“Hai, Jingga.” “D—dokter Asya?” Aku mempersilakan Dokter Asya untuk masuk. Dia mengatakan bahwa dia datang kesini untuk mengucapkan selamat atas pernikahanku dan Kak Damar. Dokter Asya juga membawa hadiah pernikahan untuk kami. Saat resepsi kemarin, dia tidak dapat hadir karena tidak mendapatkan izin libur. Seberapa dekat hubungannya dengan Kak Damar sehingga dia bisa mengakses naik ke atas? Ingat Dokter Asya? Dia yang memeriksa aku saat berada di Sukabumi waktu itu. Sejauh yang ku tahu, dia adalah teman Kak Damar. Lebih tepatnya, aku tidak pernah menanyakan apa hubungan mereka. Aku hanya mengira mereka berteman. “Aku nggak bilang ke Damar, loh, kalau mau mampir. Kemarin, aku telepon dan dia bilang supaya langsung datang ke apartemen aja.” Aku hanya meringis. “Sebentar Dok, saya

