Happy Reading...
***
Indah kembali ke kantor setelah membawa pesanan dari Bu Siska, yaitu kopi yang dibelinya di cafe dekat kantor.
Kemudian dia masuk ke pantry mengambil sebuah untuk meletakkan bawaannya.
Memang kesannya repot, tapi demi kesopanan lebih baik pakai nampan.
"Makasih ya Ndah ... maaf Mbak ngerepotin kamu," ucap Lina tidak enak.
Indah tersenyum ke arah Lina.
"Enggak apa Mbak ... lagipula Mbak sedang sakit. Mana mungkin aku diam aja," jawab Indah sambil berjalan menuju keluar membawa kopi pesanan Bu Siska ke ruangannya.
Lina tersenyum melihat punggung Indah.
"Dia anak yang baik," gumamnya pelan.
Setelah sampai di ruangan devisi tempat Bu Siska bekerja, Indah mengetuk pelan kaca yang berada samping pintu.
Mendengar ketukan kaca beberapa orang yang ada di ruangan itu menolehkan kepalanya termasuk Bu Siska.
"Masuk. Cari siapa, Mbak?" tanya Bu Siska, lalu kembali bekerja sama seperti yang lainnya.
"Bu Siska. Ini saya mau mengantarkan kopi," jawab Indah.
"Oowhh kopi saya yaa ... Ya udah bawa kesini, Mbak," pintanya ke Indah.
Bu Siska menoleh ke Indah dengan senyuman.
Indah berjalan hati-hati membawa nampan menuju kubikel milik Bu Siska.
Indah meletakkan kopi pelan-pelan ke meja Bu Siska.
"Terima kasih ya, siapa nama kamu? Saya baru lihat kamu soalnya?" tanya Bu Siska dengan kening berkerut karena baru pertama kali melihat Indah.
Indah sendiri tersenyum mendapat pertanyaan dari Bu Siska.
"Nama saya Indah, Bu," jawab Indah sembari memunggukkan badannya sedikit.
Bu Siska menganggukkan kepalanya. "Nama yang bagus, sesuai dengan kamu."
Bu Siska mengambil kopinya yang ada di meja lalu menyeruputnya pelan.
"Kalau begitu. Saya permisi dulu, Bu." Sekali lagi Indah memunggukkan badannya sedikit ke Bu Siska.
"Hem ... sekali lagi terima kasih Indah," ucap Bu Siska dengan senyuman.
"Sama-sama, Bu."
Indah berbalik setelah mengucapkan itu.
Sebenarnya perut Indah sedikit sakit karena dia belum makan siang, hanya minum sedikit yang Farid beri ke dia. Indah berjalan menuju ruangan khusus pekerja seperti dia.
Ternyata di ruangan itu sepi mungkin lagi pada sibuk, kemudian dia mendudukkan pantatnya ke salah satu kursi memijit pelipisnya pelan.
"Ini Ndah, kamu makan dulu." Farid memberikan sesuatu ke Indah.
Indah mendongakkan kepalanya lalu tersenyum.
"Kamu pasti belum makan, kan?" tanya Farid.
Indah menganggukkan kepalanya.
"Terima kasih, Mas Farid." Indah menerima sepiring nasi serta lauk pauk yang Farid kasih.
Farid sendiri menarik sebuah kursi untuk dia duduk.
"Sama-sama. Lain kali makan dulu, jangan sampai kamu sakit karena telat makan," ucap Farid.
Indah menyuapkan nasinya kemudian tersenyum tipis karena mendapat perhatian dari Farid.
"Iya Mas. Makasih udah perhatian sama aku," jawab Indah menyuapkan nasinya lagi.
Farid terkekeh mendengar jawaban Indah.
"Ya sudah aku kembali kerja dulu, Ndah."
Farid mengusap kepala Indah sambil tersenyum, dan itu membuat tubuh Indah menegang beberapa saat lalu kembali sedia kala.
Farid berjalan keluar dari ruangan itu meninggalkan Indah yang sedang makan.
Indah melihat punggung Farid, lalu menghela napas pelan.
Indah menganggap Farid kakaknya, walaupun dia tahu kalau Farid mempunyai perasaan ke dia.
Setelah menyelesaikan makannya Indah kembali bekerja.
Saat ini dia di tugaskan dia lantai bagian petinggi perusahaan karena yang biasa tugas di situ sedang cuti. Lina sendiri tidak mungkin, karena dia juga sedang sakit perut kedatangan tamu bulanan.
***
Saat ini Arfiq tengah melangkah menuju ruangannya, setelah menyelesaikan pertemuan dengan klien sekaligus sahabatnya itu.
Dia berjalan dengan langkah tegap membuat banyak karyawati yang menaruh tatapan kagum ke CEO nya itu.
Siapa sih, yang tidak kagum ke Arfiq. Definisi perfect untuk seorang pria yang mempunyai wajah tampan, rambut hitam tebal yang selalu tertata rapi, hidung mancung dengan tahi lalat kecil di hidungnya, mata yang tajam, alis hitam berbentuk dan bibir merah alami, belum lagi setelan yang dia pakai sangat pas di tubuhnya.
Menambah kadar kegantengan seorang Arfiq Septian Hadiutomo, CEO sekaligus putra sulung pemilik Hadiutomo Group.
Ketika Arfiq hampir sampai di ruangannya, tiba-tiba mata tajam Arfiq melirik seorang gadis yang sedang berjalan membawa peralatan kerjanya. Saat itu Arfiq berhenti sejenak, kemudian bibirnya tersenyum tipis.
Arfiq kembali berjalan menuju ruangan, lagi-lagi langkahnya berhenti didepan meja sekretarisnya.
"Len. Saya minta kopi," pinta Arfiq datar.
Leni yang tadi fokus pada komputer, mendongakkan kepalanya keatas lalu tersenyum ke Arfiq yang sedang menatapnya datar.
"Baik, Pak."
Setelah mendapat jawaban dari Leni, Arfiq membuka pintu ruangannya. Sementara Leni sendiri beranjak dari duduknya ingin memerintahkan seseorang membuatkan kopi untuk sang atasan.
Setelah ada di dalam ruangannya Arfiq berjalan menuju kursi kebesaran dia lalu mendudukkan dirinya ke kursi. Dia membelokkan kursinya untuk menatap keluar.
Dimana dia bisa melihat pemandangan indah Ibukota dari dalam ruangannya.
Di tempat yang berbeda Indah sedang mengepel lantai yang kotor.
"Mbak, tolong buatkan kopi untuk Bapak."
Indah yang sedang fokus mengepel, menoleh ke belakang ke sumber suara.
"Saya, Bu?" tanya Indah sambil menunjuk dirinya sendri.
"Iya kamu. Tolong ya," pinta Leni.
"Tapi saya belum pernah bikin untuk Bapak, Bu," ucap Indah meringis pelan.
Leni menghela napasnya pelan, kalau dia sedang tidak sibuk. Dia sendiri yang akan membuatkan kopi untuk atasannya itu.
"Enggak apa, Mbak. Intinya mah jangan terlalu pahit dan jangan terlalu manis buat Bapak. Pas lah ... ok," pinta Leni. Indah menimbang lalu mengangguk pelan.
"Terima kasih, Mbak." Leni beranjak pergi setelah mengatakan itu ke Indah.
Indah berjalan menuju pantry kantor untuk membuatkan kopi untuk sang CEO, lebih tepatnya buat Arfiq.
Indah sendiri ragu, tapi dia kan disuruh. Enggak mungkin dia menolaknya bukan, dan melimpahkannya ke pekerja yang lain. Nanti dikiranya dia malas lagi.
"Semoga rasanya pas," gumamnya sambil mengaduk pelan kopi yang dia buat.
Setelah selesai membuatnya. Indah mengambil sebuah nampan untuk meletakkan kopi dan siap untuk mengantarkannya ke sang CEO.
Dia berjalan cukup hati-hati membawa kopinya, tentu saja takut tumpah.
Indah hampir sampai di depan ruangan milik CEO nya.
Leni yang sibuk dengan komputernya hanya melirik Indah sebentar.
Indah berdiri ragu di depan pintu besar itu, hatinya sedikit berdebar juga sebenarnya.
"Ketuk pintunya dan masuk saja Mbak. Bapak sudah menunggunya lohh, " ucap Leni tanpa menoleh ke Indah.
Indah semakin gugup menarik napas pelan lalu menghembuskan.
"Ba-- baik Bu," jawab Indah sedikit gugup.
Leni hanya menganggukkan kepalanya masih tanpa menoleh ke arah Indah.
Tok tok tok!
"Masuk."
Setelah terdengar jawaban dari dalam Indah menguatkan dirinya masuk.
Selama 3 bulan bekerja di sini.
Dia belum pernah masuk ke ruangan CEO-nya hanya tahu saja letaknya dimana.
Indah berjalan masuk sambil membawa kopinya dengan langkah hati-hati.
"In-- ini kopinya, Pak."
Arfiq yang tadi fokus dengan berkasnya, seketika mendongakkan kepala mendengar suara Indah yang tentu saja sedikit gugup.
"Taruh saja di meja, Mbak," jawab Arfiq datar.
Indah meletakkan kopinya di meja besar milik Arfiq.
Arfiq menatap Indah dengan tatapan datar tapi memindai sambil jari telunjuknya mengetuk-ngetuk di atas meja. Indah yang sadar ditatap Arfiq membuatnya salah tingkah dan sedikit takut tentunya.
"Silakan, Pak. Kalau begitu, saya permisi dulu," ucap Indah tidak berani menatap mata CEO tempatnya bekerja.
Arfiq menganggukkan kepalanya tanpa menjawab. Indah berjalan tergesa-gesa keluar ruangan milik Arfiq.
Melihat jalan Indah yang seperti orang terburu-buru membuat alis Arfiq terangkat satu dan mengulum senyum geli.
"Pasti dia takut karena tadi aku tatap seperti itu," gumam Arfiq pelan. "Lagian lo juga sih Fiq! Lihat dia seperti hewan melihat buruannya." lanjutnya.
Arfiq merutukki dirinya sendiri lalu menggelengkan kepala beberapa kali.
Indah yang berjalan tergesa-gesa sampai tidak sadar ada gadis cantik yang berjalan berlawanan dengannya.
Bhuk!!
Baik Indah maupun gadis itu hampir saja terjatuh karena saling menabrak.
"Ahh!" pekik sang gadis.
"Aduhh ... saya minta maaf, Mbak." Indah memunggukkan badannya sedikit dengan meminta maaf berulang kali ke gadis cantik itu.
Gadis cantik itu meringis melihat Indah yang berulang kali meminta maaf.
"Enggak apa, Mbak ... saya nggak apa, kok." Gadis itu memegang kedua lengan Indah.
Indah yang tadi menundukkan kepala, kemudian mendongak menatap gadis yang ada di depannya.
Indah tersenyum ke sang gadis, dan gadis itu balas tersenyum ke Indah.
"Terima kasih, Mbak," ucap Indah.
"Sama-sama. Saya juga minta maaf," jawab sang gadis.
Indah menganggukkan kepalanya.
"Kalau begitu saya permisi dulu, Mbak ... "
"Zahra. Nama saya Zahra Hadiutomo," ucapnya sembari tersenyum ceria.
Mata Indah sedikit melebar mendengar nama belakang gadis itu, nama yang sama dengan perusahaan tempat Indah bekerja.
Zahra sendiri terkekeh pelan melihat reaksi Indah.
"Sudah saya nggak apa, Mbak. Jangan khawatir," kata Zahra santai.
Indah menghembuskan napas lega.
Lagi-lagi Zahra terkekeh melihat Indah.
"Kalau begitu saya kembali bekerja dulu ya Mbak Zahra. Permisi ...." Indah memunggukkan badannya sedikit kemudian berlalu dari hadapan Zahra.
"Hem." Zahra menganggukkan kepalanya.
Indah berjalan sambil memegangi dadanya.
"Ya ampun ... untung saja mbak Zahra orangnya baik. Kalau tidak, mungkin aku sudah dipecat karena tidak sengaja menabrak anak pemilik perusahaan ini," ucapnya menggerutu pelan.
"Beda banget sama Pak Arfiq. Lihatnya saja, sudah bikin merinding." Badannya bergidik merinding.
***
Zahra berjalan menuju ruangan kakaknya.
Leni yang melihat Zahra datang langsung beranjak berdiri.
"Selamat siang, Mbak Zahra." Leni sedikit memunggukkan badannya.
"Selamat siang, Mbak Leni. Mas Arfiq ada kan?" tanya Zahra.
"Ada Mbak. Pak Arfiq ada di dalam ruangannya," jawab Leni dengan senyuman.
"Hem ... ya sudah. Kalau gitu aku masuk dulu Mbak Leni," ucap Zahra dengan senyuman kecil.
Tanpa menunggu jawaban Zahra masuk ruangan Arfiq, tanpa mengetuk pintu. Arfiq yang sedang fokus dengan berkasnya mendengar pintu terbuka tiba-tiba mendengus kemudian mendongakkan kepala.
Ternyata adik semata wayangnya yang membuka pintu.
"Zahra ... kamu mau ngapain datang?" tanya Arfiq dengan kening berkerut.
Bibir Zahra mengerucut mendapat pertanyaan Arfiq.
Dia berjalan menghentakkan kakinya kesal.
Zahra berjalan kemudian menghempaskan tubuhnya nya kasar ke sofa.
Kening Arfiq makin berkerut melihat adiknya itu.
"Zahra. Mas tanya, kamu ngapain kesini?"
Zahra memutar bola matanya.
"Kalau Mas lupa. Aku memiliki beberapa persen saham juga di perusahaan Papi," jawab Zahra sedikit kesal.
Arfiq menghela napas, dia lupa kalau adiknya itu sedikit menyebalkan.
"Kamu tahu. Bukan itu jawaban yang Mas mau," tutur Arfiq.
Zahra mengibaskan satu tangannya.
"Aku cuma mau main saja Mas, emang nggak boleh," jawab Zahra seenaknya.
Lagi-lagi Arfiq menghela napas mendengar jawaban Zahra.
"Jangan basa-basi deh, Dek," ucap Arfiq pelan.
Zahra hanya melirik kakaknya sebentar.
"Aku cuma mau ngomong sama Mas, kalau akhir-akhir ini Mami sering melamun kaya banyak pikiran gitu," kata Zahra.
Arfiq mengusap wajahnya kasar, pasti masalah pernikahan dia.
"Kamu tahu kan, Mas belum mau menikah," jawab Arfiq dengan desahan lelah.
"Yaitu terserah Mas. Kalau mau bikin Mami sedih terus," ucap Zahra cuek.
Arfiq memijit pelipis yang berdenyut seketika.
Sementara Zahra hanya diam melihat kakaknya itu.
Sebenarnya dia berbohong soal maminya yang sedih. hahaha
Mungkin dia akan dikuliti hidup-hidup oleh Arfiq kalau tahu bahwa Zahra berbohong kepadanya.
Zahra beranjak dari duduknya, dia tidak bisa menahan tawa kalau terus di dekat Arfiq.
"Sudahlah Mas. Aku mau ke ruangan Papi dulu," ucap Zahra sembari melangkah keluar.
Arfiq menjawab dengan sebuah deheman.
"Bye Mas ...." Zahra melambaikan tangannya dengan gaya menyebalkan membuat Arfiq berdecak kesal.
Sepeninggal Zahra, Arfiq menjatuhkan badannya. Bersandar ke kursi dengan mata menatap langit-langit.
"Bisa gila gue lama-lama," gerutunya pelan kemudian dia memejamkan matanya.
Jam kantor telah selesai. Waktunya para karyawan dan karyawati pulang, termasuk Indah.
Dia sedang beres-beres sebentar sebelum pulang.
Setelah beres-beres selesai tidak lupa mengganti bajunya.
Indah mengambil tas selempangnya di loker lalu berjalan keluar.
Perusahaan sudah sepi karena semua mulai pada pulang.
Sekarang Indah lagi duduk menunggu jemputannya datang, yaitu tukang ojek langganan dia.
Indah menatap langit ternyata gelap menandakan akan turun hujan.
"Hem ... sepertinya nanti malam akan turun hujan," gumamnya pelan.
Lima menit, lima belas menit, bahkan hampir setengah jam Indah menunggu jemputan tapi tak kunjung datang.
Dia mulai gelisah sementara perusahaan sudah sangat sepi.
Takut, tentu saja dia takut.
Tanpa diduga ada sebuah sedan mewah berhenti tepat di depannya. Membuat Indah mengernyit karena tidak tahu mobil itu milik siapa.
Tiba-tiba pintu mobil terbuka sendiri dari dalam.
"Ayo masuk ... sebentar lagi akan turun hujan," ucapnya dari dalam mobil.
Mata Indah melotot seketika setelah dia tahu siapa orang yang sedang duduk di dalam mobil itu.
***