Sinar matahari sudah mulai gencar mencoba menyelinap di celah-celah gorden berwarna coklat bercampur emas untuk menyadarkan kedua insan yang masih tertidur dengan lelapnya seolah mengabaikan matahari yang mengabarkan bahwa hari sudah tidak pagi lagi. Beruntung sepertinya masih ada yang akan tersadar karena merasa sinar matahari sudah mulai mengenai wajahnya. Alvaro mengerjap-ngerjapkan matanya berusaha mengumpulkan kesadaran. Perlahan mata indah nan tajam yang dihiasi bulu mata lentik itu terbuka. Ia mengernyitkan dahi melihat sekitar, suasana yang berbeda dengan yang selalu ia temui saat bangun tidur. Samar-samar ia dapat melihat di luar sudah begitu terang, alvaro menoleh cepat pada jam dinding besar di kamarnya, pukul 11.00 pagi. Ya Tuhan, Alvaro menepuk dahinya. Alvaro meraih ponselny

