The Sign

1199 Kata
Pagi itu, Tony datang dan mengejutkan Ingrid yang tentu saja sekaligus membuat dirinya senang karena dirinya tidak akan sendirian lagi, setelah sebelumnya Tiffany berpamitan pada jam enam pagi tadi, yang tentu saja membuat Ingrid sangat senang hingga memeluk dirinya di sana. “Hoaa!! ada apa ini?? kau seperti merindukan ku!” ucap Tony kepada Ingrid yang kini menganggukkan kepalanya menanggapi pertanyaan itu, dan kemudian berucap, “Kau tahu?? banyak sekali hal yang aku alami tanpamu dan aku sangat khawatir, Tony!” ucap Ingrid kepada Tony yang kemudian terkekeh mendengarnya dan menggelengkan kepala seraya mengusap rambut Ingrid yang panjang di sana. “Apakah kau lapar? Aku akan membuat sesuatu yang lezat untukmu!” ucap Tony kepada Ingrid yang karenanya, membuat Ingrid pun tersenyum dan menganggukkan kepalanya, membiarkan kekasihnya yang satu itu memasak. “Oh, ya … temanku baru saja pulang dari liburannya di mesir, dan dia memberikan kita sebuah hadiah yang indah! Itu ada di dalam tas ku, bisakkah kau mengeluarkannya Honey? Aku takut aku lupa mengeluarkan itu!” ucap Tony kepada Ingrid yang kini tersenyum mendengar panggilan sayang untuknya dari Tony saat itu, yang kemudian membuat Ingrid pun beranjak dari sofa panjang di ruangan tersebut untuk kemudian menghampiri tas yang sudah diletakkan oleh Tony beberapa saat yang lalu di atas meja dapur saat itu. “Apa yang dia berikan kepadamu, Tony?? apakah buah kurma?” tanya Ingrid yang membuat Tony terkekeh dan kemudian menggelengkan kepala seraya berkata, “Guci! Jangan salah … guci darinya sangat mahal diantara oleh-oleh yang lain!” ucap Tony kepada Ingrid yang kini mengangguk dan tersenyum dengan senang, ia segera mengeluarkan guci yang terlihat mewah di sana, yang tentu saja membuat Ingrid seketika terpukau setelah melihat bentuk dan warna yang cantik dari guci tersebut. “Oh, My God, Tony!!” panggil Ingrid kepada Tony yang segera saja menolehkan pandangannya dengan cepat ke arah Ingrid untuk kemudian bertanya, “Yeah? How is it?” tanya Tony kepada Ingrid yang segera tersenyum dengan lebar dan puas setelah melihat indahnya guci tersebut. “Lovely! Aku sangat menyukai ini!” jawab Ingrid kepada Tony yang seketika menganggukkan kepalanya dan kemudian berkata, “Good! Sudah aku duga kalau kau akan menyukainya!” ucap Tony yang kini kembali mencuci beberapa sayuran yang akan segera ia masak pagi itu. Tanpa henti, Ingrid terus tersenyum seraya meletakkan guci itu dengan perlahan ke atas meja, dan pandangannya kembali tertolehkan menatap ke dalam tas dari Tony, yang kemudian ia meraih sebuah benda yang tampak aneh baginya kala itu. Benda itu terbuat dari sebuah logam yang terbuat dari kuningan atau semacam emas dengan sebuah simbol dengan bentuk sebuah oval atau tetesan air mata yang kemudian disisipkan di atas sebuah huruf T, yang akan menyerupai sebuah salib namun sangat berbeda darinya. “Tony … apakah kau meminta dua kepada temanmu itu?!” sebuah pertanyaan yang di lontarkan oleh Ingrid pada saat itu, membuat Tony yang baru saja memasuki wortel dan segala jenis sayur mayur ke dalam air yang mendidih pun kini menoleh untuk menatap sang kekasih yang kala itu menggenggam sebuah salib berbentuk aneh, yang tentu saja membuat Tony kini menggelengkan kepalanya untuk menjawab hal itu, “No, aku tidak meminta yang lain! Mungkin itu tidak sengaja masuk ke dalam tas ku, Ingrid!” belas Tony kepada Ingrid yang kini menghembuskan napasnya untuk kemudian menganggukkan kepala dan kembali memasukkan benda itu ke dalam tas, dan berkata. “Jangan lupa untuk mengembalikan benda itu lagi kepada temanmu itu! Kali saja ada teman lainnya yang tidak kebagian oleh-oleh darinya, itu akan sangat menyedihkan!” ucap Ingrid kepada Tony, yang kemudian membuat kekasih tampannya itu kini menoleh menatap Ingrid yang kemudian ia tersenyum manis seraya menganggukkan kepalanya menanggapi perintah itu. “Yes, Mom! I will … aku akan kembalikan itu siang ini, apakah kau ingin ikut?!” tanya Tony, yang tentu saja membuat Ingrid langsung menganggukkan kepalanya dengan semangat dan tersenyum kepada sang kekasih yang kini membalasnya dengan senyuman lagi. Untuk akhirnya mereka tertawa bersama, merasa senang karena bisa melepas kerinduan dari keduanya di hari itu. … Siang itu, seperti yang di katakan oleh Tony. Dirinya dan juga Ingrid kini pergi mengenakan mobil yang di kemudikan oleh Tony menuju asrama pemadam dan bertemu dengan teman dari Tony yang katanya baru pulang dari liburannya di Mesir. ”Hei, Amar!!” panggil Tony, setelah dirinya dan Ingrid berjalan memasuki tempat asrama pemadam saat itu, yang tentu saja membuat seorang lelaki berkulit hitam yang baru saja di panggil Amar oleh Tony pada saat itu pun kini berbalik untuk menatap keduanya. “Oh, Hei Tony! Aku pikir kau sudah pulang ke rumahmu!” ucap Amar dengan ramah kepada Tony yang kini menganggukkan kepala dan kemudian berucap, ”Yeah … aku memang sudah pulang tadi, ah … kenalkan … ini wanitaku! Ingrid, Ingrid … ini adalah Amar, orang yang baru saja berlibur dari mesir dan memberikan kita guci mewah itu!” ucap Tony kepada Ingrid yang membuat Amar dan Ingrid tersenyum untuk saling berjabatan tangan. “Oh, tidak … jangan melebih-lebihkan, Tony! Guci itu hanya hiasan … eum bagaimana Ingrid, kau menyukai gucinya?!” tanya Amar kepada Ingrid yang kini tersenyum dengan senang dan menganggukkan kepala seraya berucap, ”Itu sangat indah, terima kasih atas gucinya, Amar!”  ucap Ingrid kepada Amar yang kemudian tertawa senang mendengar hal itu, “See! Sudah kuduga, kekasihmu ini akan menyukainya!” ucap Amar, dan membuat Tony menganggukkan kepalanya, di saat yang bersamaan pandangannya bertubrukan dengan mata Ingrid yang memberikan tanda bahwa ia harus segera mengembalikan benda yang terbawa olehnya saat itu, mengerti dengan tatapan itu membuat Tony pun berucap, “Ehem … ah, Amar … aku tidak sengaja membawa benda lainnya darimu!” ucap Tony kepada Amar yang kini mengertukan dahinya dan membuat Tony segera mengeluarkan benda tersebut dan memberikannya kepada Amar. Yang tentu saja membuat Amar mengerutkan dahinya seraya berucap, “What?? aku tidak pernah membeli ini, Tony!” ucap Amar kepada Tony, yang tentu saja membuat dirinya dan juga Ingrid terkejut mendengarnya, “A … apa maksudmu?? ini ada di kantung kertas yang berisikan guci darimu!” ucap Ingrid kepada Amar yang kini menghembuskan napasnya untuk kemudian menganggukkan kepalanya seraya berucap, “Aku memang memasukkan semua oleh-oleh itu ke dalam tas kertas, tapi aku tidak pernah membeli barang ini, Tony! Kurasa itu bonus untukmu!” ucap Amar kepada Tony, yang membuat Tony mengerutkan dahinya dan kembali bertanya, “Bonus?? memangnya benda apa ini?” tanya Tony kepada Amar yang kala itu mengembalikan benda tersebut kepada Tony, “Ini adalah Ankh! Benda yang kuat akan simbol kekuatan yang besar dan keabadian! Kau mendapatkan hal yang bagus, Tony!” seru Amar dan membuat Ingrid mengerutkan dahinya dan kembali bertanya, “Apakah benar ini adalah hal yang bagus, Amar?” tanya Ingrid kepada Amar yang kemudian membuatnya menganggukkan kepala, “Benda ini dianggap sebagai keabadian hidup, tapi entahlah … mereka yang mempercayainya, tapi aku tidak!” ucap Amar kepada Ingrid yang kemudian membuat Tony pun mengangguk seraya berkata, “Jadi ini bukan punya mu?” tanya Tony yang kembali membuat Amar menganggukkan kepalanya, “Kau bisa menyimpannya atau kau bisa memberikannya kepada yang lain, Tony!” ucap Amar dan membuat Tony merasa senang, sedangkan Ingrid terdiam dan masih merasa penasaran dengan simbol dan benda tersebut. …  To Be Continue. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN