Serenity Angels

1178 Kata
Pagi itu, Adam terbangun di jam tujuh pagi, untuk kemudian membuatnya segera mandi dan mengenakan pakaian kasual miliknya, yang tentu saja membuat Roul yang melihatnya saat itu merasa kebingungan dan menoleh ke atas untuk mengecek arah jam yang memang menunjukkan setengah delapan pagi pada saat itu, “Kau akan pergi ke mana?” itu lah pertanyaan yang di lontarkan oleh Roul kepada Adam yang kala itu tengah mengenakan kaos kakinya dan membuatnya menoleh menatap Roul dan membuatnya tidak menjawab pertanyaan dari Roul, ia hanya mengedikkan kepalanya saja yang tentu membuat Roul mengerutkan dahinya merasa bahwa ada yang aneh darinya. “Siapa yang akan kau temui?” tanya Roul lagi, dan membuat Adam yang baru saja selesai mengikat tali sepatunya kini melompat dari duduknya untuk kemudian menghembuskan napas seraya menoleh menatap Roul dan berucap, “Jika kau ingin pergi, simpan kuncinya di pentilasi, ok!” pesan Adam kepada Roul yang kembali merasa aneh dengannya yang saat itu sama sekali tidak menjawab pertanyaan yang dia lontarkan saat itu. “Kau mau ke mana?” tanya Roul lagi, dan ketika Adam hanya melambaikan tangannya untuk kemudian benar-benar pergi dari apartemen itu, membuat Roul hanya bisa menghembuskan napasnya tanpa bisa berkata apapun melihat keanehan dari temannya yang satu itu. … Pagi itu, Adam berjalan kaki untuk kemudian memanggil taksi tepat di depan rumahnya. “Serenity Angels!” ucap Adam kepada sang supir yang segera saja menjalankan taksi tersebut menuju tenmpat yang di tuju oleh Adam, dan selama perjalanan Adam terdiam dengan menggenggam gelang yang ia bawa dari apartemennya. Ia juga mengenakan gelang yang sama, namun gelang yang di genggam olehnya saat ini bukan untuk dirinya, melainkan untuk seseorang ayang sebentar lagi akan ia temui. Iangatan Adam bahkan terputar kembali kepada ucapan Tony dua malam yang lalu, yang berkata bahwa sebelumnya, Ingrid pergi bersama teman-temannya menginap di rumah temannya, dan itu lah hal yang mempengaruhinya saat ini. Dan itu menjadi sebuah pertanyaan baginya, apakah benar Ingrid mengalami halusinasi? Ataukah ada hal lain yang mengganggunya, seperti yang dialami oleh Joshua? Apakah ini ada sangkut pautnya dengan Sarah? Lalu kenapa harus wanita ini? Itu lah pertanyaan-pertanyaan yang ada di dalam benak dari Adam mengenai itu semua, dan ya … saat ini adam sedang dalam perjalanan menuju rumah sakit Serenity Angels, tempat di mana Ingrid berada. Kiit!! Sebuah suara rem yang berhenti pada saat itu, membuat ia menyadari bahwa dirinya sudah sampai di tempat tujuan, yang membuatnya pun segera keluar dari taksi untuk melihat secara langsung rumah sakit jiwa yang bangun satu tahun yang lalu dan baru di resmikan lima bulan kemarin. … Adam berjalan dengan santai menuju resepsionis, dan kemudian ia menoleh menatap salah satu perawat yang berjaga di sana untuk kemudian menyapanya, “Hi! Eum … saya Adam … saya teman dari pasien yang bernama Ingrid, yang dua hari kemarin baru masuk ke sini … apakah saya bisa menjenguknya saat ini?” sebuah pertanyaan yang di lontarkan oleh Adam pada saat itu, membuat sang perawat kini tersenyum dan berkata, “Baik Tuan Adam, tunggu sebentar … saya akan mengecek kondisi dan status pasien terlebih dahulu!” ucap sang perawat kepada Adam yang kini menganggukkan kepalanya menanggapi hal itu. Terlihat dengan jelas bagaimana perawat itu tengah mencari data mengenai Ingrid melalui komputernya, yang kemudian membuat sang perawat kini tersenyum seraya berucap, “Atas permintaan dari pihak keluarga, pasien tidak bisa di jenguk oleh saat ini, Tuan Adam!” jelas sang perawat, dan membuat Adam kini mengerutkan dahinya mendengar hal itu dan kemudian ia berdeham seraya berucap, “Ehem … tapi, saya harus memastikan sesuatu kepadanya, apakah lima menit saja  tidak bisa?” tanya Adam lagi, dan hal itu membuat sang perawat kini menggelengkan kepalanya menanggapi hal itu, “Maaf Tuan, tapi pihak keluarga benar-benar tidak mengidzinkannya!” ucap sang perawat, di saat yang bersamaan seseornag menghampiri keduanya dan kemudian brucap, “Adam?!” sebuah panggilan yang di lontarkan saat itu, membuat Adam menoleh dengan cepat ke arahnya dan kemudian terkejut ketika mendapati seseorang yang amat ia kenal berada di dalam rumah sakit jiwa saat ini. “Dokter Charlote?!” ucap Adam kepada wanita yang amat ia kenal, ia merupakan dokter psikologis yang membantunya menangani Joshua pada saat itu, dan itu sungguh mengejutkan Adam. “Hei! Kenapa kau di sini Dok?” tanya Adam kepada Dokter Charlote yang kini tersenyum dan kemudian memperlihatkan name tagnya dan berucap, “Aku dipindahkan kemari dan mengisi posisi kepala rumah sakit di sini!” ucap Dokter Charlote kepada Adam yang terlihat kagum dengan kabar itu, ”Woaw! That’s Amazing! Aku tidak menyangka kita bisa bertemu di sini!’ ucap Adam kepada Dokter Charlote yang kini tersenyum di sana, dan membuat Adam mengerutkan dahinya ketika melihat jika gelang yang ia berikan kepada sang dokter masih digunakan olehnya hingga saat ini, yang tentu saja membuat Adam merasa lega karenanya.  “Apa yang kau lakukan di sini Adam?” tanya Dokter Charlote kepada Adam yang kini mengerenyitkan dahinya dan kemudian tersada untuk berucap, “Ah ya! Aku kemari untuk menjenguk seseorang, aku ingin sekali berbicara dengannya … namun tampaknya pihak keluarga melarang teman-temannya untuk berkunjung!” ucap Adam terdengar upset dan membuat Dokter Charlote kini mengerutkan dahinya seraya tersenyum untuk kemudian berucap, “Siapa nama pasiennya?” tanya Dokter Charlote kepada Adam yang kini berucap, “Ingrid! Dia baru datang dua hari kemarin!” jelas Adam dan membuat Dokter Charloter mengangguk ketika mengingat namanya, “Ah! Wanita itu … kebetulan aku akan melakukan sesi dengannya saat ini, ayo! Kau bisa menemuinya bersama denganku!” ucap Dokter Charlote kepada Adam yang kini membelalakan matanya ketika mendengar hal itu. “Apakah tidak masalah? Bukankah pihak keluarganya melarang dia dijenguk?” tanya Adam seraya menoleh menatap sang perawat yang terlihat gugup karena sang kepala rumah sakit ada di sana pada saat ini, “Tidak apa! Aku ada di sana bersamamu, jadi tolong jangan masukkan pada listnya!” ucap Dokter Charlote kepada perawat yang berjaga yang segera mengangguk mengiakan ucapan itu dan segera tersenyum dengan menjawa. “Tentu Dok!” jelasnya, dan membuat Dokter Charlote kini mengajak Adam untuk masuk ke dalam ruang konseling yang tidak jauh dari sana pada saat itu. “Mari! Ingrid ada dalam perjalanannya kemari!” ucap Dokter Charlote dan membuat Adam tersenyum seraya mengangguk untuk kemudian berucap, “Terima kasih Dok!” ucap Adam dan membaut dokter Charlote menggelengkan kepala untuk kemudian berkata, “Tidak perlu khawatir! Aku ada di pihakmu jika kau membutuhkan bantuan!” jelasnya dan membuat Adam tertawa, “Jadi apakah Ingrid ini seseorang yang penting di hidupmu? Eum maksudku, pacarmu?” tanya Dokter Charlote yang kini membuat Adam menoleh menatapnya dengan terkejut dan membuat sang dokter kini tertawa seraya berkata, “Ah … karena aku lihat kau sangat mengkhawatirkannya!” ucap Dokter Charlote, dan membuat Adam kini tersenyum seraya menghembuskan napasnya untuk berucap, ”Tidak dok .. dia ..- “Dokter Charlote! Pasien Ingrid mengalami kejang dan mengeluarkan busa dari mulutnya, anda harus mengeceknya!” ucap salah satu perawat laki-laki yang baru saja datang dengan tiba-tiba, yang tentu saja membuat Dokter Charlote dan Adam segera berdiri dari tempat mereka untuk kemudian berlari menuju ruang Ingrid. ...  To Be Continue. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN