Fara terbangun pukul tiga pagi dengan kepala berat. Susah payah ia membuka mata dan mendapati dirinya berada dalam sebuah kamar. Matanya menyipit menatap langit-langit, mengumpulkan kesadarannya. Bau amis samar menyeruak menusuk hidungnya. Ia terbaring lemah. Sekujur tubuhnya sakit. Ia menoleh ke samping dan terkesiap melihat Andra yang tertidur pulas memunggunginya. Fara menggerakkan tubuhnya pelan. Tangannya seperti mati rasa. Ia mendapati tubuhnya yang masih telanjang. Ia menyibak selimutnya pelan dan mendapati ada memar dimana-mana. Pelan-pelan ia berusaha bangkit tanpa suara dari tempat tidur. Mukanya terasa kebas dan sakit. Kakinya menggigil. Punggungnya perih dan perutnya ngilu. Saat ia berdiri, ia membekap mulutnya menahan rintihan ketika selangkangannya terasa amat sakit dan

