“Ada apa, Arvan?!” tanyaku sambil menenangkan anak-anak yang juga ikut terkejut setelah mobil tiba-tiba berhenti.
“Seseorang menikung dan menghalangi jalan. Dan saya sepertinya tahu mobil siapa itu,” jawabnya dengan wajah dingin.
“Tunggu sebentar, Bu.” Gegas pria itu keluar dan menutup pintu.
Aku menelisik melihat wanita yang turun dari mobilnya sendiri. Di sana wanita itu menatap kesal.
Sheva.
Penampilannya begitu cetar khas seorang pelakor. Rok span warna putih dengan paha yang terekspos, belum lagi dadanya yang terlihat menyembul besar. Pantas Mas Raga begitu tergila-gila dengan pesonanya. Mirisnya dia hanya bisa berzina bukan diperistri secara resmi.
Wanita itu berkacak pinggang dan berseru ke arah Arvan. Terjadi perdebatan sengit setelahnya. Sheva sampai menunjuk wajah Arvan. Dasar tidak sopan.
“Kalian tunggu di sini bareng Mbak, ya. Mama mau ke luar dulu.”
Afni dan Dika yang tidak tahu apa-apa itu langsung menurut.
Aku membuka pintu mobil dengan cepat untuk menghampiri keduanya. Hampir saja Sheva melayangkan tangan ke wajah Arvan andai aku tidak segera menghampiri.
“Ada apa ini? Dan apa yang kau lakukan pada bodyguardku!” tanyaku sengit.
“Oh, akhirnya kamu turun juga. Dengar Zea, jangan salahkan aku melakukan hal ini. Bodyguard sial⁴nmu itu berusaha melindungimu dan tidak mengizinkan aku untuk bertemu denganmu. Dan kau Zea, setelah apa yang kau lakukan pada kami, kau akan lepas tangan dan kabur begitu saja tanpa mempertanggungjawabkan semuanya, hah? Dasar perempuan licik!!” hardiknya kasar.
Aku tidak takut melihat wanita penuh emosi di depanku itu. Senyum sinis kulayangkan kemudian.
“Memangnya apalagi yang harus kulakukan?! Tugasku sudah selesai, biarkan netizen dan masyarakat luas yang menilai kelakuanmu dan suamiku. Itu sudah cukup bagiku.”
“Brengs³k kau, Zea!!”
Sheva hendak menamparku tapi Arvan buru-buru menghalau.
“Cukup, Bu Sheva. Jangan bertindak anarkis atau Ibu akan berurusan dengan hukum!”
Pria itu menjadi tameng untukku dan menahan tangan w************n itu untuk kemudian menepisnya dengan kasar.
Sheva limbung dan mundur beberapa langkah ke belakang. Wanita itu mendesis dengan mulut penuh sumpah serapah.
“Dasar bodyguard sial⁴n. Jangan ikut campur urusanku!! Apa kau tidak malu menganiaya seorang wanita untuk melindungi wanita tidak tahu diri itu?!” hardiknya pada Arvan.
Pria dengan tubuh berotot itu terus menghalangi Sheva yang ingin melampiaskan amarahnya padaku.
“Aku dibayar untuk melindungi Bu Zea dan anak-anaknya, jadi jangan pernah coba-coba untuk menyakitinya atau kau akan berhadapan denganku!!” ancam Arvan.
Arvan melirik kepadaku kemudian mempersilahkan untuk masuk ke dalam mobil, sementara Sheva yang aksinya dihalangi oleh Arvan tak berkutik dan hanya menyumpah serapah.
Aku tidak peduli dan aku juga tidak terlalu puas barusan, karena aku tidak berhasil melayangkan kata-kata dari mulutku padanya.
Aku menahan diri hanya karena tidak ingin Afni dan Dika melihat pertengkaran antara aku dan Sheva; yang mereka tahu dia adalah teman papanya dan cukup sering berkunjung ke rumah.
Ya, dulu kami memang sedekat Itu. Sheva mengatakan kalau dia berteman dengan suamiku sejak masa SMA, makanya tak heran jika wanita itu beberapa kali datang ke rumah dengan alasan mengantar makanan atau sekedar menjenguk, jika suami tidak ada kesibukan dengan jadwal terbangnya.
Siapa yang menyangka itu hanya kodok dan akal-akalan wanita itu semata untuk mendekati suamiku.
Mirisnya, aku menganggap semuanya akan berlalu begitu saja dan berulang kali memaafkan Mas Raga yang ternyata buaya.
*
Kendaraan kembali melaju setelah Arvan masuk kembali ke dalam mobil. Mau tak mau mobil mewah pemberian dari suami ini menyenggol body mobil milik Sheva yang menghalangi jalan.
Wanita itu berkali-kali mengumpat apalagi melihat bemper mobilnya yang sedikit penyok.
Uang tak masalah jika dia meminta tanggung jawab, tapi harga diri dan pernikahanku hancur olehnya pantas diperhitungkan.
“Kita ‘kan harusnya langsung pulang ke rumah. Kenapa malah berbelok ke tempat lain?!” tanyaku heran.
Kulihat dari kaca spion tengah Arvan menarik sudut bibir.
“Maaf Bu Zea, anak-anak sepertinya sedikit syok dan butuh hiburan. Kita mampir ke taman hiburan, lagipula Bu Zea sudah janji akan membawa mereka jalan-jalan minggu lalu dan sampai sekarang belum ditepati,” balasnya santai.
“Oh, benarkah?” tanyaku sambil memijat pelipis. Banyak hal yang terjadi dan membuatku lupa akan janji- janjiku pada anak-anak.
Arvan mengangguk dan membelokkan kendaraan ke taman hiburan terbesar di ibukota.
Dulu Mas Raga tiba-tiba membawa Arvan ke rumah dengan dalih dia membutuhkan pekerjaan, setelah dipecat dari angkatan laut karena mengabaikan satu perintah dan kasus tertentu.
Tak kusangka belakangan Arvan banyak berperan dalam kehidupanku. Terbukti dia menjagaku dan dua anakku atas perintah dari suami.
Sekarang baru ‘ku tahu alasannya. Ternyata itu bukan bentuk kepedulian Mas Raga, tapi agar pria itu bebas dan memiliki waktu lebih banyak untuk gundiknya, sementara perannya diserahkan kepada orang lain.
Setelah memesan tiket, anak-anak tampak ceria ketika diajak jalan-jalan. Tangan keduanya memegang tangan Arvan, sementara aku dan baby sitter mengekor di belakangnya.
Arvan sudah sejauh ini memberi perhatian untuk anak-anak yang tidak mereka dapatkan dari papanya.
Arvan mengajak anak-anak berfoto dengan burung-burung. Kami berada di kawasan Ragunan sekarang.
Aku memilih duduk sambil membuka ponsel. Setelah memasang mode hening, ribuan notifikasi masuk setelahnya, disusul dengan belasan telepon masuk.
Papa dan Mama juga turut menghubungi, tapi masih juga kuabaikan. Untuk apa, biarkan saja nanti aku menjelaskannya setelah tenang karena aku yakin mereka juga terkejut atas tindakanku kali ini.
Penasaran, akan membuka pesan dari Sheva. Setelah tidak berhasil melakukan tindak kekerasan tadi, rupanya wanita itu masih belum jera. Terbukti dengan belasan chat dan umpatan masuk ke aplikasi hijau.
Tak berniat membacanya sama sekali, kupilih untuk menscreenshot, kemudian menyebarkannya kembali ke media sosial.
Biar mereka yang menilainya sendiri, bagaimana pramugari yang terlihat anggun saat melayani penumpang itu, begitu kasar dalam mencaci maki istri sah dari kekasih gelapnya. Ratusan notif kembali masuk dari orang-orang yang geram dengan kelakuan wanita itu.
Rasakan Sheva, aku yakin sekarang kau akan jadi bulan-bulanan mereka. Tanpa harus turun tangan, hujatan mereka sudah mewakili. Dan percayalah sanksi sosial itu lebih mengerikan daripada kulawan sendirian.
(Zea, kenapa kau malah menyebarkannya kembali, hah! Dasar perempuan tidak tahu diri!!)
Sheva kembali melayangkan pesan setelah beberapa saat lalu kuunggah umpatan darinya.
Sepertinya wanita itu juga penasaran dan mengikuti akun media sosialku, untuk kemudian berkomentar secara pribadi setelah merasa geram dengan tindakanku kali ini.
(Silahkan saja mengumpat dan berkata kasar, maka dengan begitu semakin mudah bagiku untuk mengenalkanmu pada media sosial. Terima kasih sudah berselingkuh dengan suamiku, maka setelah ini kupastikan dia akan menjadi milikmu seutuhnya.)
Klik. Send.
Tentu saja pesan itu bukan kutujukan untuk membalas chat kasar dari Sheva, melainkan kujadikan unggahan dengan setting publik, hingga tiap orang yang membuka jejaring media sosial bisa melihat bahasa kasarnya.
Setelahnya aku memilih nonaktifkan ponsel agar hati dan pikiranku lebih tenang. Fokusku kembali kepada anak-anak yang berteriak memanggil untuk mengajakku berfoto. Gegas akan mengajak Mbak Dina untuk ikut serta, mengabadikan kenang-kenangan dalam sebuah foto cetak dadakan.
“Ini Mbak Zea yang lagi viral di tik tok itu, ya?!” tanya seseorang membuatku menoleh.
Bukan hanya seorang, tapi beberapa orang tampak mendekat dan penasaran, disusul yang lainnya mengambil ponsel untuk kemudian memotretku setelah meminta izin terlebih dahulu.
“Iya bener, ini ‘kan Mbak Zea yang beberapa jam lalu mengunggah perselingkuhan suaminya,” sambut yang lainnya. Antusias.
“Dih, kok tega ya, cewek secantik gini masa diselingkuhi?! Mbak Zea yang sabar ya, Mbak terlalu cantik untuk disia-siakan.”
Berbagai reaksi masuk ke dalam telinga dari orang-orang yang tidak kukenal, tapi jelas mereka tiba-tiba mengenalku.
Ah, memang media sosial mampu membuat seseorang yang bukan siapa-siapa menjadi orang yang patut untuk dibicarakan. Aku hanya berterima kasih atas perhatian mereka dan memilih pergi setelahnya.
***
Kembali ke rumah setelah puas menyenangkan dua anakku, aku dikejutkan dengan kedatangan seseorang yang sudah menunggu dengan raut wajah … entah.