Chapter 2 : Ketiduran

557 Kata
Hari ini betul-betul hari yang mendebarkan bagi Vania. Sebagai seorang mahasiswa jurusan desain komunikasi visual, ia tidak pernah membayangkan akan bekerja magang di gedung perkantoran mewah di bilangan Jalan Sudirman. Ia berpakaian sangat rapi. Setelan blazer warna pink, membuatnya tampak manis.  Setelah menyelesaikan urusan administrasi dan berfoto untuk keperluan personalia, ia mendapatkan id card sementara. Dengan patuh dan mata berbinar-binar, ia mengikuti Thomas, staf recruitment, dari bagian SDM, untuk diperkenalkan ke atasan barunya, dan sejumlah karyawan yang segera menjadi rekan kerjanya. Vania membayangkan kantor McCloud Company pasti dipenuhi dengan desain-desain andalannya di dinding-dinding, sesuai kelasnya sebagai perusahaan iklan papan atas. Suasananya pastilah sangat sibuk dan penuh dengan orang-orang yang bekerja ke sana kemari.  Dugaan Vania tidak terlalu meleset, kecuali dengan tambahan bahwa isi kantor itu sangat berantakan dan terkesan semrawut. Ia dibawa masuk ke dalam ruang khusus seorang Creative Director yang akan menjadi pimpinannya, Ivan Handoyo. Ruangan ini tidak besar, namun jauh lebih rapi dibandingkan kantor bagian luar. “Pagi, Pak Ivan. Saya mengantarkan karyawan magang untuk Bapak,” kata Thomas dengan sopan. Ia memberi isyarat agar Vania duduk di kursi yang tersedia di hadapannya.              Pak Ivan menghentikan pekerjaannya, dan memandang Vania dengan ramah. Rasa gugup Vania jadi sedikit berkurang karenanya. Ia berusaha tersenyum manis, lalu duduk dengan sopan.              “Selamat pagi. Kalau tidak salah Vania, kan?” tanya Pak Ivan sambil menjabat tangan Vania dengan senyum lebarnya.              “Iya, Pak. Selamat pagi,” balas Vania.              “Baiklah. Kalau begitu, saya tinggal dulu. Mari Pak Ivan, Vania,” pamit Thomas tersenyum.              “Oke, Vania. Selamat datang di kantor kami. Rencananya kamu bakalan magang sebulan, ya? Sudah kenalan dengan yang lain?” tanya Pak Ivan, meski ia tahu jelas karyawan barunya itu belum berkenalan dengan siapa pun.              Vania menggeleng.              “Kalau begitu, kita kenalan sekarang, sekalian saya tunjukkan meja kamu bekerja nantinya,” kata Pak Ivan sambil beranjak dari kursinya.              “Hari ini kantor agak berantakan karena ada deadline. Kamu bisa lihat sendiri. Seperti yang sudah kamu tahu, kita bakal sering kerja lembur, bahkan sampai menginap. Dalam hal ini cewek maupun cowok tidak ada perbedaan. Kamu juga bakalan merasakan sendiri,” kata Pak Ivan nyengir lebar. Ia membuka pintu ruangannya, dan mempersilakan Vania keluar terlebih dahulu.              “Iya, Pak. Saya sudah siap,” jawab Vania dengan semangat yang khas mahasiswa magang. Ia berjalan mengikuti atasan barunya dan menebarkan pandangan ke sekelilingnya. Beberapa orang terlihat bekerja, sisanya sedang asyik menyeruput kopi atau tergeletak tidur di mejanya masing-masing.  Vania melangkah perlahan, berusaha tidak menimbulkan suara dengan sepatu stilletonya. Namun langkahnya terhenti, karena terantuk sesuatu yang menjulur keluar dari bawah meja.              Pak Ivan menghentikan langkahnya dan menendang-nendang perlahan kaki yang tergeletak seperti polisi tidur itu.              “Sam, bangun!! Sudah pagi!! Mau tidur sampai kapan?” seru Pak Ivan.              Terdengar erangan menggerutu dari kolong meja.              “Sam, kamu kan harus menemani Tina presentasi ke klien hari ini!!” seru Pak Ivan lagi sambil terus menendang-nendang kaki panjang yang berbalutkan celana jins dan sepatu kets yang sudah jelek.              Sam tersentak bangun dengan kaget sambil berteriak, “Hah?! Jam berapa sekarang? Mati gue!!!”              Bletak!! Kepalanya membentur langit-langit meja dengan mantap. Benturannya terdengar keras. Pasti sakit!!                                                            “Adaaaw!!!” jerit suara berat dan agak serak milik Sam dari kolong meja. Sambil mengusap-usap kepalanya yang sakit, ia merangkak keluar dan berusaha berdiri dengan sempoyongan.  Sam meringis sambil menganggukkan kepalanya, melihat raut wajah bosnya yang siap menendangnya kapan saja saking malunya.   
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN