Beberapa hari berpisah dari suaminya Amanda benar-benar merasa kesepian, padahal suaminya sering menelepon dan di rumah dia juga ada teman mengobrol. Ternyata hidup jauh dari sang suami memang tidak enak.
Amanda melihat isi kulkas, rupanya persediaan bahan masakan sudah menipis.
"Dua hari lagi Mas Irsyad pulang, alangkah baiknya apabila aku pergi ke pasar pagi ini. Sekalian jalan-jalan biar tidak jenuh," batin Amanda.
Diapun segera berganti pakaian dan mengambil uang di lemari. Sebelum pergi dia berpamitan pada Bik Yanti biar tidak mencari, entah kenapa terkadang Amanda merasa jika Bik Yanti sudah seperti bibinya sendiri dibanding seorang pembantu. Mungkin karena wanita setengah baya tersebut selalu memperlakukan Amanda dengan setulus hati.
Amanda berjalan kaki menyusuri jalan raya, dia melewati rumah yang tampak kembar. Amanda jadi teringat saat dulu suaminya mengerjai ketika baru pertama kali sampai di sini.
"Mas Irsyad, meskipun terlihat selalu murah senyum tapi kadang ada sifat usilnya juga," gumam Maya tersenyum sendiri.
Di depan rumah tersebut ada dua perempuan yang tengah menyapu halaman mereka. Dengan ramah Amanda menyapanya.
"Permisi."
"Iya, Mbak'e penghuni baru ya?"
"Iya, Ibuk. Perkenalkan nama saya Amanda."
"Wah salam kenal kembali, saya Wiwin."
"Kalau saya Nela."
"Senang berkenalan dengan kalian, kalau begitu saya permisi dulu ya mau ke pasar," balas Amanda tersenyum ramah lalu berpamitan pergi.
"Iya, hati-hati Mbak Amanda."
Amanda masih merasa sulit beradaptasi di tempat baru dan bersama orang baru pula. Seakan dia hidup seroang diri di sini. Tiba-tiba Amanda merindukan kampung halamannya dimana dia memiliki banyak teman dan saudara.
Tidak terasa Amanda sudah sampai di pasar, dia segera membeli daging, bumbu dan juga buah-buahan.
"Dari pada bengong apa aku bikin kue saja kali ya? Bisa aku bagikan ke tetangga sebagai perkenalan," gumam Amanda.
Amanda langsung mencari bahan kue, karena tidak mempunyai alatnya sekalian dia membeli mixer dan juga barang lain yang dibutuhkan.
"Ya ampun, banyak sekali belanjaanku ini. Tapi aku yakin Mas Irsyad tidak mungkin marah," batin Amanda yang mengenal baik sifat suaminya.
Karena tidak bisa membawa, Amanda menyewa tukang panggul untuk membawa belanjaannya sampai di area pangkalan andong.
Amanda lebih menyukai naik kendaran tradisional itu dibanding taksi, selain ongkos lebih murah juga kasihan melihat para pemilik andong yang kebanyakan sudah usia lanjut tapi masih bekerja.
Setelah sampai di rumah, Amanda terkejut sebab mobil suaminya juga sudah terparkir di halaman rumah.
Antara kesal dan bahagia, sebab Amanda tidak diberi kabar jika Irsyad akan pulang lebih awal.
"Nyonya, Tuan Irsyad sudah pulang," ucap Yanti.
"Iya, tolong bereskan belanjaan ini ya?" pinta Amanda langsung menuju ke dalam rumah.
Amanda mencari-cari tapi tidak ada, diapun segera menuju kamar. Ketika membuka pintu suaminya sudah menyergapnya dari belakang sambil memeluk erat.
"Apa kamu merindukanku?" bisik Irsyad.
"Tidak," jawab Maya menggoda.
"Benarkah? Berarti sia-sia dong aku buru-buru pulang ke rumah. Kalau begitu aku balik ke tempat kerja lagi," sela Irsyad pura-pura marah.
"Jangan! Aku sangat merindukanmu, Mas," balas Amanda tersipu malu.
"Bagaimana kalau sekarang kita..."
Irsyad mengedipkan sebelah matanya memberikan kode.
"Aku baru pulang dari pasar, bau keringat ini," ucap Amanda menahan malu.
"Aku juga sama, bagaimana kalau kita mandi bersama?" tawar Irsyad.
Tapi belum sempat Amanda menjawab suaminya sudah langsung mengangkat tubuhnya dan membawa ke kamar mandi.
Mereka berdua mandi bersama, setelah itu mereka melepaskan kerinduan di ranjang dengan gairah yang sangat tinggi.
Irsyad menemukan banyak perbedaan, ketika berhubungan badan dengan Amanda dan Dinda. Segala sesuatu yang tercipta dari hati memang memiliki hasil yang lebih memuaskan.
Irsyad ketika bersama Amanda bisa begitu agresif dan menggebu,seolah setiap saat selalu menginginkan dan kecanduan.
"Mas, kamu bersemangat sekali. Apa tidak merasa kelaparan setelah perjalanan jauh?" tanya Amanda dibuat kewalahan oleh suaminya.
"Sebentar lagi, bagiku makanan terenak adalah kamu," jawab Irsyad terus mencumbu sang istri.
Tentu saja dengan senang hati Amanda melayani suaminya, sebab dia sendiri juga diberi kenikmatan yang luar biasa.
Setelah lama bercinta, akhirnya mereka berdua terkapar kelelahan sebab sudah mencapai klimaks untuk kesekian kalinya.
"Amanda, saat kamu sendirian ketika malam rasanya bagaimana? Apa kamu merindukan aku?" tanya Irsyad.
"Tanpa aku jawab seharusnya Mas Irsyad juga tahu," balas Amanda.
"Maafkan aku ya, tapi aku janji akan bekerja lebih lagi. Setelah modal terkumpul kita membuka usaha dan tidak perlu hidup berjauhan lagi. Ku harap kamu bisa sabar ya," pinta Irsyad sungguh-sungguh.
"Iya, Mas."
Amanda memeluk suaminya dan malah merasa mengantuk.
***************************
Irsyad kini tahu apa arti kebahagian dan tujuan hidupnya. Dia memang harus segera mencari cara agar bisa menceraikan Dinda. Dan dia ingin pergi sejauh mungkin memulai hidup baru bersama Amanda. Mungkin terdengar kejam, sebab dia seolah menjadi kacang yang lupa pada kulitnya.
"Apa aku harus mencarikan lelaki lain yang benar-benar tulus mencintai Dinda ya?" batin Irsyad.
Tapi itu bukan hal yang mudah, sebab Dinda merupakan gadis cuek yang hanya mementingkan karir. Bagi istri pertamanya itu pekerjaan adalah segalanya. Kehidupan sosialita yang tinggi membuat Dinda lebih sibuk dengan urusan pesta kelas atas. Dan memiliki status yang tinggi juga merupakan suatu kebanggaan tersendiri.
Sedangkan Irsyad jujur saja merasa muak dengan dunia yang penuh tipu itu, dia selalu tidak nyaman setiap kali menemani sang istri pergi ke pesta. Terlebih lagi statusnya yang lebih rendah membuat orang lain menganggap jika Irsyad lelaki yang mengandalkan istri.
Irsyad memandangi wajah istri keduanya yang cantik alami tanpa polesan bedak.
"Amanda, andai saja kita bertemu lebih awal. Mungkin aku tidak akan melukaimu dari belakang," batin Irsyad sambil mengecup kening istrinya lembut.
Ketika Irsyad hendak memejamkan mata, ponselnya bergetar tanda ada pesan masuk.
"Suamiku, aku mau ke Singapura selama 4 hari. Kamu pulang kapan?"
"Iya, aku juga masih sibuk dengan kerjaan."
Setelah itu tidak ada balasan lagi, terkadang Irsyad merasa jika antara dia dan Dinda malah bisa dibilang seperti rekan bisnis.
Irsyad langsung menghapus pesan tersebut agar tidak ketahuan istri keduanya.
Setelah tertidur cukup lama Irsyad terbangun dengan aroma kue yang memikat hidungnya, terlebih lagi perutnya memang lapar sebab sejak tadi pagi belum terisi apapun saking semangatnya ingin pulang menemui Amanda.
Irsyad bergegas bangun, di dapur dia melihat istrinya yang sedang menaruh kue donat di beberapa tempat.
"Bik Yanti, ini bagikan ke tetangga ya?" pinta Amanda.
"Iya, Nyonya."
Setelah pembantu itu keluar, Irsyad langsung memeluk dan mencium Amanda yang baru aroma vanili.
"Loh, bagianku mana?" tanya Irsyad.
"Tenang, untuk Mas Irsyad sudah aku persiapkan yang spesial, ayo ke ruang keluarga. Lebih enak makan kue sambil menonton film," jawab Amanda dengan senyuman hangat.
Tentu saja Irsyad dengan senang hati mengikuti langkah istrinya dari belakang.
Ternyata di sana sudah ada sepiring donat dengan aneka rasa.
"Wah, donatnya secantik yang membuat," puji Irsyad.
"Benarkah? Coba dirasakan dulu!" pinta Amanda senang.
Dalam gigitan pertama, Irsyad langsung tersenyum menggoda.
"Rasanya juga seenak yang membuat."
Amanda langsung memerah wajahnya, biarpun suaminya memuji soal donat tapi entah kenapa seperti menjurus ke arah lain.
"Oh iya, aku tadi juga membuat minuman. Bentar aku ambilkan ke dapur dulu," sela Amanda bergegas pergi.
Irsyad sangat puas dengan kesederhanaan istrinya, tapi justru inilah letak kenyamanan baginya.
Tak lama kemudian Amanda datang kembali dengan seteko berisi minuman dan dua cangkir.
Irsyad langsung mencobanya karena merasa penasaran.
"Ini ada? Enak banget," ucap tanya Irsyad penasaran.
"Rebusan jahe, daun serai dan gula aren. Selain enak juga baik untuk kesehatan," jawab Amanda.
"Beruntung sekali aku memiliki istri sepertimu," balas Irsyad menarik lengan sang istri hendak mencium bibirnya.
Akan tetapi Amanda langsung mendorong d**a suaminya sebab melihat pembantunya yang baru pulang.
Irsyad merasa gemas sekali mendapat penolakan tersebut.
"Sudah semua, Bik?" tanya Amanda.
"Sudah Nyonya, mereka mengucapkan terima kasih. Dan ini ada undangan, katanya minggu depan akan dibuka arisan ibu-ibu komplek ini. Kalau Nyonya berminat mau ikutan, gitu.".
"Oh, terima kasih. Sekarang Bik Yanti makan donatnya dulu. Sudah aku sisihkan di dapur sama minumannya!"
"Iya, Nyonya. Terima kasih banyak."
Begitu pembantu berlalu pergi menuju dapur, Irsyad langsung menyerang istrinya dengan ciuman yang begitu agresif. Semakin istrinya memberontak membuat Irsyad semakin menggebu dan ganas.
Irsyad tahu, jika istrinya hanya merasa malu sebab takut jika sewaktu-waktu pembantu mereka lewat. Tapi entah kenapa dia ingin mengerjai istrinya yang mudah memerah wajahnya itu.