Empat Puluh Satu

1079 Kata

Sampai di rumah, aku langsung mencari ibu di kamar beliau. Melewati Putik yang tak peduli saat melihatku dan memilih bermain dengan Ruby juga Genta. Ibu baru saja selesai sholat, masih mengenakan mukena putih dan menyapaku dengan senyum. Namun aku luruh di pangkuannya,menangis dan mengeluarkan semua kesakitanku. Ibu mengelus kepalaku berulang dengan perlahan. Tak ada tanya, beliau hanya membiarkanku menumpahkan airmata di pangkuannya. Mungkin, semua yang kualami adalah buah karma dari apa yang telah kulakukan pada ibu dan ayah. Mungkin, semua kesakitan yang kuderita, karena kenalakanku pada orangtua. Dan penyesalan - penyesalan yang menyesakkan d**a meluap, menjadi kemarahan yang tidak kumengerti. "Maafkan Giri, Bu. Selama ini Giri lebih banyak membuat Ibu kecewa dari pada bahagia. Maaf

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN