Perempuan itu masih sabar menunggu apa yang akan diucapkan oleh Abisatya. Dia yakin kalau kekasih hatinya ini pasti akan melamar dirinya, setelah apa yang telah mereka lalui bersama selama enam bulan ini. Waktu enam bulan, mungkin memang terlalu singkat untuk mengetahui satu sama lain, tapi bagi Davina, waktu itu sudah cukup. Hatinya sudah mantap menjadi istri Abisatya sepenuhnya dan selamanya. Sesaat laki-laki itu menghela napas dalam sambil memikirkan sesuatu, seperti ada sesuatu yang berat yang hendak dikatakannya, hingga akhirnya keluarlah kata-kata itu. “Davina, aku mau resign!” Perempuan itu terhenyak dan meletakkan sisa roti panggang yang baru saja digigitnya dengan ekspresi wajahnya yang benar-benar bingung dan tidak percaya. “Apa? Kamu bilang?” tanya Davina heran, “kamu mau

