"Sudah merasa lebih baik?" Mau tidak mau, aku memaksakan untuk tersenyum. Lagi pula waktunya sudah habis. Menyisahkan kenangan, yang akan tersimpan di ruang paling ujung, di dalam hatiku. "Baik, dok, dan akan selalu baik. Semoga." "Dia masih belum tau, kalau kamu sedang mengandung anaknya?" Tanya Keira, yang sedari tadi sibuk memijat pelan bahuku. "Sudah. Aku keceplosan. Tapi kalau penyakitku, dia gak tau." "Terus reaksinya bagaimana?" "Dia meragukannya. Dia bilang bukan anaknya." "Terus anak siapa?" "Anak Rio." Balasku polos. "Bocah prik!" Umpat Keira, dengan sengaja menekan kuat pijatannya. "Wah... beneran minta di tonjok dia. Gatel tangan saya, dok." "Emang kamu berani?" Tanya dokter Nana. "Ya enggak juga dong, tapi niat aja dulu. Mana tau berhasil. Aku menggeleng-gelengkan

