ni. Pikirannya campur aduk, bahkan dia tak mengerti dengan jalan pikiran Reyna. "Dek, kenapa kamu gitu banget sih! Kakak juga disini mau ikhtiar." Lirih Rahma, dia mengusap air mata secara kasar. Bahkan hanya untuk berdiri dan berjalan untuk sampai pada Revan pun rasanya tak dapat Rahma lakukan. Ia begitu lemah. *** Ternyata benar, proses pendewasaan diri itu sangat berat. Ujian untuk sampai pada kedewasaan itu begitu berat. Sepanjang jalan tak ada yang bisa Reyna lakukan selain melamun dan memegang tasbih digital. Mengucapkan lafadz astagfirullah sampai ratusan kali. Air matanya sesekali mengalir, sungguh dia tak dapat menahan air matanya untuk tidak keluar. "Permisi, mbak." Reyna terlonjak kaget, saat seseorang duduk di sampingnya. Perempuan dengan gamis syar'i serta kerudung yang s

