Seperti biasa Tika tak mau diantar sampai ke rumahnya, tapi anehnya Ruben tak penah mempermasalahkan hal itu. Setelah mengantar Tika kini giliran menunggui Melanie deh. Ya, itu memang sudah rutinitasnya, ia tak mengijinkan Melanie pulang sendiri. Makanya jika Tomi dan Rico sibuk ya dirinya yang harus setia.
Ben menunggu Melanie hingga selesai, dalam perjalanan pulang ....
"Bagaimana acaramu ?" tanya Melanie.
"Lancar, kami pergi ke Master!"
"Oh ya. Bagaimana keadaan mereka, lama nggak ke sana!"
"Lain kali kita ke sana, mereka pada nanyain lo tuh!"
"Hubunganmu sendiri dengan Tika bagaimana?"
"Emm ... Lebih baik. Setidaknya dia senang bersama gue!"
"Baguslah. Aku bisa tenang!"
"Apa maksud lo?"
"Ya, aku akan merasa tenang karena kupikir kamu akan berubah!"
Ben tersenyum.
"Tapi lo nggak akan ninggalin gue karena itu kan?"
Melanie terdiam. Ia tak tahu harus menjawab apa.
Artika tidur menelungkup, matanya terkunci ke monitor di laptopnya. Ia sedang mengerjakan skripsinya. Itu sudah 90%, hampir siap. Mamanya masuk dan duduk di sisinya.
"Tika. Mama mau bicara!"
"Apa, Ma?" tanyanya sambil bangkit duduk.
"Kami sudah sepakat menentukan hari pertunanganmu dengan Dennis!"
Tika menunggu mamanya melanjutkan kalimatnya.
"Akan dilaksanakan tanggal 22 bulan ini!"
"Apa, Ma? Tanggal 22 bulan ini. Secepat itu, Ma?"
"Lebih cepat lebih baik kan, itu bertepatan dengan ulang tahun adiknya Dennis," jelas mamanya.
Tika malah teringat Ruben. Akhir-akhir ini hubungan mereka menjadi cukup dekat. Ruben adalah pemuda yang begitu berbeda, dibalik kehidupannya yang terkesan nakal ia memiliki kebaikan hati yang indah. Tingkah laku anak itu sungguh membuat Tika mulai goyah.
***
Di sekolah ....
Bell pulang sekolah sudah mendering, semua anak berhamburan meninggalkan gedung sekolah. Seperti biasa Ruben akan mengantar Melanie pulang dulu.
"Kamu langsung pulang?"
"Gue ada janji sama Tika, rencananya sih gue mau nembak dia hari ini!" jujurnya.
Ada ekspresi cemburu di wajah Melanie. Ben mengamati itu.
"Lo kenapa?"
Melanie menggeleng, "Aku harap kali ini kamu bisa serius, kita memang masih muda tapi terkadang kita harus bersikap dewasa. Apa yang kita lakukan sekarang akan berpengaruh untuk masa depan kita ... aww!"
"Iya-iya ... bawel!" Ben mencubit hidung gadis itu,
Melanie mengelus hidung mancungnya sambil mengerucutkan bibir.
"Gue cabut dulu," seru Ben sambil memasuki mobil,
Melanie diam menatap mobil mewah itu menjauh.
Aku berharap Artika bisa membuat kamu bahagia jika kamu memang serius sama dia, Ben.
***
Artika duduk di taman sambil membaca buku, Ben berjalan perlahan dan langsung duduk di sisinya. Tika menoleh.
"Sorry telat!" seru Ben.
"Dari mana?"
"Mengantar Melanie pulang!" jawabnya jujur.
"Dia nggak bisa pulang sendiri?"
"Belakangan terjadi sesuatu, gue khawatir saja!"
"Kamu sangat mencemaskannya?"
"Ada yang berusaha untuk menjauhkannya dari gue," akunya dengan nada yang sangat tak Rela,
"Sebenarnya hubungan kalian seperti apa?"
"Kita sudah membahasnya kemarin kan!"
"Jawab Ben!" pinta Tika,
"Melanie itu sangat penting buat gue, sejak Nenek meninggal ... gue kesepian. Cuma ada temen-temen gue doang. Lalu Melanie hadir," ceritanya, "Dia gadis yang berbeda. Sederhana, dewasa, dia bisa jadi temen, bisa jadi saudari ... bahkan terkadang dia cerewet kek Nenek. Dia juga pandai memasak, kadang-kadang ...,"
"Kenapa kamu nggak pacaran ajah sama dia?" potong Tika,
Ben menatapnya seketika.
Ben tersenyum getir, "Pacaran, sama Melanie?"
Tika mengangguk.
Ben menggaruk batang hidungnya dengan telunjuk, "Kenapa lo malah nyaranin gue buat pacaran sama Melanie?"
"Karena dia berarti banget buat kamu, kan?"
"Tapi hubungan gue sama Melanie itu sahabat,"
"Menurut kamu,"
"Ssshhh, hah. Bahas yang lain ajah ya!" pinta Ben, ia sendiri juga tak tahu kenapa? Ada sebuah rasa yang tak bisa diuraikan tentang Melanie.
"Well, ke mana kita sekarang?" tanya Ruben mengalihkan.
"Antar aku ke toko buku ya, ada yang mau aku beli!" pintanya.
Mereka ke toko buku, Ben hanya mengikuti ke mana gadis itu melangkah. Tika memungut beberapa buku. Saat hendak membayar Ben sudah keburu memberi sebuah kredit card kepada kasirnya.
"Ben, aku bisa bayar sendiri!"
"Nggak apa, kamu kan lagi sama gue, masa gue diam saja!" Jawabnya.
Melanie berjalan keluar, ia baru membeli bahan-bahan kue. Rencananya ia akan membuat birthday cake untuk ulang tahun Ruben nanti. Di tengah jalan langkahnya dihentikan oleh mobil yang menghadangnya di depan. Ia mengenali mobil itu, itu mobil Dennis. Melanie mulai panik. Ketika Dennis turun dan menghampirinya. Rasanya tubuhnya jadi kaku, ia ingin lari tapi kakinya terasa kelu. Tubuhnya gemetar, sekarang apalagi yang akan Dennis lakukan. Pria itu menatapnya tajam.
"Rupanya kamu sama sekali nggak menghiraukan peringatanku!"
"Aku ...,"
"Sudah berapa kali kubilang padamu, jauhi adikku!" hardiknya tegas tapi tanpa berteriak.
"Aku nggak bisa lakukan itu!"
"Jadi kamu ingin bermain dengan keluargaku? Kamu tahu. Ruben menolak pergi ke Amerika karena kamu, Ben juga menolak dijodohkan dengan Vera karena kamu. Dia pulang larut malam setiap hari juga karena kamu. Apa yang kamu lakukan hingga membuat adikku begitu tunduk padamu?" tuduhnya,
"Aku nggak melakukan apa pun, kami hanya berteman baik!"
"Rubbish!" umpat Dennis. Ia melangkah makin dekat, tapi Melanie hanya diam, ia bahkan tak bisa bergerak.
"Apa yang kamu inginkan? Berapa yang kamu mau untuk bisa meninggalkan Ruben?"
"Ini bukan soal uang. Aku nggak menginginkan apa-apa!"
"Kamu memanfaatkan kelemahan Ruben untuk memikat hatinya, licik sekali ya!"
"Kamu salah paham, aku nggak seperti itu!" air mata mulai terlihat di ujung matanya, tapi sepertinya Dennis tidak akan luluh karena itu.
"Lalu kamu seperti apa? Apa kamu tahu kamu itu nggak pantas di samping Ruben, seharusnya kamu tahu diri, siapa dirimu dan dari mana asalmu. Asal usulmu saja nggak jelas!"
"Aku mencintai Ruben!" aku Melanie,
Dennis malah tertawa.
"Cinta!" seru Dennis, ia memungut wajah Melanie dengan tangan kirinya, "Jangan bermimpi, kamu itu nggak pantas mencintai adikku. Aku peringatkan sekali lagi. Jauhi Ruben, atau kamu akan menyesal!" ancamnya.
Dennis melepaskannya lalu pergi.
Melanie masih terdiam, sepertinya kali ini Dennis tidak akan main-main dengan ancamannya. Dia pasti akan melakukan sesuatu. Tapi Melanie tak bisa berfikir apa yang bisa dilakukan oleh orang itu.
***
Ben mengajak Tika pergi ke dermaga, mereka duduk bersebelahan. Kakinya mencelup ke air, ada tawa kecil bergelak yang terdengar dari keduanya. Sunset sudah hampir menghilang, cahaya orangenya mulai memudar. Dan malam akan segera menggantikannya, dengan cahaya rembulan yang indah.
"Tempat ini indah!" seru Tika.
"Ini salah satu tempat favorit gue,"
"Sepertinya kamu punya banyak tempat favorite ya, selain di sini di mana lagi?"
"Banyak. Salah satunya tempat gue biasa nge-trak!"
"Nge-trak?" tanya Tika sedikit terkejut, untuk yang satu itu ia tentu tidak suka.
"Lo mau ikut ke sana?" tawar Ben.
"Yang satu itu aku nggk mau!" tolaknya.
Tika menyadari luka di pelipis Ben, "Wajahmu itu ... hasil yang kamu dapat dari balapan liar ya?" terkanya,
Ben hanya tersenyum dan mengangkat alisnya.
"Tempo hari wajahmu babak belur karena berkelahi, sekarang baretan aspal, besok apalagi?"
"Bukankah gue jadi tambah ganteng!"
"Ganteng? Berantakan iya!" timpal Tika.
Mereka tertawa bersama.
Akhirnya mereka terdiam beberapa saat.
"Tika. Boleh gue katakan sesuatu?" tanya Ben meminta ijin.
"Katakan saja!"
"Gue ... sepertinya gue suka sama lo!" ungkapnya.
Tika menolehnya seketika, ia bahkan tak pernah menyangka Ben akan katakan itu secepat ini. Belakangan hubungan mereka memang semakin dekat.
Ben juga menatapnya, dalam.
"Gue nggak pernah mengatakan hal ini pada siapa pun sebelumnya, tapi entah mengapa ini jadi penting bagi gue buat bilang sama lo. Sejak pertama melihat lo di lampu merah itu, di bawah payung ... lo terlihat ... begitu sempurna, gue bahkan nggak bisa melupakan hari itu!" ungkapnya,
"Itu sebabnya kamu mengikutiku?"
"Ya. Gue putuskan buat mengenal lo. Dan rasanya ... gue nggak mau main-main lagi!"
"Ben!"
"Gue suka sama lo, bahkan mungkin lebih!" ungkapnya lagi.
Mereka bertatapan. Mata indah pemuda itu memang mampu menyihir banyak gadis. Mata yang jernih seperti kolam, dengan pupil warna abu-abu. Erika, mamanya memiliki darah Kanada. Perlahan Ben mendekat, dan Tika hanya diam seolah juga menginginkan itu.
Tapi ketika Ben hampir sampai ia teringat Dennis. Bukankah ia mencintai Dennis bukan Ruben, dan yang akan menjadi suaminya adalah Dennis, tak seharusnya ia berfikir untuk mendua dengan pemuda ini. Tika menghindar dan memalingkan wajah. Membuat Ben terhenti. Ben kembali ke posisinya.
"Ben. Kita nggak seharusnya seperti ini!"
"Kenapa?"
"Karena ... karena aku ... aku mencintai pria lain!"
"Apa!" sekali lagi Ben menatapnya. Kali ini dengan pandangan yang aneh.
"Aku akan bertunangan dengannya dalam waktu dekat ini!"
"Dan kamu baru mengatakannya sekarang!"
"Aku tahu harusnya kukatakan dari awal soal statusku. Tapi belakangan ini hubungan kita jadi semakin dekat, aku jadi mengenalmu lebih jauh. Kebaikan hatimu, tingkah lakumu. Itu sungguh membuatku tak mampu untuk mengatakan yang sesungguhnya!"
"Tapi lo suka sama gue juga kan?"
"Ben. Aku ...,"
"Kalian belum bertunangan kan, baru akan? Jadi masih bisa dibatalkan bukan!"
"Aku nggak bisa membatalkannya!"
"Kenapa?" tanyanya sambil berdiri. Tika juga ikut berdiri.
"Kupikir aku mencintainya!"
"Lalu?"
"Aku nggak tahu. Aku nggak tahu harus berbuat apa sekarang!"
"Gimana sama gue?"
" Ben!"
"Jawab jujur, lo suka atau nggak sama gue?"
"A, aku ...," Tika memalingkan wajah, "Aku nggak tahu," sebutir airmata jatuh menggelindingi pipinya.
Ben masih menatapnya, "Ok, lo nggak perlu jawab sekarang. Tapi gue tetep nunggu jawaban lo, gue serius!"
"Ben,"
"Kalau lo suka sama gue, lo harus batalin pertunangan lo!"
Tika menggeleng, kembali menatap pemuda itu.
"Dan kalau lo kasih gue kesempatan, gue janji bakal berusaha menjadi pria yang lebih dewasa dan betanggung jawab! Gue bakal jadi pria sesuai keinginan lo!"
"Nggak. Aku lebih suka kamu yang menjadi dirimu sendiri, kamu nggak perlu berubah menjadi siapa pun!" pinta Tika.
"Apa itu artinya lo suka sama gue?"
"Bukan begitu, Ben. Tapi ...,"
"Kalau begitu lo bisa pilih sekarang dong?!"
"Ben,"
"Lo pilih gue apa dia?"
Tika menggerakkan mulutnya tapi rasanya sulit sekali suaranya menggema.
"Udahlah, lebih baik gue antar lo pulang sekarang!" katanya berjalan lebih dulu.
Selama perjalanan pulang mereka diam, membiarkan keheningan bernyanyi. Percakapan mereka tadi sedikit mengubah situasi. Saat Tika hendak turun Ben menahan tangannya, membuatnya terhenti. Tika menolehnya.
"Lo harus tentukan pilihan ya, jika lo udah punya jawabannya hubungi gue. Apa pun keputusan lo ... gue akan menerimanya. Gue nggak mau membuat lo terpaksa, jadi pikirkanlah baik-baik!" pintanya. Kalimat Ruben ini sungguh sangat dewasa, ia bahkan mampu mengendalikan emosi dan perasaannya. Yang bahkan mungkin orang dewasa pun sulit melakukan hal itu jika berada dalam posisinya.
Tika menatapnya dalam, Ben melepaskan tangannya dari lengan Tika, salah satu tangan masih tak beranjak dari setir mobil. Sebelum turun Tika memberinya kecupan ringan di bibir pemuda itu, lalu ia pun menghilang dari pandangan Ruben. Ben menggengam setir mobilnya dengan kencang. Apa arti ciuman itu. Sebuah harapankah atau sebuah perpisahan. Tapi Ruben tak merasakan kehangatan seperti saat dirinya mencium Melanie, ciuman Tika ia rasakan hambar.
Ben terbangun dari lamunannya, ia kembali menjalankan mobil. Menuju tempat Melanie, ia berharap ia bisa curhat dengan apa yang baru saja ia alami. Tapi kata menejer caffe Melanie sudah tidak bekerja lagi mulai hari ini. Itu sungguh di luar dugaan. Melanie dipecat tanpa alasan, padahal dia sudah menyanyi selama hampir 3 tahun. Ben menelponnya berkali-kali, tapi tak ada jawaban. Maka ia pun ke rumah gadis itu.
Ben mengetuk pintu dengan kencang dan berteriak lantang memanggil namanya. Tapi pintu itu sama sekali tak bergerak membuka. Ben kembali menelponnya tapi masih sama. Melanie tak mengangkat panggilannya. Ben mulai khawatir dan panik.
Tiba-tiba ada chatt yang masuk. Ia pun langsung membukanya. Itu dari Melanie.
"Ben. Aku ngantuk sekali, lebih baik kamu pulang dulu. Besok kita bicara di sekolah, kalau kamu nggak mau pulang aku nggak akan menemuimu lagi. Ini serius!"
Ancaman Melanie sepertinya memang serius. Pasti telah terjadi sesuatu, tak apalah, jika dia sudah mengirim chatt itu artinya dia baik-baik saja. Mungkin besok mereka bisa membicarakannya. Akhirnya Ben pulang ke rumahnya.
***
Hai reader ... kalau suka cerita ini pencet lovenya ya ... maaf baru menyapa ....
thanks a lot for reading my story ....