Sebelas

1835 Kata
*Davino POV* Setelah beberapa hari aku berada di New York. Aku bersiap kembali ke Chicago untuk menyerahkan tugas akhirku. Aku sudah meminta izin kepada Papa dan Mama untuk membawa serta Lian berada di Chicago selama dua sampai tiga hari. Mereka menyetujuinya. Papa, Mama, dan Sam tidak ada yang akan ikut ke Chicago karena Papa dan Mama akan mengecek keadaan perusahaan dan butik yang dikelola dibawah jarangan Benings boutique, jadi mereka akan ke beberapa negara bagian selama empat hari ini. Sedangkan Sam akan ditemani Zach ataupun orang suruhan Zach untuk berkeliling New York atau sekedar ikut ke butik Mama. Aku memperhatikan kembali gadis cantikku ini. Ia memakai tanktop putih dengan jaket bomber tipis berwarna pink dan celana jeans biru yang pas di kaki jenjangnya. Tidak lupa Lian juga menggunakan sepatu berwarna putih. Wajahnya terlihat cantik dengan bibir merah mudanya. Tas ransel dengan merek gucci bertengger di salah satu bahunya. Dia benar-benar sudah menjadi gadis sekarang. Sudah berbeda dengan terakhir kali aku meninggalkannya. Papa mengantarkan kami ke bandara. Sebenarnya Zach sudah menawarkan dirinya, tapi Papa bersikeras ingin mengantarkan anak gadisnya sendiri. “GPSnya jalan kan?” tanya Papa dengan bahasa Indonesia dan diangguki oleh Zach. Kupikir selama empat tahun disini, dia tidak tahu bahasa Indonesia. Ternyata semuanya salah total. Asumsiku dia sepertinya mengerti tapi tidak bisa menjawab pertanyaan dengan menggunakan bahasa Indonesia. Setahuku dia orang Amerika asli, bukan KW premium macam Papa. Papa kan sudah memiliki darah campuran darimana-mana. Sesampainya disana, kami segera pamit pada Papa. Pesawat akan lepas landas dalam satu jam. Kami harus segera masuk ke ruang tunggu. Papa drama sekali. Padahal aku paling lama membawa Lian tiga hari, bahkan Papa belum kembali dari perjalanan bisnisnya. Rasanya seperti akan membawa Lian hidup berumah tangga dan pisah rumah. Aku jadi terkekeh. Bagaimana nanti suami Lian menanggapi keposesifan kami? Suami? Bahkan sepertinya aku tidak akan rela jika Lian punya pacar. Malah aku dengan bodohnya berandai-andai jika dia punya suami. Ya, Tuhan. Aku jadi tersenyum geli. Aku saja tidak tahu, apa dia sudah bisa merasakan perasaan cinta. Untuk gadis enam belas tahun, harusnya dia sudah merasakan perasaan cinta. Betul tidak? Normalnya begitu kan? Dia mulai bisa merasakan mana rasa lebih suka ke orang lain dan perasaan biasa aja. Aku dan Lian menunggu di ruang tunggu. Beberapa orang mencuri pandang ke arah kami. Aku jadi melihat penampilanku, mungkin ada yang salah. Tapi sepertinya tidak ada. Aku memakai kaos putih yang melekat pas di badanku dengan celana jeans biru serta backpack Ferragamo dan sepatu sneaker berwarna putih. Lian dengan pakaiannya tadi dan kulihat tidak ada yang salah. Pakaian kamu serupa. Aku jadi takut mereka mengincarkan kesayanganku ini. Aku segera merengkuh bahunya. “Kenapa, Kak?” tanyanya santai sambil membaca artikel fashion di tablet yang dipegangnya. “Baju kamu terlalu kebuka, dek!” Lian menatapku aneh lalu mengamati bajunya. Dia mungkin merasa tak ada yang salah dengan bajunya. Ya, sebenarnya aku juga merasa seperti itu, sih. Tapi kini aku jadi bertanya-tanya, kenapa mereka melihat ke arah kami seolah ada yang menarik dari kami? “Mereka ngeliatin kamu terus!” “Yak elah. Ngeliatin Kakak kali. Kakak kenapa sih gak pake jaket. Baju Kakak ketat tau. Liat tuh, d**a Kakak!” dia berkata sambil menunjuk dadaku. Kulihat bajuku sambil mengamati dengan seksama. Ya memang ketat sih bajuku, tapi badanku biasa saja menurutku. Justru baju yang dia kenakan itulah yang memperlihatkan lekuk tubuh indahnya dengan jelas. Membuat orang lain mencuri pandnag ke arahnya. Mengesalkan sekali! Beberapa saat kemudian pengumuman untuk masuk ke dalam pesawat terdengar. Lian menggenggam tanganku erat. Akupun juga menggenggam