Bab 3. Merindukanmu, Bi

1080 Kata
Happy reading. Typo koreksi. **** Xixixi. Suara kikikan geli terdengar dari ruang tv, terlihat seorang anak kecil perempuan duduk di sofa coklat rumahnya dengan mata tertuju pada layar yang menampilkan animasi Upin dan Ipin. Anak itu kembali tertawa geli dengan adegan yang di tontonnya. "Siapa yang mau kue!" Mendengar suara teriakan kecil ibunya membuat anak itu menoleh seketika  berjingkrak-jingkrak semangat karena melihat apa yang di bawa di tangan ibunya. "Brownies!" jerit anak perempuan itu. Bianca yang datang membawa brownies kering terkekeh, meletakkan piring putih itu di atas meja. Bulan putrinya itu langsung mencomot kue kesukaannya tersebut sambil menonton tv lagi. Dalam hati Bianca tersenyum teduh. "Ulan, ada PR, Nak?" Mulut Bulan atau anak kecil yang lebih akrab di panggil 'Ulan' itu tampak menggembung penuh oleh kue. Tangannya Bianca mengambil tisu yang ada di atas meja, mengelap mulut putrinya dengan raut geli tertahan. "Aduh ... aduh anak Bunda kok comel banget sih," serunya mencubit gemas pipi putrinya. Bulan terlihat menekukkan wajahnya setelah menelan habis kue di dalam mulutnya. "Ulan nggak ada PR, Bunda." jawabnya. Bianca mengangguk, mengusap pucuk kepala Bulan sayang. "Besok Ulan mau kemana? Mau jalan-jalan sama Bunda?" "Mau jalan-jalan sama kak Bagas juga Bun." Bianca terdiam sejenak, terlihat berpikir. Maksud hati ia ingin mengajak putrinya jalan-jalan untuk waktu berdua saja. Tapi, seperti Bianca sudah mulai lupa kalau Bulan dan Bagas putra semata wayang Darren itu sudah satu paket. Tentu saja Bianca tidak bisa memisahkan anak berbeda 2 tahun tersebut. "Oke, nanti sekarang kita telepon kak Bagas dulu. Ulan tanya ya, kak Bagas mau ikut atau tidak sama kita besok." Ulan mengangguk mengerti. "Tunga sebentar ya, Bunda mau ambil ponsel Bunda dulu di kamar." Bianca melangkah pergi menuju kamarnya, mengambil ponsel yang ia letakkan di atas meja nakas lampu tidur. "Coba sekarang kita telepon kak Bagas ya. Ulan yang ngomong atau Bunda Nak." "Ulan, Bunda." Bianca berdehem mengiyakan, tangannya menggulir nomor telepon rumah dokter Darren, ayah Bagas. Sambungan terhubung, cukup lama sampai suara wanita paruh baya masuk ke dalam indra pendengarannya. "Assalamualaikum, dengan kediaman keluarga pak Darren." "Waalaikumsalam, bu, ini Bianca." "Oalah, si mbak Bi. Ada apa mbak?" "Anu, bu ... mas Darrennya ada di rumah?" "Ada, mbak. Mau mbok panggil." "Boleh, bu." Terdengar langkah menjauh setelah Bianca mengatakan ingin berbicara dengan Darren. "Halo, Bi." Suara berat terdengar menyentak Bianca yang tiba-tiba menjadi salah tingkah. "Bi, kamu masih di sana?" Tersentak. "Ah! Iya mas, maaf." Kekehan kecil terdengar, Bianca bisa membayangkan wajah raut geli sosok Darren di ujung telepon. "Ada apa, Bi. Kata si mbok kamu mau ngomong sama aku?" "Anu ... begini mas, aku besok rencana mau ajak Bagas jalan-jalan, apa boleh Mas?" "Apa cuma Bagas saja yang kamu ajak. Papanya tidak kamu ajak." Eh. Pipi Bianca merona malu, entah mengapa Darren selalu saja berhasil membuatnya tersipu dengan kata-kata lelaki itu. Darren tergelak di ujung telepon. "Haha, tenang Bi. Aku hanya becanda. Boleh kok, kamu boleh ajak Bagas keluar. Kebetulan aku besok ada jam praktik ganti jadwal temanku." "Benarkah, mas!" "Iya, Bi. Kamu semangat banget kalau aku nggak ikut ya." goda Darren lagi. "Bu-- bukan seperti itu mas," balasnya tergagap. "Iya, Bi. Kamu mau ngomong sama Bagas?" "Oh itu mas, kayanya Ulan mau ngomong sama Bagas katanya." ujar Bianca ketika melihat raut putrinya yang sejak tadi mendongak menunggu. "Oke, sebentar ya. Bagas ini ada Ulan." "Kak Bagas, besok ... bla bla." Binaca hanya terdiam mendengarkan apa yang diucapkan putrinya dengan Bagas, putra Darren si dokter kandungan tersebut. Pembicaraan kedua anak kecil itu berlangsung cukup lama sampai serial animasi Upin dan Ipin yang di putar salah satu siaran tv nasional itu habis. ____ Di lain tempat, lebih tepatnya di sebuah kamar apartement seorang laki-laki gagah terlihat berdiri bersandar pada balkon kamarnya. Pemandangan sore menjelang malam kota Jakarta bisa ia lihat dari lantai 40 apartement nya. Ramai dan padat, selalu seperti itu. Wajah cantik tambatan hatinya terbayang-bayang membuat senyum menawan lelaki itu tercetak tanpa bisa di cegah. Senyum yang tidak pernah ia perlihatkan kepada siapapun kecuali wanitanya. Zaviar Alstair, terlihat senang setiap wajah cantik pemilik hatinya muncul menemaninya di setiap waktu. Wajah yang berhasil membuat Zaviar bertahan hingga saat ini. Wajah yang sangat Zaviar rindukan. Raut senangnya berubah sendu, ketika mengingat kejadian beberapa jam lalu. Flashback on. "Mau kemana Bro?" Sudah seminggu Zaviar berada di kota Jakarta, menjalani bisnis cabang perusahaan milik ayahnya. Lelaki itu baru saja selesai memeriksa beberapa berkas. Di ambang pintu ia melihat Deka sahabat sekaligus bawahannya itu sedang berdiri menatapnya dari atas kepala hingga kaki dengan alis terangkat. Zaviar pasalnya sudah rapih, memakai kembali jas hitam miliknya seperti sudah bersiap akan pergi. "Keluar," jawabnya santai. "Keluar? Jam segini?" tanya Deka lagi setelah melihat jam yang melekat di pergelangan tangan lelaki berkaca mata itu. "Gue ada perlu, bisa titip kantor sebentar. Ah, nggak cuma sebentar. Kayanya bakalan lama." paparnya pelan tidak peduli jika sahabatnya itu akan menolak. Mata Deka membelalak sejenak, pasalnya jam pulang kantor masih empat jam lagi dan lelaki tampan di hadapannya sudah mau pergi meninggalkan area kantor entah karena apa. "Zav, gue--" "Gue kasih bonus nanti." potong Zaviar yang segera melewati bahu sahabatnya itu berlalu pergi tanpa bisa di cegah oleh Deka. Njir, enak banget sih. Gerutunya sebal dalam hati menatap kosong ruangan CEO. Di dalam mobil, Zavi melajukan mobilnya mencari rumah seseorang. Dan tertegun ketika sampai di sana ia melihat pagar itu bertuliskan 'DIJUAL' dengan huruf besar. Zavi menatap nanar bangunan di depannya. Rumah yang sangat Zavi harapkan masih ada pemilik lamanya. "Mas, cari siapa?" Seru seseorang membuat Zavi menoleh. "Maaf, Pak. Apa pemilik lama rumah ini masih ada?" Beliau terlihat ikut menatap rumah berlantai dua di depannya. "Oalah, rumah ini sudah berapa kali ganti pemilik Mas. Kalau pemilik lamanya, setahu Bapak sudah lama meninggal, Mas." Deg. Jantung Zavi mencelos, matanya memanas melihat bangunan di dalam hatinua lelaki itu terus menggeleng keras berharap semua tidak benar. Kekasihnya masih ada. Wanitanya pasti masih menunggunya. Benar kan?. Flashback off. Zaviar menatap kosong pemandangan di depannya dalam diam. Kamu sekarang ada dimana Bi, kenapa kamu menghilang. Kemana lagi aku harus mencari kamu. 10 tahun Bi, tidak bisakah kamu menungguku selama itu Bi. Dimana kamu sekarang, aku merindukanmu. Kembalilah, Bi. Bisik Zaviar lirih dalam hati Tidak mungkin, wanita itu meninggalkannya. Tidak mungkin kekasih hatinya melupakannya. Zaviar harus bisa menemukannya segera, mengembalikan kehidupan mereka seperti semula. Menjalin sebuah perasaan yang selalu membuncah di dalam d**a, hingga rasanya menyenangkan seperti terakhir pertemuan mereka. Bi, aku mencintaimu. _____ Bersambung...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN