Zanna menangis sejadi-jadinya diatas ranjangnya, tubuhnya telungkup, wajahnya ia benamkan diantara tumpukan bantal. Gedoran pintu dari luar ia abaikan, tidak peduli apa kata Abah dan Ibunya yang sedang sibuk mengurusi tamu di pernikahan keponakannya. Ia memilih kabur dari pesta pernikahan sepupunya daripada harus menyaksikan kemeriahan pesta itu dengan hati tercabik-cabik.
Pintu kamarnya masih digedor. Kali ini disusul suara lembut seorang perempuan.
Wulan, sahabatnya telah datang menyusul.
“Zan! Buka pintunya, Zanna!”
Zanna tidak ingin bangkit. “Pergi saja, Wulan. Aku ingin sendiri!” bentaknya pada Wulan.
“Tidak. Aku mau bicara denganmu dulu, Zan!” paksa Wulan. “Buka pintunya, Zan. Tolonglah, aku mau menemanimu.”
“Tidak perlu. Aku ingin sendiri saja. Tolong, Lan. Mengertilah.” Zanna memohon dalam isaknya. Lama, suara ataupun gedoran Wulan tidak terdengar lagi. Sepertinya sahabatnya itu memenuhi permintaannya. Wulan memang sahabat yang baik selama tujuh tahun ini.
Zanna mengambil posisi duduk, tangisnya masih belum reda. Ia merasa menjadi perempuan paling merana seujung dunia, sebab cintanya yang telah lama bersemi hancur seketika. Ia mengingat hari-hari saat dia dan Fajar pergi bersama; ke toko buku, ke pasar malam, ke Simpang Lima, pergi ke tempat-tempat favorit mereka di Kota Semarang. Makan mie Jawa bersama, memancing ikan bahkan ke pantai setiap bulan sampai kulit Zanna yang putih bersinar menjadi agak kecokelatan.
Tidakkah Fajar sadar bahwa ada hati yang terus menunggu? Zanna sendiri enggan mengungkapkan isi hatinya. Sebagai perempuan dia merasa sangat malu bila mengungkap cinta pada seorang lelaki, meskipun lelaki itu sudah ia kenal sejak masih bocah.
Baru kemarin Abah dan Ibunya tahu bahwa Zanna menyimpan rasa untuk lelaki itu, Fajar. Salah Zanna yang menyimpan rapat cinta itu seorang diri, sehingga tak satupun manusia mampu menebak apa yang ada dalam benaknya. Wanita memang pandai menyembunyikan cinta, namun sulit menutup rasa marah dan cemburu.
Kini, semuanya ia pendam sendiri. Tidak tahu akan melampiaskan pada siapa. Dunianya gelap seketika, ia tidak bisa meraba-raba apa yang akan ia lakukan di hari esok. Dan apakah ia sanggup berjalan, walau sekadar menyambut cahaya matahari. Sementara sepasang pengantin baru akan tinggal disebelah rumahnya?
Semua terlah terjadi, harapannya pupus. Ia tidak mungkin merusak kebahagiaan oranglain, lagipula Fajar telah memilih Wanda sebagai istrinya. Mereka satu universitas, hanya beda fakutlas dan jurusan, setiap hari bisa bertemu, bertatap muka, menyapa, bahkan bisa makan di kantin bersama. Mungkin diam-diam dibelakang Zanna, lelaki itu sudah lama menjalin hubungan dengan Wanda. Dan begitulah isi pikiran Zanna, semua dipenuhi rasa curiga tentang hubungan gelap yang Fajar sembunyikan darinya.
Begitu tega. Tega sekali. Batin Zanna terluka.
Sepekan sebelumnya Fajar datang ke rumahnya, ia memberikan sebuah undangan berwana cokelat muda. Zanna tidak menduga sama sekali bahwa itu adalah undangan untuknya dari Fajar, ia baca berkali-kali nama yang tertera dikertas itu.
“Fajar dan Wanda.” Ia tersenyum penuh penyesalan, ia pun berpura-pura kaget dan tertawa. Tawa sumbang yang sulit Fajar artikan. “Mas Fajar serius?” katanya tidak percaya.
“Iya, Zan. Aku serius mau menikah. Maaf belum sempat mengenalkanmu dengan dia. Wanda itu satu kampus denganku, dia mengambil Kesehatan Masyarakat. Sekarang dia bekerja di Dinas Kesehatan Masyarakat, dia sering keluar untuk mengisi seminar tentang kesehatan. Dia perempuan yang baik, Zan.” Fajar berusaha menjelaskan siapa perempuan yang akan dia nikahi.
“Zanna Cuma kaget saja. Ini mendadak, Mas.”
Fajar hanya menjawab dengan sebuah senyuman. Senyum yang melukiskan jutaan rasa bahagia, mungkin, karena Zanna menebaknya demikian. Dibalik senyum itu hati Zanna tercabik-cabik. Terlambat sudah untuk mengungkap sebuah rasa.
“Selamat, Mas.” Zanna mengucapkan itu tanpa ekspresi apapun.
“Doakan aku, Zan. Semoga semuanya berjalan dengan lancar.”
“Aamiin, Mas.” Zanna tidak antusias. Ia sendiri bingung harus berdoa seperti apa? Masih mampukah ia mengirim doa lewat lisannya untuk pernikahan orang yang ia cintai?
Kalau hatinya terbuat dari kaca, maka kaca itu sudah retak sejak ia membaca undangan itu. Hanya Tuhan yang tahu hatinya telah hancur. Sakitnya bukan main.
“Zan?” Fajar memanggil namanya.
Zanna mendongakkan kepalanya.
“Kamu baik-baik saja?”
Seulas senyum tercetak di bibirnya, tepat saat itu hatinya menangis. Remuk redam perasaannya.
Abah Salim sudah puluhan kali mondar-mandir sejak pulang ke rumah. Ia menemukan pintu rumah tidak terkunci, mobil Zanna diparkir sembarangan, bahkan bagian depan mobil itu terlihat seperti habis menabrak sesuatu. Body depannya memang agak peyot.
Sudah puluhan kali pula Abah mengetuk pelan pintu kamar Zanna. Ia membujuk putrinya agar membukakan pintu kamar. Abah juga bilang kalau malam ini Lintang ingin tidur bersamanya, anak itu sampai merengek didepan pintu. Namun alasan apapun tidak membuat Zanna mau membuka pintu. Ia keras kepala dan masih mengunci diri didalam kamar selama ber jam-jam.
“Zanna, kamu belum makan. Jangan siksa dirimu, Nduk!” khawatir, ibunya ikut membujuk. “Bukan pintunya, Nduk. Ini ibu bawakan makanan kesukaan kamu, mie ayam Pak Dirmo.”
Mendengar itu Zanna semakin terisak-isak. Ia mengingat semuanya, kenangan tentang dia dan Fajar masih terekam jelas dalam kepalanya. Mereka berdua sering tiba-tiba mampir ke warung mie milik Pak Dirmo yang berada didekat tempat pancingan ikan favorit mereka. Sepekan sekali mereka makan mie disana.
Karena tidak mendapat jawaban ibunya pun ikut menyerah. Mie ayam pun sudah dingin, karena takut mubazir akhirnya Abah yang memakan mie dingin itu dengan perasaan bersalah.
Pukul 00.59 malam. Zanna memang merasakan perutnya sangat lapar. Tenggorokanya juga kering, ia sangat haus. Dengan langkah terseok seperti tak bersemangat hidup akhirnya ia membuka pintu, ia keluar menuju dapur. Sampai di ruangan yang cukup gelap itu ia mencari stop kontak dan menyalakan lampu.
Zanna terkejut karena melihat abahnya sedang duduk di kursi meja makan, lalu tangannya memegang tasbih. Lisannya membuka menutup, abahnya sedang khusyuk berdzikir. Melihat Zanna keluar dari kamarnya, Abah menyelesaikan dzikirnya.
“Duduk dulu, Nduk. Isi perutmu, nanti kamu sakit.” Suara parau Abah membujuk Zanna.
“Zanna tidak selera makan, Bah.”
“Iya, Abah tahu. Tapi kesehatan fisikmu lebih penting.”
Zanna melangkah menuju dispenser, ia mengambil gelas bening sembarang. Tangannya yang gemetar malah menyenggol beberapa gelas yang sudah tersusun rapi diatas rak.
“Pranggg!!!”
Ia kaget sendiri dengan pecahnya sebuah gelas yang meluncur dari tangannya. Abah segera bangkit dan menjauhkan Zanna dari pecahan gelas itu. Abah menarik kursi untuk Zanna, ia segera mengambilkan air minum hangat untuk Zanna.
“Maafkan Zanna, Bah…” air mata Zanna kembali mengalir. Air mata itu masuk ke dalam gelas. Wajahnya tertunduk lemah, tangannya masih gemetar, ujung-ujung jarinya memucat.
“Sudah, tidak apa-apa. Ayo, kamu makan dulu. Lihat dirimu, baru seminggu saja sudah kurus begitu. Mau jadi apa kamu, Nduk?”
Abah menghangatkan makanan untuk Zanna, ia sendiri yang menyajikan makanan itu untuk putri yang sangat ia sayangi.
“Mau Abah suapi?”
Zanna menggeleng. Dia bukan anak kecil lagi.
“Ya sudah, makan kalau begitu.”
Zanna menurut. Ia makan disela-sela tangisnya. d**a Abah rasanya sakit melihat putrinya semenderita itu. Abah tidak suka berandai-andai, jadi Abah tidak mengandaikan apapun termasuk mengandaikan bila saja ia tahu sejak awal bahwa Zanna menyukai sepupunya sendiri.
Sudahlah, sudah berlalu. Hari ini adalah hari ini, kemarin sudah selesai. Pikir Abah saat ini.
“Lintang tadi nyariin kamu, seharian dia mewek gara-gara kamu tinggal.” Abah membuka percakapan.
Tangis Zanna mulai berhenti, ia mengambil tisu untuk mengelap ingusnya.
“Kamu nggak berubah ya, Nduk. Kalau mewek susah sekali berhentinya, sampai ingusan begitu.” Goda Abah yang berhasil membuat Zanna tersenyum malu. “Maafkan Abah ya, Nduk. Sebagai Ayah, Abah merasa kurang jeli memahami anak sendiri.”
Zanna mendongak, ia menangkap bola mata Abahnya. “Tidak, Bah.”
“Abah benar-benar tidak tahu, Nduk. Tapi semua sudah terjadi, biar waktu yang mengobati sakitmu. Terima ya? Ikhlaskan dia, Nduk.”
“Mengikhlaskan Mas Fajar bersama oranglain tidak semudah membangun cinta, Bah!”
“Terus Abah harus bagaimana, Nduk?”
Zanna sendiri bingung. Apa yang harus dia lakukan saat ini? Akhirnya dia menggeleng. Ia mendorong makanannya yang tidak habis, ia bangkit dan pergi tanpa pamit. Dalah hati abahnya, ia selalu berdoa untuk kebahagiaan anak-anaknya. Dan jangan sampai anaknya terluka seperti hari ini, tapi yang namanya hidup pasti ada ujian dan terpaan badai. Abah yakin, Zanna, anaknya itu pasti bisa melalui semua ini dengan bersabar dan ikhlas.
Pagi itu ia menatap halaman rumah budenya yang luas dengan tatapan sendu, tubuhnya semakin lemas dan wajahnya sangat pucat. Persis seperti mayit hidup, ia tidak tahu harus bagaimana melanjutkan kehidupan yang terasa hancur dan berantakan.
“Sing eling, Nduk. Eling maring Gusti Allah.” Abahnya tiba-tiba hadir. Zanna tidak menghiraukan kehadiran abahnya. Ia masih melamun panjang.
“Abah pernah baca satu ayat yang bunyinya begini, “boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu. Allah mengetahui sedangkan mau tidak mengetahui”. Nduk coba terima apapun yang sudah terjadi, semua itu atas ketetapan Allah. Manusia hanya bisa berencana sementara Allah yang menentukan ujungnya.”
“Abah tidak paham perasaan Zanna, tidak ada yang Zanna inginkan selain Mas Fajar, Bah!”
“Astaghfirullah Ya Gusti… istighfar, Nduk. Eling.” Abah semakin mendekati putrinya. “Jangan terlalu berharap cinta kepada manusia, Allah bisa cemburu.”
Zanna terisak lagi. Lalu ketika ia melihat Wanda keluar dari pintu rumah budenya, ia segera menutup jendela dengan kasar, Abah sampai terlonjak kaget.
“Tinggalkan Zanna, Bah. Aku mau sendiri.”
Abahnya keluar kamar, ia menutup pintunya meninggalkan Zanna seorang diri. Ibu sempat masuk membawa sarapan untuknya, segelas s**u putih dan bubur ayam.
“Ini dimakan, Nduk. Kalau kamu masih mau hidup!” ibunya bicara agak kasar. Dia tega-tegakan pada Zanna sebab dia sudah kuwalahan memikirkan cara mengobati anak bungsunya itu.
Zanna masih diam, ia duduk ditepi ranjang sambil memeluk lututnya. Bau s**u dan bubur ayam itu membuat perutnya semakin mual. Rasanya ia mau muntah, ia lari ke kamar mandi. Dari luar kamar mandinya terdengar suara Ibu.
“Lintang biar sama Ibu dulu. Kalau dia lihat kamu begini seperti orang tidak waras, Ibu khawatir Lintang jadi ikutan histerisnya.”
Zanna kembali ke tepi kasur. Ia semakin erat memeluk lututnya. Dadanya bertambah-tambah sesak, ia sulit tidur karena pikirannya selalu dipenuhi bayang-bayang masnya, Fajar. Namun jika telinganya mendengar adzan, tak lama setelah panggilan shalat itu selesai Zanna segera bangkit untuk bersuci dan mendirikan shalat. Dalam shalatnya ia tidak bisa tenang, air mata malah terus meluruh sepanjang ia rukuk dan sujud.
“Ya Robbi… inikah ujianku… bila iya, mengapa harus sesakit ini… aku tidak kuat ya Robb…”
Zanna meringkuk diatas sajadah, matanya masih mengalirkan tetes-tetes hangat hingga mukena yang ia kenakan basah dan lembab. Lama sekali ia meringkuk diatas sajadah, sampai akhirnya mata itu terpejam.
Di luar kamar Zanna, Abah Salim dan Ambar tidak henti-hentinya memohon pada Sang Kuasa agar menyegarkan pikiran anaknya, menyembuhkan luka dihati Zanna dan membuat hidup Zanna kembali bersinar terang. Sejak sepekan lalu Zanna memutuskan berhenti secara mendadak dari sebuah kantor surat kabar ternama di Jawa tengah. Ia bahkan tidak perduli dengan banyaknya denda yang harus ia bayar karena kontrak kerja belum habis. Salim dan Ambar tidak bisa berkata apa-apa lagi. Zanna benar-benar mengasingkan diri, seolah tidak mau lagi melihat dunia dan seisinya.