Part 1

1328 Kata
Lingerie berwarna ungu yang terpasang di manekin, meneriakkan kata seksi dan panas. Jemari Eyrin mengusap pinggang manekin itu hingga ujung lingerie di bagian paha atas. Lembut dan halus. Potongannya memperlihatkan jelas bagian tubuh manekin, hanya ada hiasan bunga yang menutupi bagian tengah p******a. Ia bisa membayangkan, lingerie itu akan menempel di tubuhnya dengan sangat pas. Memberinya kepercayaan diri dan cinta yang sangat besar. Seharusnya. Tapi, mengingat hubungan yang ia alami dengan suaminya, ia tidak yakin akan mendapatkan kedua hal itu. Entah apa yang salah dengan mata suaminya, -karena ia sangat yakin tubuhnya sama sekali tak bermasalah- sedikit pun suaminya tak pernah melirik tubuhnya apalagi menyentuh kulitnya. Mereka menikah sebulan yang lalu, tapi tak sekalipun pria batu, berdarah dingin, dan bermuka sedatar tembok itu memberinya kepuasan batin. Bukan karena ia merindukan sentuhan panas, tapi Eyrin sudah cukup merasa malu dengan segala pikiran yang meracuni kepalanya saat menatap tubuh suaminya yang super panas, super seksi, dan super ... mengkilap saat keluar dari kamar mandi. Membayangkan bagaimana panasnya ketika ia bergelut di ranjang, meski pikiran panasnya saat menatap tubuh kekar dan kokoh itu cukup membakar tubuhnya. Hanya saja, hal itu hanya keinginan sepihaknya. Hanya pikiran dan panas miliknya sendiri, yang tak berbalas. Begitu menyedihkan dan memilukannya. Bagaimana seorang wanita dewasa memiliki pikiran semesum ini dibandingkan suaminya yang seorang pria. “Apa kauingin membelinya?” Suara, bentuk tubuh, wajah, dan cara berjalan yang hampir sepenuhnya satu DNA dengan suami Eyrin, muncul dari arah samping. Eyrin mengerjap, menggeleng dan memalingkan wajah dari manekin dengan cepat. Bertanya pada sahabat sekaligus adik ipar merangkap tetangga dan pikiran warasnya.  “Apa kau sudah selesai?” Regar menunjukkan dua tas belanja dengan logo double G di tangan kanannya. “Oke, kita pulang.” Eyrin menggaet tangan kiri Regar dan menyeret pria itu ke luar butik. “Kau mungkin memerlukannya.” Regar berhenti. “Untuk apa?” “Untuk kehangatan rumah tanggamu … aww.” Satu jitakan mendarat di kepala Regar. “Apa kau mengejekku?!” Eyrin mendelik. Regar meringis sambil mengusap-usap ujung kepala dengan tangan kirinya. Eyrin boleh saja seorang wanita jika dilihat dari fisik yang dimiliki wanita itu, tapi Regar yakin ada jiwa laki-laki yang terperangkap di dalam tubuh wanita itu. “Kenapa?” “Aku benci melihatmu!” sembur Eyrin melihat wajah Regar lalu berpaling dan berjalan keluar butik menuju mobil mereka terparkir. “Kenapa?” Regar mengekor di belakang Sesil. Membuka pintu mobil dan duduk di balik kemudi sambil melemparkan kantung ke jok belakang. “Karena wajahmu sangat mirip dengan Edgar.” Regar mengangguk dengan lugu. “Dia saudaraku.  Lahir dari pabrik yang sama.” Eyrin menggeram. Seandainya saja memukul wajah Regar mampu membuat kekesalannya pada Edgar lenyap. “Aku sudah berbaik hati menerima ajakanmu bolos kerja hanya untuk mendengar racauan rumah tanggamu yang dibangun di kutub utara. Aku memberikan sedikit usulan untuk membantu masalahmu dengan Edgar.” “Aku sedang tidak ingin membicarakannya. Memikirkannya membuatku merasa menjadi istri yang buruk,” gumam Eyrin lirih. Regar pun memberikan apa yang Eyrin ingin dan mulai menyalakan mesin mobil. Nyatanya, keterdiaman mereka tak membuat Eyrin berhenti memikirkan Edgar. Memikirkan rumah tangga mereka yang sedingin es di kutub. Di mana pun kau melihat dan merasakan, hanya rasa dingin yang bisa kaudapatkan. Bahkan hembusan anginnya saja bisa membuatnya mati membeku. Ingatannya melayang, melintas gambaran makan malam keluarga yang membuatnya dan Edgar harus berakhir dalam ikatan rumah kutub tanpa penolakan. “Apakah kalian tahu alasan kami mengumpulkan kalian semua pada malam ini?” Sonia, wanita yang masih terlihat cantik dan mempesona di usianya yang hampir menginjak empat puluh lima tahun itu berdiri. Memandang bergantian suami, putri semata wayang, sahabatnya serta suami dan kedua anak laki-laki yang sudah dianggap anaknya sendiri. “Ma, kita sudah terlalu lapar hanya untuk mendengarkan cerita tentang persahabatan Mama dan Tante Lely.” Eyrin mulai merengek. Menatap iga bakar yang ada di hadapannya dengan air liur yang hampir menetes di sudut mulut. “Ya, kami bahkan hafal setiap kata yang akan Tante ucapkan,” timpal Regar. Menjilat bibirnya dengan menu makan spesial malam ini yang kesemuanya adalah makanan favoritnya dengan Eyrin. “Regar!” Lely Arsafarich memperingatkan putra bungsunya yang duduk di samping Eyrin. “Kami benar-benar kelaparan, Ma. Kami baru pulang dari kantor mengerjakan ….” “Lebih cepat lagi jika kau mendengarkan Tante Sonia sampai selesai,” tegas Lely. Regar mengangguk patuh, kembali mengamati dan menghirup aroma iga bakar yang diletakkan di antaranya dan Eyrin. “Ya, kalian sudah tahu tentang persahabatan kami, bukan?” Sonia memulai lagi. Menarik lengan Lely untuk berdiri di sampingnya. Saling bertatapan dengan senyum yang lebarnya hampir memenuhi wajah kedua wanita paruh baya itu. Lalu, keduanya saling mengangguk dan berucap bersamaan.“Kami memutuskan untuk lebih mempererat persahabatan kami dengan pernikahan.” “Bagus, siapa yang akan menikah?” Regar mengangguk setuju apa pun itu yang keluar dari mulut mama dan mamanya Eyrin. Agar semuanya cepat selesai dan ia segera menuntaskan isi piring. Lalu, saat kalimat itu teresapi dengan benar di otaknya, ia mendongak dengan cepat. Keheningan membentang tapi ekspresi kedua wanita paruh baya yang masih berdiri di sana nampak mengartikan keheningan itu dengan cara yang berbeda. “Apa maksud Mama?” “Kami akan menikahkan putra dan putri kami.” “Putri tante Sonia hanya Eyrin.” Regar mengingatkan sambil menggoyang bahu Eyrin yang mematung. “Dan putra tante hanya Regar dan Edgar,” imbuh Eyrin menyambung Regar. Hubungannya dengan Regar tak pernah terbayangkan akan seperti masa depan di pikiran Mamanya dan Mama Regar. “Ma, aku menganggap Eyrin hanya ….” “Saudara kembarmu?” Lely memotong dan mengangguk. “Mama tahu.” “Lagi pula, kau masih terlalu muda untuk menjadi seorang suami, Regar. Kalian berdua sangat cocok bersama-sama, tapi bukan sebagai pasangan suami istri.” “Lalu?” Eyrin berjengit. Tak berani melirik ke samping kirinya. Tiba-tiba saja bulu di sekujur tubuhnya berdiri. Jika bukan Regar, lalu ... Eyrin tak berani mengucapkan nama itu meskipun hanya dalam hati saja. Tidak! Tidak mungkin, bukan? “Bukankah Edgar dan Eyrin terlihat manis jika bersama-sama?” putus Lely dan Sonia bersamaan. Yang diiyakan oleh sang suami. Eyrin masih ingat, setelah malam itu mamanya dan tante Lely sibuk dengan segala macam pernak-pernik pernikahan. Gaun pengantin, gedung, catering, kartu undangan. Bahkan ia lupa alasan apa yang membuatnya berdiri di samping Edgar satu bulan kemudian dengan mengenakan gaun pengantin yang sangat indah. Setelah malam pernikahan mereka, ia mulai tinggal di rumah Regar yang ada di depan rumahnya. Tidur di kamar Edgar. Keduanya hidup dalam satu ruangan tapi seolah kehidupan mereka tak pernah terpaut di dunia yang sama. Edgar sama sekali tak pernah menyentuh kulitnya dan selalu mencoba membuang pandang darinya. Jika sebelumnya Edgar selalu bersikap dingin layaknya es, setelah pernikahan mereka, Edgar menjadi lebih dingin dan menganggap keberadaannya seperti kuman yang harus dibersihkan setiap kali ia menyentuh kotoran. Kemudian, jika mereka sedang berada di hadapan keluarga, Edgar memperlakukannya tak lebih dingin maupun lebih hangat seperti sebelum pernikahan mereka. Eyrin tak pernah tahu alasan di balik kepasrahan pria itu terhadap keputusan pernikahan yang diberikan para orang tua kepada mereka. Sekarang, ia juga tak akan tertarik untuk menanyakan hal itu pada Edgar. Mungkin, satu-satunya jalan untuk mengakhiri jeratan yang mencekik lehernya adalah berterus terang pada keluarga mereka. Bahwa pernikahan ini tak akan berhasil. “Kita sudah sampai,” beritahu Regar sambil mematikan mesin mobil. Kepalanya berputar dan keningnya berkerut menemukan Eyrin yang masih tenggelam dalam pikiran wanita itu. “Eyrin?” panggil Regar sambil memegang lengan sahabatnya dengan lembut. Eyrin tersentak dan menoleh. Matanya berputar menyadari mobil sudah berhenti dan terparkir di depan halaman rumah. “Kenapa … kenapa kita di rumah? Bukankah kita harus ke kantor lebih dulu?” “Edgar menyuruhku membawamu pulang. Kedua orang tuamu akan berkunjung nanti malam. Ia tidak mau melihatmu tertekan dengan wajah kusutmu.” Sesil mendengus. Berkunjung? Jika menoleh ke sebelah kanan saja ia sudah bisa melihat halaman rumahnya. “Ia bahkan lebih memperhatikan penampilanku di depan kedua orangtuaku daripada kesehatan mental dan hatiku. Sebelumnya ia tak peduli penampilanku saat acara makan malam seperti ini.”  Regar terkikik. “Itu sebelum kau menjadi istrinya. Sekarang ia harus memamerkan kebahagiaanmu.” Eyrin memutar mata bosan. Ia sudah bisa membayangkan, bagaimana ekspresi penuh rasa ingin tahu mamanya saat melontarkan pertanyaan tentang keadaan rumah tangga dan kehadiran kebahagiaan kecil di perutnya yang sudah diharapkan oleh merekalah yang membuat Eyrin tertekan. Bagaimana ia bisa hamil jika menyentuh kulitnya saja Edgar tak pernah. Pria itu langsung mengibaskan tangannya jika tanpa sengaja kulit mereka saling bersentuhan saat di kasur.   *** 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN