BAB 5 - mengalah

2165 Kata
“Tenang, kalau lagi minum itu, jangan buru-buru mau ngomong dulu, jadinya tersedak, ‘kan? Hati-hati, tapi kamu nggak papa, ‘kan?” tanya Rhea sambil menepuk-nepuk bahu cowok itu. Abisatya menggeleng sambil meringis kecil. “Hmm …!” Laki-laki itu kembali berdehem untuk memberikan kode ke saudara kembarnya. Namun, Abiwara tidak merespon kodenya. “Hmm, hmm … hmm!” Abisatya kembali berdehem sedikit keras, agar cowok disebrang sana mendengar kodenya, tapi lagi-lagi dia tidak merespon. Abisatya pun panik. “Mati aku! Bisa-bisa ketahuan nih!” batinnya cemas sambil meringis kecil. “Kamu kenapa? Apa tenggorokkanmu sakit?” Rhea jadi iba saat Abisatya berulangkali berdehem. “Agak seret!” ujar cowok itu spontan lalu menyesap minuman cola itu lagi sedikit dan kembali memakan burger yang tersisa untuk menetralkan suasana hatinya sambil berpikir keras, mencari jawaban atas pertanyaan Rhea. “Kamu sepertinya suka sekali makan burger, ya? Lahap banget,” ujar Rhea sambil menatap Abisatya dengan kedua bola matanya yang bulat. “Aku jadi inget, ada sebuah quotes tentang burger. The best stories are like the best burgers: big, juicy, and messy.” “Kamu sepertinya suka sekali bikin quotes,” balas Abisatya polos. Kening Rhea mengerut ke tengah seraya berkata, “Bukannya … kamu sendiri juga suka bikin quotes?” tanya gadis itu heran sambil menikmati lagi ice cream vanilla coklatnya. Abisatya jadi salah tingkah dan menyeringai kecil. “Bener-bener mati kutu ini! Abi! Di mana sih kamu? Jangan bikin aku jadi b**o gini dong!” batinnya kesal. Cowok itu mulai berdehem lagi, kali ini lebih keras. “Hmm … quotes? Oh iyaa, aku memang suka bikin quotes,” sahutnya sambil menyeringai kecil sambil berusaha mengulur-ulur waktu, “seperti misalnya … hmm,” Lagi-lagi Abisatya berdehem lagi untuk memberikan kode ke saudara kembarnya yang katanya akan membantu. “Misalnya seperti … quotes tentang ice cream!” ujar Abisatya keras dengan harapan Abiwara yang ada di ujung sana bisa mendengar. [“Quotes tentang ice cream? Tenang, Sat! Aku punya quotes tentang ice cream. Kalau hidup itu diibaratkan semangkuk es krim yang gelap, moment-moment kecil yang kita alami ini adalah taburan warna-warni di atasnya.”] Suara Abiwara terdengar lagi di ujung sana. Abisatya menghela napas lega, karena saudara kembarnya itu datang di saat yang tepat, [“dan ada satu lagi, quotes tentang ice cream! Hidup itu seperti sebuah ice cream, nikmati saja sebelum dia mencair!”] selanya lagi. Abisatya pun tersenyum senang dan penuh percaya diri, kemudian menatap tajam kedua bola mata gadis itu yang bulat, seraya berkata. “Kalau hidup itu diibaratkan semangkuk es krim yang gelap, moment-moment kecil yang kita alami ini adalah taburan warna-warni di atasnya!” ujarnya bangga sambil mengulas senyum maut. Kedua manik mata Rhea pun berkilat sempurna sambil menyeringai senang dan menatap cowok itu penuh rasa kagum. “Waah, so sweet banget, kamu ini emang paling bisa, yaa!” “Tunggu, ada satu lagi!” Abisatya semakin percaya diri karena Abiwara telah membantunya lagi. “Hidup itu seperti sebuah ice cream, nikmati saja sebelum dia mencair!” “Iyaa, aku setuju! Bener banget! Kita memang harus menikmati hidup ini, sebelum semuanya berlalu dan menghilang! Kamu emang jago bikin quotes!” Abisatya hanya tersenyum senang, saat gadis itu memujinya. Lama