Episode 2: Di Bawah Tatapan Alister

1099 Kata
Liam menutup pintu, dan bunyi klik kunci baja terasa seperti palu yang memaku dirinya pada takdir ini. Sella berjalan ke tengah ruangan, menyentuh seprai kasar itu. Ia tidak menangis. Air mata terasa terlalu mahal di tempat ini. Ia harus menyimpan energinya, kekuatan emosionalnya. Ibu benar. Selama bertahun-tahun hidup sebagai putri Emilio Kasteline, Sella belajar bahwa emosi adalah kelemahan. Ayahnya, seorang pria yang kejam, akan mematahkan siapa pun yang menunjukkan kerentanan. Ia menghabiskan masa remajanya memendam ketakutan dan kesedihan, menyempurnakan seni kepatuhan. Saat ia diculik, ia tidak melihatnya sebagai akhir, tetapi sebagai permulaan dari permainan baru. Setidaknya, Dante Alister adalah musuh yang jujur. Ayahnya memberinya sangkar emas dan senyum palsu; Dante memberinya rantai besi dan kebencian yang murni. Rantai besi terasa lebih mudah dihadapi daripada belenggu emas. Sella duduk di tepi ranjang. Ia mencopot sepatu hak tingginya, membiarkan kakinya menyentuh lantai dingin. Ia mulai menganalisis kamar itu, bukan mencari cara melarikan diri, tetapi mencari cara untuk bertahan hidup di bawah tatapan Dante. Sementara itu, di ruang kontrol utama, dua lantai di atas gudang Sella, Dante Alister duduk di depan dinding monitor. Dia seharusnya merasa puas. Balas dendamnya baru saja dimulai. Putri pembunuh kakaknya ada di tangannya, sandera paling berharga yang pernah dimiliki Alister Syndicate. Tetapi kepuasan itu tidak datang. Yang ia rasakan hanyalah rasa frustrasi yang menusuk. “Bagaimana dia?” tanya Dante tanpa mengalihkan pandangan dari monitor. Liam, yang baru saja kembali, berdiri di belakangnya. “Dia tenang, Boss. Terlalu tenang. Dia hanya mengangguk ketika saya mengantarnya. Tidak ada air mata, tidak ada permohonan.” Dante mengepalkan rahangnya. “Putar rekaman kamarnya.” Di layar, Sella baru saja duduk. Dia tidak mondar-mandir, tidak menangis, tidak mencoba mencari jalan keluar. Dia hanya duduk diam. Kemudian, ia mulai melepaskan jepit rambutnya, membiarkan rambut cokelat gelapnya jatuh di bahu. Matanya, bahkan dalam rekaman hitam-putih, tampak dalam dan jauh. Dante mengharapkan wanita sombong, manja, atau histeris. Ia mengharapkan Sella memberi alasan kuat baginya untuk bersikap kejam. Ia ingin melihat ketakutan yang sama yang dirasakan Marco saat Emilio membunuhnya. Sebaliknya, Sella memberinya ketenangan. “Aku ingin kau menderita,” ia telah mengatakan itu. Tetapi bagaimana cara membuat seseorang menderita jika mereka sudah terlihat pasrah pada takdir terburuk mereka? Dendam adalah mesin yang membutuhkan bahan bakar. Bahan bakar Dante adalah kebencian, tetapi ketenangan Sella seperti air yang memadamkan api kebenciannya. “Liam,” Dante berbicara lagi, suaranya tegang. “Periksa latar belakangnya lagi. Pastikan kita tidak melewatkan apa pun. Anak itu... dia tidak normal.” “Ya, Boss. Kami sudah tahu dia pintar, lulusan terbaik, tapi selalu hidup di bawah pengawasan ketat Ayahnya. Mungkin dia hanya terkejut.” Dante mendengus sinis. Terkejut? Gadis di layar itu seperti patung porselen yang indah, dingin, dan nyaris tak bernyawa. Dia memikirkan Marco, wajah kakaknya yang tersenyum muncul di benaknya. Marco tewas karena jebakan busuk Emilio. Dante berjanji di atas makam Marco bahwa ia akan menghancurkan semua yang dicintai Emilio. “Aku ingin tahu apa yang membuat dia marah,” bisik Dante pada dirinya sendiri, matanya terpaku pada layar. “Aku akan mencari kelemahan itu, Liam. Dan begitu aku menemukannya, aku akan menghancurkannya. Aku akan membuatnya memohon sampai suaranya hilang.” Ia harus mematahkannya. Demi Marco. Dante menghabiskan sisa malam, bukan untuk merencanakan serangan terhadap Emilio, tetapi untuk mempelajari setiap gerakan kecil Sella di monitor. Ia melihat Sella bangkit, berjalan ke kamar mandi, dan kembali. Ia melihat Sella memejamkan mata, mungkin mencoba tidur, meskipun mustahil. Satu jam sebelum fajar, Sella tiba-tiba bangkit. Dia berdiri di tengah ruangan, memandang lurus ke kamera tersembunyi. Seolah-olah dia tahu persis di mana kamera itu berada. Dante merasa tenggorokannya tercekat. Tatapan Sella seolah menembus lensa dan langsung menatap jiwanya. Di kejauhan, Sella melakukan gerakan kecil. Ia membungkuk, mengambil sesuatu dari lantai yang luput dari pandangan Dante. Itu adalah jepit rambutnya. Sella memutarnya di jari, sebelum memasukkannya ke saku jinsnya. Sebuah gerakan kecil, memberontak, tersembunyi, yang mungkin hanya dilihat oleh mata Dante. Dante bersandar di kursinya, merasakan hawa panas tiba-tiba menjalar di lehernya, bukan karena marah, tetapi karena... rasa penasaran yang aneh. “Tidur, Sella Kasteline,” gumam Dante. “Karena besok, permainannya baru dimulai. Dan aku akan pastikan kau melupakan semua ketenangan yang diajarkan ibumu.” Udara dingin di kamar ‘tamu’ adalah satu-satunya jam alarm bagi Sella. Ia terbangun tepat sebelum fajar menyingsing, bukan karena bunyi keras, melainkan karena naluri yang telah terlatih selama bertahun-tahun. Tempat tidur besi itu keras, seprai abu-abu terasa kasar, dan kamar itu berbau bahan kimia pembersih semua detail yang menuntut perhatiannya. Sella bangkit, merapikan seprai seolah-olah dia berada di sebuah hotel mewah, bukan di penjara bawah tanah bos mafia. Ia berjalan ke kamar mandi, menatap pantulan dirinya di cermin yang samar. Matanya tampak lelah, tetapi tegas. Semalam suntuk, ia telah membiarkan Dante mengamatinya. Ia tahu persis di mana kamera itu berada, dan ia memanfaatkannya. Mereka yang tenang, selalu menang. Ayahnya mengajarkannya untuk melawan dengan kekerasan, tetapi ibunya, yang pernah merasakan kejamnya dunia mafia, memberinya pelajaran yang lebih berharga. Kekuatan sejati adalah tidak menunjukkan apa pun yang bisa digunakan musuh untuk menyerang. Dante menginginkan air mata. Dante menginginkan perlawanan. Dante menginginkan histeria. Jika Sella memberinya itu, Dante akan puas dan tahu persis cara menghancurkannya. Tapi jika Sella memberinya kepatuhan yang hampa, ketenangan yang tak tergoyahkan, itu akan mematahkan psikologis Dante, karena dendamnya tidak akan menemukan sasaran yang pas. Sella memutuskan untuk menjadi cermin, membiarkan kebencian Dante memantul kembali padanya sendiri. Setelah berpakaian dengan pakaiannya yang sudah kering, Sella duduk di meja kecil. Ia menunggu. Menunggu perintah. Tepat pukul tujuh pagi, pintu baja berderit terbuka. Liam masuk, membawa nampan makanan. Liam, pria besar dengan bahu lebar dan ekspresi bosan, tampak lebih cocok untuk mengangkat peti amunisi daripada mengantarkan sarapan. “Sarapan,” kata Liam singkat, meletakkan nampan itu di meja. Ada kopi hitam, roti panggang sederhana, dan telur orak-arik. Makanan yang terlalu normal untuk situasi yang gila. Sella berdiri. “Terima kasih, Liam.” Suaranya sangat sopan, hampir seperti ia berterima kasih kepada pelayan di sebuah kafe. Liam tampak terkejut. “Kau... tidak perlu berterima kasih,” gumam Liam, merasa canggung dengan kesopanan Sella. “Tetapi kau membawakan makanan untukku. Dan itu adalah kebaikan,” balas Sella, tersenyum kecil. Liam menghela napas. Dia sudah bekerja untuk Syndicate Alister selama sepuluh tahun, menghadapi pembunuh bayaran, informan histeris, dan sandera yang mencoba melarikan diri. Tetapi sandera yang sopan ini adalah yang paling membingungkan. “Makanlah,” perintah Liam, mencoba mengembalikan nuansa otoritasnya. “Bos ingin kau siap pukul sembilan. Ia akan menemuimu.” Sella mengangguk. “Aku akan siap.” Liam keluar dengan cepat, menutup pintu. Ia merasa seperti baru saja melayani bibinya yang cerewet, bukan putri dari musuh bebuyutan Syndikat mereka.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN