kamu cinta sama aku, kenapa kamu bisa ketemu sama Kak Fiona lagi?” “Come on, Ra. Kamu serius mau baha