tangannya erat. Persis anak TK saja kami, takut terpisah. Setelah penerbangan selama kurang lebih dua jam. Sampailah kami di Chicago. Kami masih bergandengan. Sampai sebuah tepukan mengagetkanku. Aku jadi seperti orang latah yang takut bahwa ini modus gendam. Kupikir lagi, apa yang mau di gendam. Ah, iya Lian! “Kellen! Ngagetin Lo! Anjir!” Kudengar suara kekehan Kellen atas protesku dan disisi lain kudengar suara hembusan nafas kasar. Mungkin Lian juga sama kagetnya denganku tadi, karena tangannya sempat menggenggamku sangat erat juga. “Tegang banget, lo! Eh, ini Lian ya?” dengan sumringah Kellen mendekati Lian. Ia mengulurkan tangan dan disambut dengan uluran tangan Lian. “Lian.” “Kellen. Lo cantik ya ternyata.” “Sssttttss!!” aku menghentakkan tangan Kellen yang masih bertengger manis di tangan Lian. “Apa sih, lo! Posesif banget. Sama Gienka aja lu bodo amat!” Aku menatap tidak suka dia membawa nama Gienka. “Udahlah, ini princess pasti capek, iya kan? Yok istirahat,” Kellen berbalik dan berjalan lebih dulu. “Maaf ya, kalo kamu gak nyaman sama dia.” “Gak nyaman kenapa Kak? Dia cuma ngajak kenalan kok. Udah biasa.” “Udah biasa?” “Iya.” “Kok gitu?” “Ya, emang sering diajak kenalan.” “Dimana?” “Sekolah! Dimana lagi.” “Kirain di Mall.” “Gimana mau kenalan di Mall, orang di tungguin Papa. Males banget. Pada ngacir lah mereka!” ucapnya dengan bersungut-sungut. Aku menyembunyikan senyumanku dan bersikap seolah-olah menyetujui apa yang Papa lakukan. Gemas sekali melihatnya cemberut dengan bibir yang sudah mengerucut itu. “Bagus. Kamu gak boleh ke Mall sendiri!” “Kaaakkk! Aku tuh enam belas tahun tahun loh. Bentar lagi tujuh belas tahun. Masa aku di ikutin Papa terus.” “Kita udah bahas beberapa kali soal ini, dek. Kakak gak mau dibantah ya.” “Ish!” Lian mengehentakkan tanganku dan berjalan lebih dulu mengikuti langkah Kellen. Argh! Susah banget dibilanginnya. Aku jadi gemas sekali. Aku segera menyusulnya. Tentu dengan langkah panjangku, tidak sulit untuk menyamai langkah gadis kesayanganku ini. Ku genggam lagi tangannya dengan lembut dan tidak ada penolakan. Memang tidak ditolak, tapi wajahnya masih menunjukkan ekspresi yang sama, cemberut mirip bebek. Andai bisa dipakaikan karet, aku sudah menguncirnya. Lucu sekali. Aku tersenyum tipis mengamatinya. -***- Makan malam ini, Lian membuatku Spaghetti aglio olio dengan banyak keju dan beberapa potong bakso yang sempat dibawa dari rumah. Aku sebenarnya tidak percaya gadis di depanku ini sudah beranjak remaja. Dia bahkan bisa mengurusku. Kupikir dia akan jadi anak yang manja. Nyatanya dia lebih pintar memasak dari Mama dan sepertinya sudah lebih mandiri. Aku salut dengan Mama dan Papa. Kedua anaknya bahkan sudah memikirkan bisnis sejak di usia belasan tahun. Aku saja terpaksa memikirkan soal bisnis saat menginjak umur delapan belas tahun karena Papa minta aku bertanggung jawab atas warisan kedua orang tua kandungku. Aku jadi semakin bersyukur bahwa aku dipertemukan dengan mereka. Aku tidak bisa bayangkan jika aku bertemu dengan keluarga lain. Parahnya, jika aku harus hidup sebatang kara. “Kak!” ucapan lian menyadarkanku. “Ya, Li.” “Kakak mau s**u coklat? Atau coklat hangat? Aku mau duduk-duduk di balkon sambil lihat pemandangan danau Kak.” “Bikinkan kakak Kopi bisa nggak? Di kabinet ada kopi yang Kakak suka bikin.” “Boleh. Kakak tunggu di balkon ya?” “Oke.” Aku beranjak menuju balkon kamarku. Ku ambil bean bag di kamarku dan selimut serta meja kecil untuk menaruh kopi yang ia bawa. Aku menunggunya dengan membuka tablet untuk mengecek beberapa email sambil menikmati pemandangan sore dari balkonku. Sebentar lagi matahari akan mulai terbenam. Pemandangan dari balkon ini memang sangat indah. Sudah hampir lima belas menit Lian tidak kunjung menghampiri. Aku jadi takut dia kenapa-kenapa. Saat aku akan beranjak. Kulihat senyum manisnya di pintu dengan tangan memegang nampan yang sudah ada beberapa makanan. satu coklat hangat, satu kopi, empat slice roti bakar dengan selai coklat, dan semangkok buah anggur. “Lama ya, Kak? Aku harus bakar rotinya dulu.” "Iya,” Hanya itu yang kukatakan. Saat dia mulai duduk di bean bag. Ku tutup kaki jenjangnya yang terlipat dengan selimut yang sudah lebih dulu kupakai. Suasananya cukup berangin. Lantai ini cukup tinggi dan angin danau juga lumayan kencang. Kutatap Lian yang tersenyum manis ke arahku. Ah, senyumnya! Benar-benar membuatku gila. Ku sesap kopiku dengan melihat pemandangan ke arah danau. “Setelah ini apa kondominium ini dijual, Kak?” “Gak, Li. Aku gak akan menjualnya. Suatu saat bisa kita pakai kan?” Dia hanya manggut-manggut saja. Tiba-tiba dia memelukku. Jantungku berdebar dan ada perasaan nyaman menyusup di hatiku. Ia menenggelamkan kepalanya di dadaku. Sejujurnya ada rasa takut dia mendengar debaran jantungku. Aku berusaha untuk menormalkan debaran itu dengan mencoba mengatur nafas. “Aku suka kalo peluk, Kakak. Nyaman. Tapi apa Kakak, gak apa-apa?” “Kenapa memangnya Li?” “Jantung Kakak selalu detak lebih keras kalo aku lagi di d**a Kakak. Kakak gak sakit kan?” “Gak, Kakak sehat. Kamu berat kali, jadi Kakak sesek rasanya.” Candaku sambil tersenyum tipis. “Emang aku berat ya, kak? Aku gendut ya? Aku mau dance lagi deh, biar kurusan. Aku harus atur pola makan pulang dari sini!” “Apa deh, Li. Kamu cantik kok. Udah segini aja badannya. Gak gendut kok. Cantik!” ah dasar ABG sekarang. Insecurenya luar biasa! ucapku dalam hati. “Tapi kata Kakak, aku gendut!” dia merajuk di dadaku sambil memelukku erat. “Nggak, Sayang. Kamu selalu cantik.” Aku menciumi pucuk kepalanya. “Cantik mana aku sama Kak Gienka?” “Kamu tau Gienka? Kamu tau dia?” tanyaku dengan sebelah alis yang sudah terangkat. Darimana gadis kecilku tahu soal Gienka, bahkan aku saja belum pernah mengenalkannya. “Tau! Diantara foto-foto Kakak di Sosial media, ada beberapa foto Kakak sama Kak Gienka. Kakak pacaran sama dia, ya?” “Gak,” jawabku singkat. “Masa? Kakak gak pacaran?” “Gak,” jawabanku masih singkat dan kini rasanya aku tidak nyaman Lian menanyakan perihal perempuan itu. “Kenapa?” Aku diam saat dia memaksaku menjawab. Sebenarnya aku juga tidak tahu alasan mengapa aku tidak memacari Gienka. Aku bingung, aku tidak pernah menembak Gienka. Gienka pernah meminta penjelasan hubungan apa yang kami jalani, dan aku bilang hubungan seperti apa yang dia pikirkan. Lalu dia bilang bahwa hubungan yang dia inginkan adalah dia tidak ingin terikat atau terkekang. Lalu aku menyetujuinya. Beberapa kali dia bilang bahwa ini hubungan mutual. Aku membutuhkannya dan dia membutuhkanku. Bisa ku sebut dengan sebutan Friends with benefit? Atau sebenarnya lebih tepat seperti hubungan tanpa status? Aku menyayangi Gienka seperti apa ya? Jika aku bilang seperti selayaknya teman dan adik. Sudah pasti aku kena julid para netizen yang akan bilang bahwa mana ada Kakak yang merusak adiknya. Sedangkan jika kuanggap sayang selayaknya kekasih. Aku bahkan tidak pernah cemburu dengan siapapun yang mengajak Gienka jalan dan pergi. Aku tidak selalu mengkhawatirkannya. Aku membiarkanmu melakukan apapun yang dia mau. “Kak?” Lian menyadarkanku dari lamunan panjangku. “Di tanya malah bengong. Gimana sih?!” Lian melepaskan pelukannya. Dia menyesap coklat panasnya dan mengambil satu slice roti dengan selai coklat. Aku tetap tidak berminat untuk menjawab pertanyaan Lian tadi, jadi aku hanya tersenyum sambil mengusap lembut kepalanya. Ku tatap lekat matanya dan memandangi wajah Lian dengan seksama. Sepertinya aku tau kenapa aku tidak bisa pacaran. Aku sudah terlanjur menemukan rasanya nyaman ini di Lian. Jadi harus ada perasaaan yang lebih hebat dari ini buat meluluhkan hatiku. Tapi memangnya ada? Good question, otakku yang cerdas. -***-
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN