14. Kehidupan Dua Insan

1238 Kata

Irsyad mulai membuka matanya secara perlahan, wajah pertama yang dilihatnya adalah Amanda. "Amanda..." lirih Irsyad. Beberapa detik kemudian wajah itu berubah menjadi wajah Dinda. Seketika senyum dalam bibinya pudar. Begitu juga dengan Dinda. "Apakah pernikahan kita selama ini tidak ada artinya bagimu?" tanya Dinda menatap ke arah lain. "Maaf..." Hanya itu yang mampu diucapkan oleh Irsyad. Dia sungguh merasa berdosa sebab melukai istri pertamanya. Namun, hatinya juga tidak bisa memungkiri jika dia sangat mencintai Amanda. "Aku marah, aku kecewa, dan aku sakit. Tetapi aku sadar sebagai seorang istri aku kurang bisa merawatmu dengan baik. Mungkin ini teguran untukku agar aku bisa sadar sebagai istri seharusnya memiliki tanggung jawab merawat suami sepenuh hati." Irsyad semakin merasa

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN