Semua Karena Aku

1457 Kata
Ben masih terdiam, ia memandang Fiki yang tersenyum padanya, sebuah senyum cibiran. Ben melirik Melanie yang masih disandra oleh Dito dan Farhan. Gadis itu memang tidak diikat, itu tidak perlu. Ia memang kalah dalam duel pertamannya di ring basket, tapi ia akan berusaha menang di duel kedua ini atau Melanie yang akan menanggung akibatnya. Fiki adalah orang yang selalu melakukan apa yang ia ucapkan. Jika Ben kalah maka Fiki akan melakukan ancamannya terhadap Melanie, dan Ben tidak akan membiarkan itu terjadi. Fiki berjalan ke tengah lapangan, Aldi dan Remon yang sedari tadi menahan Ben melepaskannya. Rasa sakit di ulu hatinya masih sedikit terasa, semoga saja ia bisa bertahan sampai akhir. Ben berdiri dan masuk ke posisinya. Keduanya memasang kuda-kuda dan saling menyerang. Ben jatuh di dua menit pertama, tapi ia segera bangkit dan membalas Fiki. Ia bahkan berhasil menjatuhkan Fiki beberapa kali. Tapi Fiki juga cukup kuat. Pertarungan mereka cukup serius, keduanya sama-sama memiliki hasrat untuk membunuh satu sama lain. Wajah mereka babak belur, darah juga sempat muncrat dari pelipis yang pecah, hidung yang patah. Tapi pada akhirnya Ben mendapat hantaman yang membuatnya kalah telak. Ulu hatinya yang sudah dihantam oleh Remon tadi kembali mendapat pukulan susulan oleh Fiki. Membuat darah keluar dari mulutnya, Fiki memberi pukulan susulan di wajahnya hingga ia jatuh tersungkur ke lantai tepat pada waktu duel habis. Waktu yang disepakati untuk duel kedua itu masih sama, yaitu 10 menit. "Ben!" seru Melanie. Ben merasakan Fiki tersenyum dan tertawa atas kemenangannya. Fiki berjalan ke arah Melanie tertahan. Ben berusaha bangkit, menahan rasa sakit di ulu hatinya. Ia melihat Fiki di dekat Melanie. Pemuda itu membungkuk dan berbisik. "Lo lihat, jagoan lo udah tumbang, apa lo masih mau bertahan di sampingnya?" pertanyaan Fiki memang sedikit aneh, apa yang sebenarnya ingin disampaikannya lewat peristiwa itu? Benarkah ini hanya menyangkut permusuhannya dengan Ben? "Kita lihat apa yang bisa Ben lakukan sekarang!" katanya sambil mengangkat tangannya, meletakkannya di kancing baju Melanie bagian paling atas dan mulai membukanya. Melanie meronta. "Kamu mau apa? Singkirkan tanganmu!" teriaknya, tapi Fiki masih saja melancarkan aksinya. Ia memaksa membuka baju seragam gadis itu. "Lepaskan aku. Jangan, tidak!" tangisnya tapi Fiki sama sekali tak memperdulikan itu. "Fiki!" Ben berdiri dan berjalan ke arah Fiki untuk menghentikannya dengan kepayahan, tapi ia dihadang Aldi dan yang lainnya. Mereka pun berkelahi, dan perkelahian itu sungguh tak bisa Ben takhlukan, ia jatuh tersungkur dalam keadaan itu. Beberapa masih memukul dan menendangnya hingga ia tak bereaksi lagi. Fiki membakar seragam Melanie yang sudah berhasil ia lepaskan. Gadis itu sekarang sedang duduk di sudut ruangan sambil menutup tubuhnya dengan kedua tangannya dan menangis tersedu. Ia sempat melihat Ben dikeroyok saat itu. Fiki berjalan ke arah Ruben tersungkur, bercak darah berceceran di lantai. Fiki jongkok dan berbisik. "Ruben, lo itu memang pecundang, sampai kapan pun lo nggak bakalan bisa ngalahin gue. Urusan kita belum selesai!" katanya menepuk pipi Ruben dan menyingkir diikuti yang lainnya. Apa maksudnya urusan kita belum selesai, Fiki pasti masih merencanakan sesuatu. Ben mendengar Melanie menangis , ia berusaha bangkit. Memang sempat jatuh beberapa kali tapi akhirnya ia berhasil mendapatkan keseimbangannya kembali. Ia merangkak ke arah Melanie. "Mel!" desisnya hampir tak terdengar. Ben membuka baju seragamnya dan menyelimutkannya ke tubuh gadis itu. Melanie menoleh, ia melihat Ben yang penuh dengan luka, airmatanya semakin menjadi. Ia pun menjatuhkan dirinya ke pelukan pemuda itu. Ben memeluknya erat, membiarkan gadis itu menangis di pelukannya. "Maafin gue!" desis Ben. Jam istirahat kedua sudah tiba, anak-anak pada berhamburan keluar kelas. Mereka mendengar isu Ben tentang insiden di lapangan basket. Mereka pun berlari ke sana. Rano ketua kelas Ruben menghampiri Rico yang sedang berjalan bersama Tomi. Mereka memang mencari Ben dan Melanie. "Ric, gue denger Ben duel sama Fiki di lapangan basket dan Melanie di sandra!" "Apa!" seru Tomi dan Rico bersamaan. "Eh, jangan main-main lo?" seru Rico. "Swear, gue mana berani bohong sih sama kalian, tuh anak-anak lagi pada ke sana!" jawabnya lagi. Tanpa pikir panjang mereka pun berlari ke lapangan basket. *** Ben mendengar derap langkah ke arah mereka, juga ada suara ribut. Ia melepaskan pelukannya dan menggendong Melanie di dadanya. Melanie menatap Ben, wajahnya parah sekali. "Ben, aku bisa berjalan!" lirihnya, ia tahu Ben mencoba menahan rasa sakit di sekujur tubuhnya. Tapi Ben sama sekali tak menghiraukan hal itu, ia membawa Melanie keluar dari lapangan, meski sebenarnya kakinya berat sekali untuk melangkah. Anak-anak yang sudah sampai di sana pada berbisik melihat hal itu. Mereka saling bertanya apa yang terjadi tadi di lapangan basket. Beberapa anak memasuki lapangan basket dan memeriksa isinya. Mereka melihat gundukan kecil abu dari kain yang terbakar. Ada bercak darah di lantai, mereka sudah bisa menebak itu pasti darah Ruben dilihat dari wajahnya yang memang cukup parah. Salut, ia masih sadar dan bisa berjalan. Ben terus berjalan tak memperdulikan semua anak yang melihat mereka dalam keadaan seperti itu. Tomi dan Rico menghampirinya, keduanya cukup tercengang melihat pemandangan itu. Keadaan temannya berantakan. "Ben apa yang terjadi?" tanya Tomi. "Ini perbuatan Fiki. Sungguh keterlaluan dia!" geram Rico. Dalam hati ia pasti akan membalas b******n itu. Ben tak menjawab semua pertanyaan temannya. Bukan tak mau tapi tak bisa, ia menutup mulutnya karena ia sedang menggerutu menahan sakit. Tomi dan Rico berjalan mengikuti Ben ke parkiran. Ben menurunkan Melanie di samping mobilnya, ia mengambil kunci mobil di saku celananya, membuka kuncinya. Dan ketika ia hendak membuka pintu mobilnya tiba-tiba saja .... Brukkk! "Ben!" seru Melanie. "Ben!" seru Rico dan Tomi pula. Ruben jatuh tak sadarkan diri, mereka langsung membawanya ke rumah sakit. Dalam perjalanan ke rumah sakit Melanie pun pingsan karena terlalu panik memikirkan keadaan Ruben. Tomi menunggu Ruben yang masih di ruang ICU, sementara Rico menunggu Melanie yang masih pingsan di UGD. Ia sudah mendapat pengobatan untuk luka di wajahnya karena tadi sempat mendapat beberapa tamparan dari Fiki dan teman-temannya. Melanie membuka mata perlahan, ia melihat Rico di sampingnya. "Ric!" desisnya. "Mel. Lo udah sadar. Syukurlah, gue khawatir banget tahu nggak!" serunya. "Ben, Bagaimana Ruben!" tanyanya. "Ben masih di ICU!" jawabnya. Melanie meluncur turun dari pembaringannya "Lo mau ke mana, Mel?" "Aku harus melihatnya!" "Lo masih butuh istirahat!" "Aku nggak bisa diam di sini sementara Ruben sedang meregang nyawa!" serunya. Rico tahu betul perasaan gadis itu terhadap sahabatnya, maka ia pun membantu Melanie ke ICU. Tomi masih duduk di sana. Ia melihat Melanie dan Rico mendekat. Ia bangkit. "Mel, lo udah nggak apa-apa?" tanya Tomi. "Aku baik-baik saja!" jawabnya, "Tom, bagaimana keadaan Ben?" Tomi menggeleng. Tak lama dari itu dokter keluar dari ruang ICU. "Dokter bagaimana keadaan teman kami?" tanya Rico. "Keadaannya masih belum stabil, ada luka di bagian dalam. Semoga saja tidak parah!" jelas Dokter. "Dia akan segera pulih kan, dok?" tanya Tomi. Tubuh Melanie lemas, keadaan Ruben cukup parah, bahkan luka dalam. Untung tidak ada tulang yang patah. "Kami akan berusaha sebaik mungkin!" Tambah dokter lalu pergi. "Kenapa dia begitu bodoh?" maki Melanie, "Nggak seharusnya dia menerima tantangan Fiki!" tangisnya, "Mereka memang bermusuhan Mel, lo nggak perlu nylahin diri lo sendiri!" seru Rico. "Tapi kalau Fiki nggak menyandraku, mungkin nggak akan seperti ini!" "Itu artinya Ruben peduli sama lo!" "Tapi nggak harus membahayakan dirinya sendiri seperti itu!" marahnya, Saat itu Erika datang bersama Dennis. Dennis langsung kabur dari kantor setelah mamanya menelpon tadi. "Di mana Ruben?" tanya Erika. "Masih di dalam, Tante!" jawab Tomi. Erika hendak masuk tapi Tomi menghalangi, "Tante, kata dokter keadaan Ben masih kritis kita belum boleh melihatnya!" "Apa yang sebenarnya terjadi? Apakah yang kudengar dari pihak sekolah itu benar. Di mana gadis itu?" seru Erika dengan nada marah. Tomi tak menjawab. Erika menggeser pandangannya ke arah Melanie dan Rico, ia mendekatinya. Memandangnya dalam. Pandangan itu sungguh membuat Melanie lemas. "Kamu Melanie kan. Kamu yang membuat putraku terkapar di sana?" "Tante ini bukan salah Melanie!" bela Rico. "Diam kamu. Jangan ikut camput!" seru Erika pada Rico, ia kemudian kembali menatap Melanie dengan tatapan tajam dan marah. "Jika terjadi sesuatu dengan Ruben aku nggak akan memaafkan kamu!" "Tante!" desis Melanie. "Lebih baik kamu pergi dari sini, aku muak melihatmu!" hardiknya. "Tante, jangan salahkan Melanie!" "Kenapa kamu membelanya, temanmu sedang terkapar di sana?" "Melanie teman kami juga! Dan dia cukup berarti buat Ruben!" jawab Rico. "Apa! " seru Erika, "Ben itu nggak membutuhkannya, dia yang menyebabkan Ben seperti itu!" Rico hendak angkat bicara tapi Erika sudah lebih dulu memotongnya sebelum ia sempat mengeluarkan protes. "Jangan membelanya lagi. Dia nggak pantas untuk dibela!" hardiknya. Erika lalu kembali menatap tajam Melanie, "Dan kamu, kenapa masih di sini. Kubilang pergi. Pergi!" seru Erika mendorongnya, ia hampir jatuh kalau Rico tak menangkapnya. Melanie terdiam, ia melihat Dennis di belakang mamanya. Pria itu memang tak mengucapkan apa pun dari mulutnya. Tapi tatapannya mengatakan sesuatu, sesuatu yang membenarkan perkataan ibunya. Sesuatu yang menyalahkannya atas apa yang terjadi dengan Ruben. Dan tatapan itu cukup membuat Melanie mengerti. Tanpa bicara Melanie berlari pergi dari sana. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN