Violet berguling-guling kesal kesana dan kemari diatas sofa besar. Bibir mungilnya tidak hentinya menggerutu memaki Alvaro kesal. Ia pikir setelah mereka bertunangan mereka akan mempunyai lebih banyak waktu bersama. Namun nyatanya, Alvaro tetap saja sibuk dengan pekerjaannya, malah terkesan lebih sibuk. “Violet, ngapain sih? Kayak kucing aja guling-guling di sofa?” Tanya Jeni yang kebetulan saat itu melewati sofa dimana Violet berada. “Bodo amat ah disamain sama kucing,” balas Violet tanpa menatap Jeni. “Mau kakak bikinin jus gak?” “Gak usah, lagi gak mood,” ketus Violet. Jeni mencibir, jika sudah kesal, Violet benar-benar terlihat seperti anak-anak. Ia kemudian berlalu dari hadapan Violet. Violet tiba-tiba terkesiap saat mendengar suara Alvaro yang sepertinya baru saja memasuki ruma