mereka berdua saling menatap satu sama lain dan terdiam, tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari bibir keduanya, hanya mata mereka yang berbicara. “Aku mau nanya?” tanya Rhea sambil berusaha mengalihkan tatapannya ke arah lain, agar tidak begitu grogi di depan cowok yang dikira Abiwara, laki-laki yang telah mencuri hatinya selama ini. Ingin rasanya dia mengungkapkan semua isi hatinya ke cowok ini, agar cowok itu tahu kalau sebenarnya dia memendam sebuah asa untuknya. Namun, sebagai seorang gadis Timur yang dibesarkan dengan berbagai macam norma-norma yang berlaku di Negaranya, Rhea berusaha menahan diri dan sabar menanti, hingga sang pujaan hati membuka pintu hati untuknya.   “Nanya apa?” “Kamu sama saudara kembarmu ‘kan kembar identik, apa sifat kalian berdua juga sama?” Abisatya pun menggeleng sambil menyeringai kecil. “Kamu boleh percaya, boleh nggak, tapi sejak kecil, sifat kami jauh berbeda. Ab--…” Hampir saja dia kelepasan ngomong dan menyebut nama Abiwara. “Maksudku … aku lebih suka menyendiri, sibuk dengan buku bacaanku, kalau Satya itu talkactive, suka ngomong sama siapa saja dan suka masak di dapur sama Ibu dan Nenek!”   “Haah …? Yang bener? Kak Satya yang garang itu, yang kata temen-temen suka berkelahi dan keluar masuk kantor polisi, ternyata suka masak?” sahut Rhea sambil tertawa kecil dengan ekspresi wajahnya yang tidak percaya. Abisatya pun mengangguk, meringis kecil dan mentertawai dirinya sendiri. “Bagaimana dia tahu kalau aku suka keluar masuk kantor polisi?” batinnya heran. “Memangnya kamu tahu ak--…” Lagi-lagi Abisatya hampir saja kelepasan ngomong. “Maksudku, kamu tahu Satya suka keluar masuk kantor polisi dari siapa?” “Dari temen-temen, mereka bilang kalau Kak Satya itu sukanya tawuran, berkelahi dan sering ditangkap polisi, jadi sering keluar masuk kantor polisi, sementara kalau kamu itu lebih suka damai dan nggak suka keributan.” Abisatya mengangguk lagi sambil meringis kecil, membenarkan ucapan Rhea. “Tapi satu hal yang bikin aku heran. Kata temen-temen, waktu Kak Satya lagi berkelahi entah di mana, tiba-tiba di sekolah, kamu merasa kesakitan seperti di hajar orang, apa itu benar?” tanya Rhea penasaran hingga tanpa sadar tangan gadis itu memegang tangan Abisatya, karena antusias dan rasa ingin tahunya yang besar. “Bisa dibilang begitu, kata orang itulah misteri anak kembar. Sampai hari ini pun kami berdua masih memiliki ikatan batin yang sangat kuat. Jadi ketika salah satu dari kami mengalami kejadian buruk, misalnya Satya yang berkelahi tadi, maka aku bakal ngerasain firasat yang nggak enak. Jadi waktu dia sakit karena dipukuli, bukan nggak mungkin aku akan ngerasain rasa sakit yang sama meski aku nggak terluka sama sekali, tapi aku ngerasa seperti ada yang nonjok perut atau mukaku.” “Waah, menarik sekali yaa ….” “Meski kelihatannya sama, saudara kembar itu sebenarnya adalah cerminan satu sama lain. Ini seperti yang aku baca di buku, hal ini karena 25% saudara kembar berkembang secara berhadap-hadapan selama dalam rahim dan menjadi refleksi satu sama lain.” Rhea pun melongo dan menyimak dengan seksama. Gadis itu terlihat semakin kagum saat Abisatya menjelaskan tentang hubungan saudara kembar, “sebagai contoh, kalau si kakak memiliki tanda lahir di tangan kanan, maka adiknya mungkin akan memiliki tanda lahir dengan bentuk yang persis sama di tangan kiri atau ada juga t**i lalat, yang satunya di kanan, kembarannya di kiri!” “Kalau kamu sama Satya, apa bedanya?” sela Rhea penasaran, “supaya aku bisa bedain kalian berdua! Kalian ‘kan mirip banget!” “Aku lebih dominan menggunakan tangan kanan, kalau Satya itu kidal, tapi dia bisa menggunakan kedua tangannya, tangan kanan dan kiri, apalagi kalau lagi masak, masaknya cepet banget dengan kedua tangannya!” “Ooh yaa …? Keren tuh!” Rhea semakin tertarik untuk mengetahui fakta yang terjadi tentang anak kembar tanpa melepas tangannya di tangan cowok itu, membuat debaran di d**a Abisatya mulai berdetak keras. “Lalu, apalagi yang terjadi sama kalian berdua tanpa kalian sadari?” “Hmm … pernah suatu waktu, kami berdua itu melakukan tindakan yang sama waktu kami terpisah, misalnya seperti beli barang yang sama, mesan makanan yang sama di sebuah restoran, atau ngangkat telpon untuk nelpon pada saat yang sama. Itu, itu sering banget, terjadi!” “Jadi kalian berdua itu, seperti tahu isi pikiran satu sama lain, ya?” Abisatya mengangguk mengiakan, “pernah nggak ngomong sesuatu yang sama atau nyelesaikan kalimat yang sama?” “Kalau itu juga sering banget! Kadang kami berdua juga sampai heran sendiri, kok bisa, yaa? Padahal kami berdua ‘kan nggak janjian mau kayak gitu, yaa ngalir aja gitu ….” “Trus, kalau suka sama cewek yang sama juga pernah?” Abisatya terdiam sambil tersenyum tipis dan melirik ke tangan gadis itu yang masih memegang tangannya erat. Jantungnya masih berdetak begitu cepat, Abisatya tidak mengerti, apa memang akan seperti ini jadinya kalau deket sama cewek yang dia sukai, apalagi menatap parasnya yang cantik, senyumnya yang begitu mempesona. Karena sedari tadi debaran di jantungnya terasa begitu cepat seperti ada gajah yang berlari-lari di atas dadanya. “Bagaimana aku bisa menjawab pertanyaanmu, Rhea? Karena saat ini kami berdua, aku dan Abi sedang merasakan perasaan itu. Hanya saja Abi selalu saja mengalah dan membiarkan aku agar dekat denganmu, seperti yang dilakukannya kali ini,” batinnya gamang. “Yaa, pernah sih … kami pernah sama-sama menyukai cewek yang sama.” “Lalu, apa yang kalian lakukan? Siapa yang akhirnya bisa deket sama cewek itu?” tanya Rhea penasaran. Cowok itu hanya tersenyum masam dan menggeleng. “Nggak ada, kami belum tahu apa yang harus kami lakukan,” sahutnya sambil menatap tangan Rhea yang masih memegang tangannya, membuat gadis itu sadar kalau tangannya masih memegang tangan laki-laki itu. Perlahan Rhea melepasnya dan sikapnya jadi canggung. “Oooh, maaf! Aku terlalu antusias, jadi spontan megang tangan kamu. Maaf, yaa ….” “It’s okay, nggak papa,” sahut Abisatya sambil tersenyum manis. “Lamaan lagi juga nggak, kok, Rhe. Aku nggak keberatan kalau kamu megang tanganku terus,” batinnya senang. ♥♥♥♥ Bau tanah basah mulai menguar di udara, membasahi tanah di depan warung di depan sekolah yang sempat beberapa hari ini tampak begitu kering dan gersang, setelah bulir-bulir air hujan turun dari atas langit dengan begitu deras. Cuaca memang tidak bisa diprediksi saat ini, di musim kemarau seperti ini ternyata masih ada turun hujan. Menurut catatan dari BMKG pusat, ada angin atau badai di Benua Australia yang menyebabkan cuaca tidak menentu seperti saat ini. Ya, cuaca memang tidak bisa diprediksi, sama seperti hati Abisatya yang tiba-tiba juga berbalik 180 derajat. “Bi, kita ini nggak bisa gini terus. Kita ini udah nggak adil sama Rhea,” ujar Abisatya sore itu sambil menyesap jus jeruk kesukaannya, sepulang sekolah. Sore itu kedua anak kembar ini memang tidak segera pulang, tapi nongkrong dulu sebentar di warung, karena awan yang menggantung di atas terlihat sangat hitam dan mendung dan ternyata benar, sore ini hujan turun sangat deras. “Iyaa, aku juga tahu, kalau kita berdua ini sudah deket sama dia selama 8 bulan ini dan sebentar lagi kita mau ujian, sementara Rhea sampai saat ini masih nggak pernah nyadar kalau dia deket sama kita berdua,” sela Abiwara sambil mengaduk-aduk bongkahan es batu yang berada di dalam gelas yang berisi es teh manis dengan sendok. “Nah itu dia! Kita harus ngomong soal itu ke Rhea, Bi!” “Harus ngomong ke Rhea soal apa, ya?” tanya Rhea yang tiba-tiba muncul di depan mereka berdua dengan ekspresi wajahnya yang bingung dan curiga. “Rhea …?” Abiwara dan Abisatya kompak mengatakan hal yang sama sambil menoleh ke Rhea yang saat itu sedang berdiri tidak jauh dari mereka bareng Yasmine—sahabatnya. Kedua anak kembar itu lalu saling menatap satu sama lain dengan perasaan bersalah dan kikuk di depan gadis yang masih menuntut jawaban. Sementara beberapa pasang mata mulai melirik ke arah mereka dengan ekspresi wajahnya yang penasaran. Memang tidak dipungkiri kalau kedekatan kedua anak kembar dan Rhea sudah bukan menjadi rahasia umum di sekolah. Semua orang tahu kalau mereka sangat akrab di sekolah maupun di luar sekolah, tak jarang mereka sering pergi bareng bertiga atau berempat bareng Yasmine. Namun, siapa yang menjadi pacar gadis itu, tidak ada seorangpun yang tahu. Rhea sendiri juga masih menanti Abiwara mengungkapkan perasaannya atau mungkin salah satu dari kedua anak kembar itu, karena pada dasarnya gadis itu pun merasa nyaman dengan keduanya. Waktu 8 bulan mungkin akan menjadi waktu yang cukup lama bagi seorang cowok untuk menyatakan perasaannya ke cewek yang dia suka, tapi hal itu tidak berlaku bagi kedua anak kembar ini. Abiwara dan Abisatya sama-sama merasa sungkan dan tidak berani untuk mengungkapkan perasaan mereka ke Rhea, karena mereka sadar kalau salah satu dari mereka ada yang maju terlebih dulu, maka hati yang lain pasti akan terluka. Itulah mengapa kedua anak kembar ini merasa nyaman dengan status mereka yang seperti ini yaitu hubungan tanpa status, just for fun dan enjoy it! Yang penting menjalin persahabatan yang baik dengan gadis itu. “Kenapa kalian diam aja?” tanya Rhea sambil menatap ke Abisatya dan Abiwara secara bergantian. Keduanya masih saja terdiam sambil saling menatap satu sama lain. Mereka berdua benar-benar merasa bersalah karena telah mempermainkan perasaan gadis ini. Abiwara menghela napas sesaat lalu berdiri seraya berkata, “Rhe, tenang, sabar,” sahutnya sambil berjalan menghampiri gadis itu yang mendekap beberapa buku pelajarannya di depan d**a, sementara tas ransel warna abu-abu dan merah tampak menggantung di belakang punggung. “Kami akan jelaskan semuanya, tapi nggak di sini ….” “Iya, Rhe, nggak di sini,” sela Abisatya yang juga berdiri dan beralih menghampiri mereka, “lebih baik kita cari tempat yang nyaman untuk ngobrol, tapi bukan di sini. Kamu mau, ‘kan?” sela Abisatya yang ikut berdiri dan menghampiri mereka. ♥♥♥♥
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN