Chapter 3 - mahluk jahat

2418 Kata
“Kalau Mirza ada di sana, lalu siapa yang duduk di sini tadi?” batin Satya penasaran. “Aaah … aku tahu, dia pasti Abi! Abi di mana kamu? Apa yang ingin kamu katakan? Katakanlah padaku, Bi! Mungkin aku bisa membantu!” batinnya lagi sambil mengedarkan tatapannya ke seluruh penjuru ruangan dengan harapan bisa bertemu sosok yang menyerupai saudara kembarnya itu.   “Kak! Kamu nggak papa, ‘kan?” tanya Mirza lagi dengan ekspresinya yang penasaran. “Iyaa, aku nggak papa!” sahut Satya sambil menyeringai kecil, “kamu sendiri kenapa bangun pagi-pagi begini?” tanyanya lagi sambil berjalan menghampiri sang adik. “Aku mau ke kamar mandi. Kakak sendiri ngapain berdiri bengong di situ? Apa yang Kakak cari di ruang gelap seperti itu?” tanyanya heran sambil memberikan kode dengan dagunya ke tempat Satya berdiri tadi.   Laki-laki itu pun tersenyum sambil menyeringai kecil seraya berkata, “Ini, aku baru aja ambil minum, lalu mau ngecek jendela di ruang tengah, pas kebetulan kamu manggil aku tadi!” sahutnya sambil meninju bahu sang adik, pelan, “udah sana buruan ke kamar mandi! Nanti ngompol di sini!” “Iyaa, iyaa! Ini juga mau ke kamar mandi!” jawab Mirza sambil ngeloyor pergi meninggalkan sang kakak yang masih berdiri di sana. Sesaat Abisatya menyapu tatapannya lagi ke seluruh ruangan, siapa tahu Abiwara muncul lagi di sana, tapi lagi-lagi nihil. Laki-laki itu lalu beralih ke ruang kerja sang saudara kembar, tempat yang dulu yang selalu menjadi favourite Abiwara. Saudara kembarnya selalu suka berlama-lama di ruang kerja itu, menumpahkan semua energi, kreatifitas dan ide-ide briliannya dalam membuat sebuah bangunan. Ruangan itu begitu rapi dan bersih, untuk ukuran seorang laki-laki, di sana ada sebuah maket apartemen yang terletak di atas meja. “Sepertinya ini proyek baru Abi yang belum selesai digarap,” gumam Satya sambil meletakkan gelas yang dibawanya di atas meja. Laki-laki itu lalu memperhatikan maket yang tingginya hampir menyamai d**a-nya yang bidang dengan seksama, dari atas sampai bawah. “Dari dulu kamu memang selalu detail kalau garap sesuatu, Bi!” ujarnya sambil melihat-lihat maket itu dan beralih ke beberapa brosur perumahan yang berserakkan di atas meja. Entah mengapa, dia tertarik pada sebuah brosur perumahan berlantai dua. Dibacanya perlahan dengan seksama sambil beralih ke kursi kerja yang ada di belakang meja kerja, lalu menghempaskan tubuhnya di sana. “Bagus juga penataan ruangnya, aku yakin … ini pasti salah satu proyek garapanmu juga!” “Itu rumah untuk Rhea!” sela sebuah suara yang tiba-tiba terdengar menggema di ruang kerja itu. Abisatya tersentak kaget, hingga kursi yang didudukinya terdorong ke belakang lalu menoleh ke sumber suara, ternyata sosok yang menyerupai Abiwara sedang berdiri menyandar di meja di dekat maket apartemen buatannya. “Aku sudah membelinya untuk Rhea, sertifikatnya pun atas nama dia juga!” “Jadi, maksudmu … rumah ini untuk Rhea?” sela Abisatya yang tidak takut dengan kehadiran sosok Abiwara yang tiba-tiba muncul di depannya. Sosok itu pun mengangguk. “Rencananya aku ingin memberikannya nanti saat dia berulang tahun, yaitu bulan depan, tapi sayang aku nggak bisa ngasih surprise itu,” ujarnya sedih, “Sat, ada sesuatu yang harus kamu lakukan! Kamu harus membantu aku! Dan ini ada kaitannya sama Rhea!” “Ada kaitannya sama Rhea?” tanya Abisatya heran. “Yaa, kamu harus melindungi dia, Sat! Karena nyawanya terancam, aku nggak ingin dia merasakan hal yang sama seperti aku!” Kali ini suara Abiwara penuh penekanan dan marah, ada sesuatu yang tersimpan dalam hati. “Tunggu, tunggu! Merasakan hal yang sama seperti kamu? Maksud kamu … mati?” Abiwara mengangguk cepat, Abisatya pun kaget dan semakin tidak mengerti arah pembicaraan saudara kembarnya. “Maksud kamu, ada seseorang yang ingin melukainya?” “Bukan hanya melukainya, Sat! Tapi juga berniat untuk membunuhnya, kamu harus melindunginya! Karena cuma kamu yang aku percaya! Cuma kamu yang bisa membantu aku dan Rhea!” “Tunggu, tunggu! Sebenarnya siapa yang mau bunuh Rhea? Kamu punya musuh?” sela Abisatya yang masih duduk di kursi kerja sambil menaruh sikunya di atas meja kerja, sementara sosok yang mirip Abiwara tampak mengelilingi maket yang ada di atas meja yang lain. Abiwara menggeleng. “Kamu tahu ‘kan selama ini aku nggak pernah punya musuh.” “Iyaa, itu aku tahu, malah boleh dibilang kalau aku yang sebenarnya punya banyak musuh sejak dulu!” sela Abisatya heran.  “Tapi, apa alasannya orang itu mau bunuh istrimu? Lalu, apa ini ada kaitannya sama kematianmu?” Abiwara mengangguk sambil menahan marah. Abisatya jadi semakin penasaran, karena kematian saudara kembarnya ini ternyata menyimpan sebuah misteri yang ada hubungannya sama Rhea. Tapi sebenarnya, siapa yang ingin membunuh Rhea? “Siapa sebenarnya yang ingin membunuh Rhea, Bi?” tanya Abisatya penasaran. “Teman sekantorku sendiri! Kamu tahu orangnya! Adham dan Beno!” sahut Abiwara dengan nada marah. Abisatya tertegun, lipatan di dahinya tampak tercetak berlipat-lipat. Laki-laki itu jadi semakin penasaran. “Apa kamu bilang? Adham? Dan Beno?” selanya heran, “why? Bagaimana bisa? Bukannya kalian bertiga berteman baik?” Abisatya jadi semakin ingin tahu. “Dalamnya lautan kita bisa mengukurnya, Sat. Tapi dalamnya hati orang, siapa yang tahu? Semua itu aku ketahui saat aku sekarat di kecelakaan.” Sesaat sosok itu terdiam, tatapannya tampak kosong dan sedih. Tersirat sebuah luka yang tersimpan di sana. Luka yang begitu dalam dari sebuah pengkhianatan persahabatan yang terjalin selama bertahun-tahun. “saat itu jiwaku memang sudah keluar dari raga, tapi aku yakin kalau aku ditolong dengan cepat, maka nyawaku pasti akan tertolong, tapi mereka membiarkan aku begitu saja!” ujar Abiwara geram. Sosok yang menyerupai saudara kembarnya itu lalu menceritakan kronologi kecelakaan yang dialaminya. Saat itu Farhan yang sedikit mabuk karena kebanyakan minum di pesta bujang teman mereka yang bernama Jamal, memaksakan diri untuk mengendarai mobil. “Han, sudah biar aku aja yang nyetir! Kamu ini mabuk!” ujar Abiwara sambil berusaha mengambil kunci mobil dari tangan Fariz saat mereka berjalan beriringan ke parkir mobil. “Aku nggak mabuk, Abi! Tenang aja! Aku nggak mabuk! Lihat! Aku masih bisa berdiri tegak, ‘kan? Kamu percaya saja sama aku! Percaya, Man!” sahut Farhan sambil menepuk-nepuk pundak teman sekantornya itu. “Iyaa, Abi. Betul itu yang dibilang sama Farhan, percaya saja sama dia! Dia ini driver professional! Sudahlah, tenang saja! Kamu duduk manis saja, biar Farhan saja yang nyetir!” sela Adham sambil merangkul Farhan yang sebenarnya sudah terlihat berjalan sempoyongan, tapi berusaha untuk sadar. “Ayoolah, Abi! Nggak usah lebay gitu, nggak usah berlebih-lebihan! Farhan ini baik-baik saja, lagian sudah malam. Ayoo tunggu apalagi? Kasihan Rhea, dia pasti lagi cemas sekarang, nunggu kamu di rumah.” Beno juga menimpali ucapan Adham sambil menepuk bahu laki-laki itu, keras. Abiwara hanya tersenyum sambil meringis kecil. “Baiklah! Ayoo, kita pulang!” Abiwara akhirnya membiarkan Farhan mengendarai mobil, sementara Beno dan Adham mengekor di belakang mereka dengan mobil yang lain. Sepanjang perjalanan, awalnya berjalan lancar dan tidak ada masalah. Farhan mampu mengendalikan mobil dengan baik dan benar Namun, tiba-tiba saja ada truk yang nyelonong nyebrang di depan mobil mereka, membuat laki-laki itu kaget dan tidak bisa menguasai mobil tersebut. Pandangannya kabur, hingga mobil pun oleng ke kanan dan ke kiri, lalu berputar-putar 360 derajat. Farhan panik dan benar-benar tidak bisa menguasai mobil, karena mobil itu tidak bisa dihentikan begitu saja, rem mobil ternyata blong. Abiwara berusaha membantu temannya, untuk menghentikan mobil yang masih saja berputar-putar. Keduanya panik dan bingung, tidak tahu apa yang harus dilakukan, hingga akhirnya mobil yang mereka kendarai menabrak tembok dengan begitu keras, suaranya terdengar begitu memekakkan telinga. Mobil itu terpental begitu jauh hingga terbalik, roda mobil berada di atas. Kaca depan, bumper depan hingga penutup mesin mobil remuk, tak beraturan, sementara Farhan dan Abiwara pingsan tak sadarkan diri karena guncangan yang begitu hebat. “Saat itu aku masih bisa merasakan nadiku berdenyut. Namun, jiwaku sudah melayang dan aku melihat sendiri kondisiku yang begitu mengenaskan. Darah ada di mana-mana, aku bisa melihat mukaku hancur bersimbah darah.” Abiwara masih menceritakan kronologi kecelakaan mobil yang dialaminya. “Saat itu jalanan sepi, nggak ada seorang pun atau mobil yang lewat di sana. Namun, tak lama kemudian ada sebuah mobil yang mendekat dan berhenti di dekat mobilku. Rupanya mereka adalah Adham dan Beno. Aku kira mereka berdua akan menolong aku dan Farhan, tapi ternyata ….” Abiwara kembali terdiam, ucapannya yang terakhir terdengar begitu kesal dan marah. Saat itu jalanan sangat sepi, tidak ada mobil atau orang yang lewat di sana, hanya suara jangkrik dan kodok yang saling bersahut-sahutan, menyambut gerimis yang mulai turun malam itu. Adham dan Beno yang mengendarai mobil di belakang mobil Abiwara, akhirnya berhenti dan keluar dari mobil lalu menghampiri mobil temannya yang terbalik. “Wow, dahsyat, Dham! Lihat, sampai terbalik seperti itu mobilnya! Busseet!” ujar Beno takjub dan tercengang melihat kondisi mobil Abiwara yang terbalik, di mana tubuh teman-temannya yang bersimbah darah terjepit di dalam mobil. “Ben, kita harus pastikan apa dia masih hidup atau nggak?” sela Adham sambil memperhatikan Abiwara dan Farhan dari kaca depan yang sudah pecah berkeping-keping. “Aku yakin dia sudah mati, Dham! Lihat saja mukanya ancur gitu!” sahut Beno sambil menyeringai lebar. “Akhirnya, keinginanku terwujud juga! Kita bisa mendapatkan uang 2,5 miliar!” “Tapi kita jangan buru-buru seneng dulu, Ben! Karena langkah kita masih terhalang oleh Rhea, uang pertanggungan 2,5 miliar itu diwariskan ke perempuan itu! Jadi kita harus mencari cara untuk mendekati dia, kalau perlu kita bunuh dia kalau kita sudah mendapatkan uang itu!” tukas Adham tegas. “Tenang, Dham! Untuk soal itu jadi bagianku saja, aku yang akan mendekati Rhea, kita memang nggak boleh buru-buru karena perempuan itu sendiri, orangnya juga susah untuk didekati,” sahut Beno sambil menyeringai senang. “Kasihan banget kamu, Abiwara! Harapanmu untuk membahagiakan istrimu selama-lamanya, sirna sudah. Tempat kamu memang di surga sana bersama para bidadari, bukan bareng Rhea. Lagian salah sendiri, kenapa kamu bikin uang pertanggungan sebesar 2,5 miliar untuk polis asuransimu?” ejek Beno sambil tertawa sinis, diikuti tawa Adham yang tergelak senang. Jiwa Abiwara yang melayang-layang di udara, melihat dan mendengar semua percakapan kedua temannya ini. Dia benar-benar tidak menyangka kalau mereka berdua akan berbuat sekeji ini. Beno dan Adham bukannya menolong, malah membiarkan tubuh Abiwara dan Farhan begitu saja, tepat pada saat itu ponsel Adham berdering, Adham segera mengangkatnya dan berbicara sebentar dengan seseorang di ujung telfon, lalu menutupnya setelah selesai ngobrol. “Dari siapa, Dham?” “Siapa lagi, kalau bukan dari sopir truk tadi! Dia minta uang pelunasannya malam ini juga!” “Nggak sabaran banget sih tuh orang, bilang sama dia, kita pasti bayar! Nggak usah khawatir, kita pasti akan memenuhi janji kita. Karena dia juga sudah melakukan pekerjaannya dengan baik, kecelakaan ini bener-bener fatal!” “Lalu kapan kita akan telpon ambulance? Sedari tadi orang-orang yang lewat, lihat ke sini terus, ini sudah hampir satu jam lho, Ben! Aku yakin dia sudah mati!” ujar Adham cemas. “Kalau pun belum mati, kita harus membunuhnya di rumah sakit nanti! Kalau gitu, aku telpon ambulance sekarang!” Beno pun bergegas menelpon ambulance dan pura-pura shock, mengabarkan kalau ada kecelakaan. ♥♥♥♥ “Jadi, kalau aku dengar dari ceritamu tadi. Kecelakaan yang terjadi sama kamu itu, ternyata sudah direncanakan oleh Adham dan Beno?” Abiwara mengangguk cepat. “Tapi, bagaimana mereka tahu soal polis asuransimu?” tanya Abisatya heran. “Tadinya aku juga penasaran, dari mana mereka tahu soal polis asuransiku? Setelah aku ingat-ingat lagi, waktu itu ada orang asuransi yang datang ke kantor. Kebetulan dia baru saja merubah nama ahli waris yang akan mendapatkan uang pertanggunggan seperti yang aku minta. Aku minta nama Ibu di rubah menjadi nama Rhea sebagai ahli warisnya, karena dia adalah istriku.” “Okee, lalu …,” sela Abisatya penasaran. “Nggak lama kemudian, setelah orang asuransi itu pulang, Beno masuk ke ruang kerjaku, waktu itu kami mau bahas proyek baru. Itu nggak lama kok, kayaknya baru 3 bulanan ini. Nah, singkat cerita, setelah kami ngobrol-ngobrol. Dia nanya, apa aku bikin asuransi baru? Karena ada orang asuransi tadi yang ke sini. Aku bilang ke dia kalau orang itu baru aja selesai merubah nama ahli waris di polis asuransiku.” “Trus kamu cerita ke dia soal uang pertanggungan itu?” Abiwara menggeleng lemah. “Aku nggak cerita, kebetulan buku polis asuransinya ada di atas meja. Iseng dia buka-buka, waktu itu aku juga nggak kepikiran yang macam-macam. Karena aku pikir dia itu temen kantorku dan kami juga udah lama kerja bareng. Aku pikir it’s okay!” sahutnya lirih dengan nada sedih, “waktu itu Beno kaget waktu baca uang pertanggunganku yang 2,5 M tadi. Aku masih inget, dia bilang … gila! Jadi kalau kamu mati, Rhea dapat 2,5 miliar? Nah, di situ dia tahu soal uang pertanggunganku itu!” Abisatya mengangguk-angguk dan mulai mengerti apa yang dibicarakan oleh sosok yang menyerupai saudara kembarnya ini. “Jadi, cuma gara-gara pengin dapet duit 2,5 miliar, dia tega bunuh kamu?” ujarnya geram sambil mengepalkan tangan. “Lalu, bagaimana soal rumah ini? Apa Rhea sudah tahu kalau kamu beli rumah buat dia?” Abiwara menggeleng lagi. “Aku belum sempet bilang ke dia, Sat. Seperti yang aku bilang tadi kalau aku mau kasih surprise ke dia, saat dia ulang tahun, sebagai kado special, tapi ternyata aku nggak bisa,” sahutnya sedih. “Nanti, tolong … kamu kasih tahu dia, yaa. Tolong antar dia ke rumah itu dan berikan padanya berikut sertifikat rumah. Semuanya aku simpan di laci di dalam lemariku berikut kunci rumahnya.” “Okee, aku pasti akan berikan kunci rumah itu ke dia.” “Dan satu lagi, tolong yakinkan dia kalau Beno dan Adham tidak sebaik seperti yang dia lihat selama ini. Ceritakan padanya tentang uang pertanggungan itu juga tentang rencana pembunuhannya. Mungkin kamu bisa minta tolong Farhan untuk meyakinkan Rhea juga.” “Farhan…? Bukannya dia masih koma di rumah sakit?” sela Abisatya heran. “Iyaa, maksudku … suatu saat nanti kalau Farhan sudah siuman, aku yakin nggak lama lagi dia bakal siuman.” “Tapi, tunggu!” sela Abisatya sambil berdiri dan berjalan menghampiri sosok yang mirip saudara kembarnya itu, “bagaimana caranya aku bisa yakinin istrimu itu kalau aku bisa lihat kamu? Ini nggak gampang, Bi! Apalagi dia itu orangnya nggak percaya sama yang begini-beginian.” “Aku nggak tahu, Sat. Itu jadi tugas kamu sekarang. Yang pasti, aku bener-bener minta tolong sama kamu. Tolong jagain dan lindungi dia dari kedua mahluk jahat itu! Dan kalau perlu, kamu harus bisa nikahin dia! Agar Rhea nggak jatuh ke pelukkan mereka berdua!” “Apa …? Nikahin Rhea?” Abisatya kaget. “Bagaimana mungkin, Bi?” 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN