“Kamu disana makannya yang teratur. Bilang sama yang masak disana kamu gak bisa makan terlalu asem dan pedas.” Violet mengangguk kecil, berusaha tersenyum pada Jeni yang tidak berhenti menyeka air matanya. “Semua keperluan kamu udah kakak masukin ke dalam koper. Kakak pasti bakal kangen banget beresin kamar kamu setiap pagi yang melebihi kapal pecah.” Puri menunduk tidak berniat menyeka air matanya yang sudah jatuh sejak mengemasi sebagian keperluan Violet yang belum sempat ia kemasi. Dengan bibir bergetar menahan tangis,Violet beralih menatap Rika yang termenung di pinggir ranjang. Keadaannya tidak jauh berbeda dengan Jeni dan Puri. Sejak gadis itu mengatakan ia akan pergi ke Milan untuk melanjutkan sekolahnya, Rika seperti tidak pernah lelah menangis. Rasa sayangnya pada Violet yang

