Episode 8: Es Krim Termahal

1075 Kata
Sella mengambil sesendok, menutup matanya sejenak, dan menghela napas panjang, menikmati sensasi dingin dan rasa manis gurih yang sudah lama ia rindukan. "Ini benar-benar surga," bisiknya. "Kau tahu, ada saat-saat di rumah Ayahku di mana satu-satunya hal yang membuatku merasa normal adalah hal-hal kecil seperti ini. Dunia kami sangat gelap, Liam. Kau adalah orang pertama yang membawakanku cahaya kecil ini." Liam berdiri diam, merasa tidak nyaman dengan pujian yang tulus itu. Ia selalu melihat dirinya sebagai bayangan, sebagai alat. Tidak ada yang pernah menganggapnya 'cahaya'. Pagi itu, udara di markas terasa dingin, diwarnai kekecewaan yang tak terucap. Dante telah memberikan perintah, dan di dunia mafia, perintah bos adalah mutlak. Mereka akan pindah ke Bunker. Sella tahu keputusan ini adalah akibat langsung dari satu sendok Es Krim Pistachio dan senyum yang ia bagikan dengan Liam. Dante tidak marah karena keamanan terancam. Dia marah karena kendali emosionalnya terancam. Ia merasa sanderanya, alat balas dendamnya, telah menemukan penghiburan di tempat lain. Liam datang ke kamar ‘tamu’ dengan wajah seperti batu. Ia menyerahkan sebuah tas travel kecil berisi pakaian baru. Matanya menghindari Sella. “Kita berangkat sepuluh menit lagi,” ujar Liam, suaranya terdengar kaku. “Liam,” panggil Sella lembut. Liam tidak menoleh. “Tidak ada pembicaraan, Nona Kasteline. Itu perintah tegas.” Sella menghela napas. Ia sudah memprediksi ini. Dante tidak hanya menghukum Sella, ia juga menghukum Liam atas 'kebebasan' yang diberikan. Sella merasa bersalah, tetapi juga puas. Ia telah membuktikan bahwa meskipun dikunci, ia masih memiliki kekuatan untuk mengubah dinamika di sekitar Dante. Sella berganti pakaian celana jins dan jaket kulit hitam yang terasa asing namun hangat. Sesaat sebelum keluar, ia berjalan ke meja, mengambil flash drive yang berisi rekaman audio kematian Marco, dan memasukkannya ke saku jaketnya. Ia belum siap mendengarkannya, tetapi membawanya terasa seperti tindakan simbolis. Ia membawa serta beban Dante. Perjalanan dimulai dalam mobil gelap antipeluru. Sella duduk di kursi belakang, tetapi kali ini, Dante duduk di sebelahnya. Liam mengemudi, dengan anak buah lain di mobil di depan dan belakang mereka. Keheningan di dalam mobil terasa mematikan. Mereka duduk begitu dekat hingga lengan Sella hampir menyentuh lengan Dante. Aroma maskulin Dante terasa kuat, bercampur bau kulit mahal dan ancaman yang samar. Selama dua jam pertama, Dante tidak mengucapkan sepatah kata pun. Ia hanya menatap ke luar jendela, rahangnya terkatup. Namun, Sella bisa merasakan tatapannya. Setiap beberapa menit, mata Dante akan meliriknya, menilai, mencari kerentanan. Sella memutuskan untuk tidak memberi Dante apa yang ia inginkan. Ia menyandarkan kepala ke jendela, berpura-pura tidur. Namun, ia tidak benar-benar tidur. Ia merasakan setiap guncangan mobil, dan setiap tarikan napas Dante. Setelah keheningan yang panjang, Dante akhirnya berbicara, suaranya rendah, hampir seperti geraman. “Kau sangat pandai berpura-pura, Sella,” katanya, tidak menoleh. Sella membuka matanya perlahan. “Aku tidak berpura-pura tidur, Dante. Aku hanya mencoba menghemat energi untuk siksaan berikutnya.” Dante memutar kepalanya, tatapan matanya menusuk. “Siksaan? Kau pikir aku membawa kemari untuk menyiksamu?” “Tentu,” balas Sella santai. “Kau merasa tidak nyaman dengan kebebasan kecil yang aku dapatkan, jadi kau membawaku ke tempat yang lebih terpencil. Itu adalah hukuman. Kau ingin mengembalikan keseimbangan, Dante. Kau ingin menunjukkan bahwa kau adalah bos, bukan pengasuh.” Dante tertawa sinis, suara yang lebih keras dari yang ia inginkan. “Kau selalu punya jawaban, bukan? Tidak ada kepatuhan total di kepalamu, hanya taktik. Kau merayu Liam dengan es krim, Sella. Mengapa? Apa yang kau inginkan darinya?” Sella menatapnya dengan pandangan tulus. “Aku tidak merayu Liam. Aku merindukan rasa Pistachio. Dan aku ingin melihat bahwa di dunia yang kotor ini, masih ada sedikit kebaikan acak. Liam memberikannya, dan kau menghukumnya. Itu memberitahuku bahwa kau tidak hanya takut pada kelemahan, kau takut pada kebaikan.” Kata-kata itu menghantam Dante tepat pada sasaran. Dia mengambil tangan Sella, menggenggam pergelangan tangannya erat-erat, tetapi tidak menyakiti. Itu adalah sentuhan posesif, bukan ancaman kekerasan. “Jangan mengajariku tentang kebaikan, Kasteline,” desis Dante. “Aku kehilangan semua itu saat aku mendengar suara kakakku meninggal. Satu-satunya hal yang tersisa dariku adalah dendam. Dan kau, kau adalah simbol paling murni dari dendam itu.” “Maka biarkan aku menjadi simbol. Tapi jangan paksa simbol itu berbohong,” ujar Sella, tidak menarik tangannya. Anehnya, sentuhan Dante yang dingin itu terasa lebih intim daripada yang seharusnya. “Kau menghukum Liam karena dia tersenyum. Kau tidak tahan melihat sanderamu bahagia, meskipun hanya sesaat. Itu yang membuatmu seperti ayahku.” Dante melepaskan pergelangan tangan Sella seolah-olah terbakar. “Cukup,” perintah Dante, kini ia menoleh ke depan, memelototi bagian belakang kepala Liam. Sella tersenyum tipis. Ia berhasil memenangkan ronde ini. Ia tidak perlu berteriak atau melawan; ia hanya perlu menggunakan kebenaran sebagai pedangnya. Setelah empat jam perjalanan, mobil-mobil Syndicate Alister memasuki sebuah hutan pinus yang sunyi, diapit oleh pegunungan yang tertutup kabut. Mereka tiba di sebuah bangunan beton masif yang hampir seluruhnya tersembunyi di bawah tanah. Ini adalah Bunker. Bukan gudang berkarat, melainkan benteng yang canggih dan tak terhindarkan. Bunker itu adalah pelarian Dante dari dunia mafia, tempat ia dapat merencanakan tanpa gangguan. Di dalamnya, terasa mewah dan minimalis. Dinding baja dipoles, lantai marmer abu-abu, dan segala sesuatu dikendalikan oleh sistem keamanan terpusat. Sella dibawa ke sebuah kamar yang lebih baik daripada kamar tamu di markas utama. Lebih besar, dengan jendela tipis yang menghadap ke hutan, dan kamar mandi marmer yang elegan. “Ini kamarmu. Kau tidak boleh keluar tanpa pengawalan,” perintah Dante, suaranya kembali ke nada bos yang dingin. Sella mengangguk. “Aku mengerti.” “Aku akan menemuimu malam ini. Dan kita akan bicara tentang Marco lagi. Kau akan memberi tahuku apa yang kau pelajari dari amplop itu.” “Baik,” jawab Sella. Dante berbalik, tetapi sebelum ia bisa melangkah keluar, Sella memanggilnya. “Dante.” Dante berhenti di ambang pintu, bersandar di kusen. Tatapannya kembali mengancam. “Apa lagi, Sella?” Sella berjalan ke kamar mandi, mengambil sabun batangan yang mewah, dan mengembalikannya kepada Dante. “Ini terlalu boros. Berikan aku sabun batangan biasa saja. Aku tidak layak mendapatkan kemewahan di tempat ini. Dan kau tidak boleh menghabiskan uang untuk sandera.” Dante menatap sabun di tangan Sella, lalu menatap Sella. Ia frustrasi dengan kepatuhan Sella. Ia menyiapkan kemewahan itu untuk menunjukkan kekuasaannya, tetapi Sella menolaknya. “Simpan saja, Sella,” desis Dante. “Aku punya banyak. Anggap saja itu kompensasi untuk ketidaknyamananmu.” “Tidak,” balas Sella. “Aku tidak mau kompensasi. Aku hanya ingin kebenaran dan keadilan. Jika kau ingin aku menderita, jangan memberiku kenyamanan.”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN