Nyatanya drama pernikahan mereka tidak selesai sampai sana saja. Pagi pagi Raka bangun lebih dulu. Pria itu tidak menyapa Ara seperti biasanya. Ia hanya bermain dengan Cleo. Membawa Cleo berjemur di balkon kamar seraya mengajaknya bicara. “Cleo, cantiknya Papa,” ucap Raka. Cleo menatap Raka dengan mata bulatnya. Bayi mungil berusia beberapa bulan itu sudah bisa tertawa menunjukkan gusinya yang belum ditumbuhi oleh gigi. “Kok bisa cantik banget, sih?” tanya Raka yang tidak bosan melayangkannya. Ia selalu memuji bayinya cantik. Setiap saat dan tidak pernah terlewat sehari pun. Ara baru selesai mandi. Wanita itu menghampiri Raka seraya bertanya, “Kak Raka mau aku buatin kopi?” tanya Ara. Tidak ada jawaban. Raka seolah tidak peduli dengan tawaran Ara. Ara mengerutkan keningnya, sek

