Berdeham, Janatra mendekati ranjang dan duduk di sisi kanan. Revalia masih tak peduli. Jari jempol perempuan itu terus menari lincah di atas layar sambil sesekali bergumam tak jelas dan mengumpat pelan. Kerutan samar di keningnya, menandakan jika dia benar-benar sedang serius. Apa harus Janatra menunggu Revalia sampai selesai? Sampai kapan? Ini saja sudah jam sepuluh malam. Janatra masih harus istirahat sebagai bekal untuk bekerja esok hari. “Ee ....” Laki-laki itu memberanikan diri untuk memanggil. Sedang perempuan yang hendak diajak bicara hanya bergumam pelan sebagai bentuk sahutan. “Bisa berhenti sebentar. Aku mau ngomong.” “Ngomong aja. Gue dengerin, kok,” jawabnya sambil lalu. Andai Janatra tak cinta pada perempuan ini, sudah pasti dia tak akan bersikap sabar begini! Ah, dasar cin

