Chapter 36: Kecelakaan Kecil

828 Kata
Sepanjang perjalanan, beberapa kehebohan masih terus berlanjut. Beberapa anak berusaha untuk memainkan tongkat perseneling dan mencoba-coba memegang kemudi. Guru-guru berkali-kali menghalangi anak-anak mengganggu tugas sopir. Benar-benar melelahkan. Pak Sopir terus membawa rombongan melintasi tol, lalu jalan-jalan di pegunungan. Beberapa kali bus berguncang karena ada batu di tengah jalan atau jalanan tidak rata. Namun sisanya aman-aman saja. Setelah melintasi hamparan kebun teh yang mirip permadani hijau, beberapa kali menaiki tanjakan dan melintasi tikungan, akhirnya bus karyawisata itu sampai juga ke Taman Safari. “Okay, children!! We are going to see animals!!” seru Irma menggantikan Fifi.             “Yeah!!!” jerit anak-anak melengking.             “Look!! Giraffes. Jerapah. Repeat after me, children!!” seru Irma semangat.             “Giraffe. Jerapah!!” seru anak-anak serempak.             “Giraffe makannya apa, Miss?” tanya seorang anak.             “Giraffe makannya rumput,” sahut Irma.             Tampaknya perhatian anak-anak terfokus pada hewan-hewan yang terlihat dari kaca jendela. Untuk sementara Adi dan Sam bisa menarik napas lega.             Bus itu perlahan-lahan memasuki kawasan singa. Jalanan sejak tadi berkali-kali turun agak curam. Tanpa disadari seorang pun, tas ransel milik Fifi bergeser sedikit demi sedikit. Hanya sedikit goncangan atau turunan curam, maka tas itu akan terbalik. Bus melaju pelan di turunan. Jalanan yang tidak rata membuat bus terguncang. Tiba-tiba...             GUBRAK!!             BRAK!!! BLETAKKK!!!             Tas Fifi jatuh menghantam kepala Pak Sopir hingga ia tidak bangun lagi. Bus berjalan tanpa kendali dengan kecepatan meninggi. Di depan, ada seekor singa jantan yang hendak menyeberang.             “Pak sopiiir!!!” jerit Irma panik, namun ia bingung untuk berbuat apa.             “Singaaa!!!! Nabrak!! Nabrak!!!” jerit Fifi.             “Oo...oh!! Gawat!!” seru Adi sambil berlari bagaikan kesetanan menuju bagian depan bus.             “Minggir!! Minggir!!” teriak Adi panik.             Para pengasuh menjerit-jerit ketakutan, tanpa berusaha menolong.             Sam menyusul di belakangnya dengan tergesa-gesa.             “Singa!!! Minggiiir!!!” Yeni berteriak sambil melambai-lambaikan tangannya ke arah singa.             Adi buru-buru menarik rem tangan sekuat tenaga, sementara Sam berusaha menyelinap dan menjejalkan kakinya menginjak pedal rem sedalam mungkin.             “Aaaaakhhh!!!!” jerit penumpang bus histeris.             Ckiiiiiiit!!!!! Bus terlonjak mendadak, seperti terbatuk-batuk, lalu berhenti tepat pada waktunya. Singa itu menoleh, menggeram sebentar, lalu berjalan melintasi jalan dengan waspada.             Semua orang masih terdiam. Menahan napas. Tegang.             Sam masih memejamkan matanya tidak berani melihat. Ia sudah bersiap akan kemungkinan terburuk.             “Sam?” tanya Adi serak. Napasnya memburu. “Kita berhasil!!”             “Horeee!!!” semua orang langsung bersorak lega.             Sam membuka matanya perlahan, dan mendapati bahwa tidak terjadi tabrakan atau kecelakaan. “Oh, syukurlah!!!” serunya sambil menghembuskan napas lega. Sedetik lalu jantungnya serasa melayang.             