37

1419 Kata

Setiap harinya, Lina selalu terlihat murung juga sedih semenjak dia tau kalau calon anaknya telah tiada. Setiap dia sendirian dia pasti akan menangis merutuki kebodohannya dengan tak menyadari kalau dia sedang hamil ditambah lagi dia telah membuat anaknya gugur. Penyesalan selalu menghantui Lina. "Lin..." Anta menghela nafas karena lagi-lagi Lina melamun dan melewatkan jam makannya. Anta mengerti kenapa Lina seperti sekarang, dia baru tau beberapa hari yang lalu saat Arland berbicara padanya yang baru sadar, bahwa mereka memiliki seorang bayi tapi sayangnya bayi mereka tak dapat diselamatkan karena kecelakaan yang menimpa Lina. Anta menatap Lina yang sedang melamun, tidak hanya Lina yang sedih, dia juga Fernan dan Arland ikut sedih karena anak mereka pergi bahkan sebelum mereka menyada

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN