Hari ini, Sam sangat gelisah. Sejak tadi ia ribut soal pakaian, juga tata rias wajah. Dari tindak-tanduknya, Adi mengetahui kalau cewek itu pasti ada janji kencan dengan Denis. Darah Adi mendidih. Denis. Apa kelebihan pria b******k itu di mata Sam? Tidakkah Sam bisa melihat bahwa di dunia ini manusia berjenis kelamin pria bukan hanya Denis? Tapi, ia tidak berhak protes. Siapa dia? Pacar bukan. Suami bukan. Hanya teman kos. Tidak lebih. Hatinya menjadi sakit jika mengingat hal itu.
Baru-baru ini Adi menyadari bahwa perasaannya terhadap Sam kini sudah melebihi batas pertemanan. Entah sejak kapan, bahkan ia sendiri tidak tahu. Yang jelas, ia menginginkan Sam. Bukan sebagai teman. Tetapi sebagai kekasihnya. Sebagai miliknya. Suatu kenyataan yang pahit mengingat Sam sama sekali tidak menyadari perasaannya sedikit pun.
“Udah mau pergi?” tanya Adi muram.
“Ya. Sebentar lagi berangkat,” sahut Sam.
Sam terlihat manis sekali malam ini, batin Adi. Baru kali ini Sam keluar malam dengan Denis. Sebagai seorang laki-laki Adi seolah mendapat firasat buruk... firasat bahwa ia akan kehilangan wanita yang ada di hadapannya...
“Kencan sama Denis?” tanya Adi memastikan.
“He-eh,” sahut Sam.
Sejenak, d**a Adi terasa sangat nyeri. Namun ia tidak bisa berbuat apa-apa.
“Sam... mengenai Denis... dia...” kata Adi bingung meneruskan kata-katanya.
Jangan pergi Sam! Jangan pergi dengan cowok b******k itu!
“Denis kenapa?” tanya Sam bingung.
“Pokoknya... kamu jangan mau kalau...” Adi kembali tidak bisa menemukan kata-kata yang tepat.
Dasar t***l! Cepat atau lambat cowok macam Denis akan mengajakmu ke tempat tidur, lalu mencampakkanmu begitu saja. Jangan sampai termakan godaan si b******k j*****m itu, Sam.
“Jangan mau apa?” tanya Sam bingung.
“Yah, lo tahu sendiri,” kata Adi tidak jelas.
“Aduh, gue nggak ngerti lo ngomong apaan. Gue pergi dulu, ya,” kata Sam mengambil kunci mobil yang tergeletak di meja makan.
“Sam!” teriak Adi tiba-tiba.
Sam menoleh ke arahnya tidak sabaran.
“Kalau ada apa-apa, telepon gue. Ketok pintu gue. Gue... gue pasti ada untuk elo...” kata Adi memberanikan diri.
“Sip. Gue pergi dulu. Da-daah,” kata Sam sambil naik ke atas kijang tuanya dan berlalu dari hadapan Adi.
Sam jangan pergi... Jangan pergi...
“Brengseeeek!!!” teriak Adi keras-keras. Baru kali ini ia benar-benar merasa benci pada dirinya sendiri. Benci karena tidak bisa mencegah kepergian Sam.
Sam menyetir mobilnya menuju ke daerah Tanjung Duren, tempat Denis tinggal. Hari ini cowok itu berkeras hendak menjemputnya ke rumah. Sam mati-matian menolaknya. Jangan sampai ketahuan kalau ia tinggal serumah dengan Adi. Sebagai gantinya, Sam menawarkan diri untuk datang ke rumah Denis. Akhirnya setelah dibujuk dengan susah payah, Denis bersedia. Jalanan agak macet. Maklum sudah sore. Begitu banyak pasangan muda-mudi kota metropolitan yang ingin mencari hiburan di luar rumah. Sam melongok ke papan nama jalan. Baru pertama kali ia pergi ke rumah Denis. Cowok itu membelinya sekitar setahun yang lalu. Sam berbelok perlahan. Rumah Denis sudah dekat. Ia bisa melihat Honda Accord biru metalik milik Denis.
Tiiiiiiin....
Denis bisa mendengar suara klakson mobil kijang tua milik Samantha. Ia bergegas membukakan pintu.
“Hai,” kata Sam sambil turun dari mobilnya.
“Cantik sekali,” kata Denis mencium bibir Sam dengan ringan.
Jantung Sam terlonjak. Pada kencan-kencan sebelumnya, Denis hanya memberikan kecupan ringan di pipi. Ciuman Denis membuat Sam terkejut, namun juga senang. Mukanya memerah, persis anak abg. Sedikit ketinggalan zaman.
“Sudah siap? Kita jalan sekarang,” ajak Denis.
Mereka langsung naik ke mobil milik Denis dan melaju ke restoran mewah di lantai teratas Menara Imperium. Denis memeluk pinggang Sam dengan mesra. Mereka duduk di meja yang sudah dipesan Denis sebelumnya. Meja itu terletak di pinggir, dekat jendela kaca, sehingga Sam bisa melihat dengan jelas pemandangan kota Jakarta di malam hari. Perlahan-lahan lantai bergerak memutar, sehingga pemandangan di luar kaca bisa terlihat dengan jelas dari berbagai sudut. Denis memesan makanan yang namanya saja tidak bisa Sam ingat. Harganya jelas-jelas mahal. Sedikitnya lima ratus ribu seorang. Yang jelas, Sam benar-benar bahagia.
“Mau ke mana sekarang? Ada kafe di bawah,” kata Denis menawarkan.
“Nggak deh. Gue nggak terlalu suka. Mending nonton midnight,” usul Sam.
“Oke, deh. Kalo begitu kita nonton di Plaza Senayan aja,” ajak Denis.
******
Bantu MASUKIN KE LIBRARY untuk 2 karya Author berjudul MY SEXY IT GUY (ENGLISH) dan ROMANCE OF LIGHT & NIGHT: ACROSS TWO WORLDS. Author butuh minimal 500 koleksi untuk lomba. Mohon dibantu ya. Makasih. MY SEXY IT GUY Indo sudah ada yaaa....