Mesin bus mati karena kejadian barusan.             “Bagaimana keadaan Pak Sopir?” tanya Sam, masih dalam posisi menginjak pedal rem.             “Nggak tahu. Dia nggak bergerak,” jawab Adi tegang.             “Oh no,” gumam Sam pelan.             “Elo bisa berdiri?” tanya Adi sambil mengulurkan tangannya. Sam menyambut tangan Adi dan berusaha berdiri.             Fifi pelan-pelan mendekati Pak Sopir dan memeriksa keadaannya. “Masih bernapas!” katanya ketakutan.             “Bagus,” kata Adi menarik napas lega.             “Kenapa Pak Sopir tiba-tiba pingsan?” tanya Sam.             “Ada tas jatuh ke atas kepalanya,” kata Irma yang melihat kejadian itu.             “Masa ketiban tas aja pingsan? Tas siapa?” tanya Adi tidak percaya.             Fifi dengan takut-takut mengangkat tangannya.             “Elo masukin apa aja ke dalam tas, Fi? Boleh gue lihat?” tanya Sam penasaran.             Fifi mengangguk ketakutan. Ia mulai menangis. Yeni menuntunnya untuk duduk, sementara Irma mengipasi Pak Sopir yang belum kunjung sadar. Sam dengan tidak sabaran mengambil tas ransel Fifi yang tergeletak untuk memeriksa.             “Busyet, deh! Berat amat! Apaan aja isinya?” seru Sam bingung.             Begitu isi tas dibuka Adi langsung geleng-geleng kepala. “Pantes aja! Nggak heran kalo orang sampe pingsan kalo ketiban.”             “Ensiklopedi bergambar setebel gaban. Kamus Oxford Inggris-Inggris guede, plus kamus Inggris-Indonesia. Buat apaan?” tanya Sam jengkel.             “Kan, kalo anak-anak mau lihat penjelasan tentang hewan bisa lihat di ensiklopedi atau kamus,” kata Fifi terisak.             “Termos gede sampe tiga biji. Isinya apaan aja? Kan udah bawa air dua dus?” tanya Adi heran.             “Isinya tea latte, green tea, dan earl grey tea. Buat piknik,” jawab Fifi makin tersedu-sedu. Yeni mengelus-elus pundak Fifi, berusaha menghibur.             “Barbel empat biji? Ini lagi makin nggak nyambung. Mau olahraga di alam terbuka?” tanya Sam makin jengkel, matanya melotot, nyaris meloncat keluar.             “Buat pemberat karpet piknik. Siapa tahu anginnya kencang. Memangnya salah?” tangis Fifi makin keras.             “Nggak heran. Siapa yang nggak pingsan kena barbel empat biji di kepala?” sahut Sam sambil geleng-geleng kepala.             “Ini apa lagi, Fi?” tanya Adi sambil mengeluarkan tiga buah kotak plastik kedap air.             “Bekal kita bertiga. Tadi pagi kan aku sudah masak buat Sam dan Adi juga,” kata Fifi terisak-isak. Ia merasa sangat malu dan bersalah.             Adi jadi tidak tega.             “Si Bapak gimana?” tanya Adi mengalihkan perhatian.             Irma mengangkat bahunya putus asa. “Belum sadar. Tadi aku raba kepalanya benjol. Jadi gimana?”             “Ya, udah. Digotong aja ke bangku barisan depan yang isi tiga orang,” kata Sam. Ia mendekati bangku sopir. Adi mengambil inisiatif untuk menggotong bagian atas.             “Gue bagian atas, lo bagian kaki aja. Kita angkat berdua. Siap?” tanya Adi memberi isyarat.             Sam mengangguk. “Siap. Satu... dua... angkat...” ******* Bantu MASUKIN KE LIBRARY untuk 2 karya Author berjudul MY SEXY IT GUY dan ROMANCE OF LIGHT & NIGHT: ACROSS TWO WORLDS. Author butuh minimal 500 koleksi untuk lomba. Mohon dibantu ya. Makasih. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN