Hujan reda setelah adzan magrib berkumandang dua jam lalu. Saat ini, waktu sudah menunjukkan angka delapan lewat lima menit. Revalia duduk gelisah di ruang keluarga tempat tinggalnya bersama Janatra. Tak biasanya jam segini Janatra belum pulang. Padahal sejak menikah, suaminya itu tak pernah pulang lebih dari jam enam petang—atas perintah Markus, tentu saja. Ada masalah di kantorkah sampai Janatra harus lembur? Merasa tak akan mendapat apa-apa jika dirinya hanya duduk diam di sofa, Revalia bangkit berdiri, lalu berjalan mondar-mandir sambil sesekali melihat jam bundar yang menggantung di dinding bagian utara. Suara si kembar botak dari arah televisi tak lagi menarik minatnya untuk menonton. Revalia merasa ... sedikit cemas. Seketika, langkah perempuan itu terhenti kala telinganya menangk

