Chapter 32: Nonton Bareng

675 Kata
            Adi keluyuran sendiri di mal Taman Anggrek. Ia sudah mengantri tiket sejak sejam yang lalu. Kini ia menghabiskan waktu di toko buku, melihat-lihat novel dewasa yang diterbitkan penerbit lokal untuk menjadi bahan referensi. Ia mengambil buku di rak bersamaan dengan orang lain.             “Oh, silakan,” kata Adi tersenyum ke arah orang itu.             “Adi?” seru wanita itu tidak percaya.             “Cindy?” tanya Adi balik. Itu adalah mantan teman kantornya.             “Aduh, Adi lama nggak ketemu. Kamu sekarang kerja di mana? Masih di akuntan publik?” tanya Cindy penasaran.             “Yah, gitulah,” kata Adi cengengesan.             “Dasar. Kamu kok kalo di telepon nggak pernah di angkat?” kata Cindy tertawa kecil.             “Sori, maklum sibuk. Sendirian?’ tanya Adi.             “Iya, sendirian. Tadi sih, bareng teman. Tapi karena ada urusan mendadak jadi pergi duluan. Sendirian?” tanya Cindy.             “Iya, sendirian. Aku bentar lagi mau nonton,” kata Adi.             “Eh, beberapa hari yang lalu Pak Heru nanyain lho, kabar kamu,” kata Cindy.             “O ya?” Adi tergelak. Pasti ayahnya menelepon mantan bosnya, kalau-kalau ada yang tahu ke mana ia pergi. Sayangnya, kepergian Adi dari rumah sama sekali tidak direncanakan. Otomatis tidak ada orang yang tahu di mana Adi sekarang, kecuali ia buka mulut. Sayangnya, mulut Adi terkunci rapat. Ia sama sekali tidak menjawab ponsel dari siapa pun belakangan ini, kecuali dari Sam atau Fifi. Jadi semua kontak terputus. Adi memang malas memberitahu teman-temannya. Selama ini ia dikenal sebagai seorang akuntan publik yang handal, mahasiswa teladan dengan nilai IPK cumlaude, juga anak pemiik perusahaan ternama. Mereka pasti menertawakan dirinya kalau tahu Adi rela membuang satu tahun percuma hanya untuk mengejar impiannya menjadi penulis. Tidak. Adi tidak akan membiarkan dirinya dihina. Ia akan berjuang selama setahun ini. Dan teman-temannya tidak usah tahu. Mereka tidak mengerti dirinya dan tidak akan pernah berusaha mengerti. Jadi, Adi lebih baik tidak berhubungan dengan mereka sementara waktu. “Yuk, aku duluan. Filmnya udah mau mulai,” kata Adi berpamitan. “Oke, Di. Sampai nanti, ya,” kata Cindy melambaikan tangan.             Adi langsung naik lift ke lantai teratas. Ketika membeli popcorn, ia melihat seseorang mirip Sam memasuki studio 3 bersama seorang pria. Sam? Masa sih?             Adi buru-buru masuk ke dalam studio 3 untuk memastikan. Kebetulan ia juga nonton di studio 3. Dua baris di depannya, seorang cewek jangkung yang dikenalnya sedang mencari tempat duduk. Mata Adi tidak salah. Itu Sam. Benar-benar Sam. Hampir saja Adi memanggilnya, ketika ia terkejut melihat pria yang ada di sampingnya cewek jangkung itu. Denis. Ada apa ini? Mengapa dirinya sama sekali tidak tahu apa-apa? Adi tergelak sinis. Rupanya kencan inilah yang membuat Sam begitu gelisah sejak dua hari yang lalu. Pantas saja tiba-tiba pagi ini Sam begitu misterius. Kebingungannya terjawab sudah. Sejenak hatinya terbakar oleh rasa cemburu. Cemburu? Ngapain cemburu? Sam bukan siapa-siapa. Kemarin itu hanya sekedar permainan. Tidak lebih.             Sekilas, Sam merasa ada yang memperhatikannya dari belakang. Ia menoleh ke arah bangku belakang, seolah-olah mencari seseorang. Namun ia tidak menemukan siapa-siapa yang dikenalnya.             “Ada siapa?” tanya Denis penasaran.             “Nggak. Nggak ada siapa-siapa. Salah orang,” jawab Sam.             Sam kembali duduk menghadap ke layar dan menikmati popcornnya, tanpa menyadari seseorang berusaha menyembunyikan wajahnya di balik kotak popcorn.             Bagus, Sam! Lo enak-enakan pacaran, sementara gue setengah mati ngumpetin muka gue biar nggak kepergok, batin Adi.             Film di mulai. Semua lampu redup. Sepanjang film diputar, Sam beberapa kali mengambil popcorn. Tahu-tahu tangannya di tangkap Denis dan dipegang terus menerus.             Deg! Denis mau apa?             Dengan lembut Denis mengelus-elus tangan Sam.             Sam meleleh di kursinya. Oh, Denis! Betapa Sam sangat merindukan belaian itu. Jantungnya berdebar-debar tidak karuan. Inilah cowok yang dulu pernah membuatnya jatuh cinta, dan membuatnya terjatuh sekali lagi.             Denis mengecup tangan Sam perlahan.             Sam pura-pura menonton, tapi ia tahu jelas bahwa dirinya sama sekali tidak bisa berkonsentrasi. Perasaannya melambung tinggi. Seolah-olah waktu enam tahun tidak pernah ada di antara mereka... Denis... bolehkah aku mencintaimu sekali lagi... bisik Sam dalam hati...             Seandainya waktu mengizinkan... ******* Bantu MASUKIN KE LIBRARY untuk karya Author berjudul MY SEXY IT GUY (ENGLISH) dan ROMANCE OF LIGHT & NIGHT: ACROSS TWO WORLDS. Author butuh minimal 500 koleksi untuk lomba. Mohon dibantu ya. Makasih. MY SEXY IT GUY INDO sudah ada yaaa....
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN