“Karena gue nggak mau lo jauhin gue, Meg.” Kalimat itu membuat Meggly seketika menghentikan langkah. Tak lama dia mendapat dekapan erat dari belakang. Tanpa menolehpun Meggly tahu si pelaku, Andreas. “Jangan marah,” bisik lelaki itu. Meggly memejamkan mata sejenak. Dia tidak marah, dia sadar diri. Namun, perasaan aneh terus menghantuinya. “Meggly,” panggil Andreas kala tidak mendapatkan respons dari gadis itu. Perlahan dia melepas pelukan dan menarik Meggly agar menghadapnya. Andreas melihat seulas senyum terbit di bibir Meggly. “Lo nggak marah?” Meggly menggeleng pelan. “Gue nggak marah kok. Itu hak lo.” “Terus kenapa lo ninggalin gue?” “Gue buru-buru, Andreas. Gue harus kerja.” Bibir Andreas berkedut. Apa benar Meggly sedang telat bukan sedang marah? Andreas mengacak rambutnya fr

