BAB 2

991 Kata
FEYNA          “Ayo menikah!” Lucas sering mewanti-wanti bila pernikahan mungkin saja adalah awal dari mimpi buruk yang ketika bangun pun aku tidak akan selamat. “Kau tidak salah dengar. Yang kubilang adalah aku mau kita menikah.” Parahnya, bukankah Lucas belum pernah salah? Otak cemerlang yang dia dapat dari Ayah, berhitung, menyusun sebab-akibat, mengakumulasi kemungkinan dengan sangat baik. Perkataannya ibarat kutukan. Tuhan seakan berdiri di pihaknya. Selalu. Tapi, pria ini kami sudah berpacaran selama hampir 4 tahun. “Dengan ataupun tanpa cinta.” Seharusnya memang begini. Semestinya aku mengabaikan Lucas. Dia hanyalah kakak pengidap sister complex yang sok tahu. Jika saja mobilku tidak menabrak tukang tahu bulat, andai aku tak dikerubuti massa untuk bertanggungjawab, bila saja hak sepatuku 3 senti lebih rendah hingga kejadian tersandung tangga di halaman depan tak pernah ada. Detik ini, berdiri di sini sambil menggumamkan ajakan menikah yang mestinya kusampaikan lebih awal kepada kekasihku tentu tak akan terasa sehambar dan seterlambat ini. Feyna, bukan cuma namamu yang kelewat pendek. Hubunganmu bersama Dion bahkan tak seabadi yang kau bayangkan. Benar kata Pak Hanggar, suatu hari kebiasaan telat dan pemikiran minimalisku akan menimbulkan bencana. Kali ini, bukan komputer utama METRIX yang terbanjiri virus oleh hobiku tersebut. Masa depanku baru saja terbajak dan sialnya tidak tersisa cara untuk memperbaikinya. HAH! Aku ingin menangis. Apabila aku tak terlanjur malu gara-gara gaun merah yang menyalahi dress code black and white bak tai cicak yang memenuhi seisi ruangan. Tentu para tamu klimis nan anggun ini bisa menganggapku angin lalu. Tapi, dilirik penuh cibiran, menjadi bahan gosip, dan intaian. Air mata jelas akan memperkenalkanku sebagai Pecundang. Dion Wuliyo kau pria b******n! Aku berharap sanggup mendang lututmu. Ah, tidak! Seandainya cukup berani, aku lebih tertarik untuk menjambak rambut istrimu. Dari mana sebenarnya wanita perebut pacar orang itu datang? Kami masih baik-baik saja setidaknya sampai sebulan lalu. Em, bukan. Dua puluh sembilan hari lalu Dion masih memelukku saat kujelaskan bahwa pria yang tiba-tiba menciumku di bar, kemarin malamnya sama sekali asing. Sebatas pria mabuk yang mungkin sedang patah hati lalu mengira aku ini mantan gadis berengseknya sampai-sampai dia menyiksa bibirku dalam cumbuan gilanya. Kupikir segalanya sudah beres, Dion dapat memercayainya. Namun, tiga minggu kemudian dia malah mengirimiku undangan. Apa bagi pria waktu sama sekali tak berarti? Empat tahun, sebagai wanita aku menggapnya poros hidupku. Tidak tergantikan, tapi semudah berkedip ia menyingkirkanku dari hatinya? Pria memang sukar dipahami. Ketulusan dan kepura-puraan timbul-tenggelam gunanya pastilah untuk menyakiti wanita. Ada baiknya bila pemain-pemain hati kaum hawa ini tak usah dicoba untuk dicintai. Hish! “Oke.” Itu bukan suaraku. Melepaskan sosok Dion dan ratu baru kehidupannya, aku lantas memutar badan demi menemukan wajah seseorang. Adam Gallagher? Mustahil! Dia blogger beken untuk apa menghadiri acara super menyesakkan ini? Lagi pula, matanya cokelat bukan biru. Terus, hanya jika tampilanku malam ini macam dewi, pria model Armani dengan tubuh tinggi tegap bak jebolan kontes produk s**u yang katanya bisa membentuk otot itu tengah menatapku intens juga sok kenal. Ogh! Aku mungkin wanita putus cinta, tapi tidak semurahan itu juga hingga kedipan mata berkilauannya sanggup memanaskan wajahku. Tidak. Tidak. Tidak … salah. “Kita menikah.” OH MY GOSH! Reality show kah ini?! Jangan-jangan program Jebakan Catwoman?  Hm, sekenarionya Dion melangsungkan perkawinan palsu, aku cemburu, kemudian dihampiri agen ganteng yang bertugas merayuku. Dan karena agen ini menang telak tampannya dari Dion, pacarku itu jadi takut bila aku malah menerimanya. Lantas dia tidak mau berakting lagi, menyeretku dari area syuting ini dan memilih untuk membayar denda akibat batal direkam. Hm. Benar. Aku sedang dikerjai. “Lamaran yang agak mengecewakan sebenarnya tapi tidak ada ruginya dicoba.” Pria––yang kukira agen program televisi—ini mendekat. Mengulas cengiran aneh yang rasanya cukup familier. “Kita menikah dengan ataupun tanpa cinta. Kau dan aku dengan caraku.” Caraku. Caraku. Caraku? “Ini bukanlah ciuman yang salah. Kau dan aku. Mari kita lakukan dengan caraku.” Terperanjat menyelami ingatan. Aku gagal untuk tak melongo. Pria ini … caraku? Meneliti detail muka campurannya, menyototi rambut cokelat biji kopinya, simpul dasi longgarnya ...? “Zander,” lirihnya tepat di hadapan mulutku. Aroma Polo Black? Dia— Otakku beku. Apa lagi yang mampu kujejalkan ke sana? Bibir keritingnya mengambil bibirku lihai. Mengecupku seolah kami adalah pasangan lama yang terhempas jarak. Sial! Aku sudah berupaya melupakan sensasi ini sepanjang dua puluh sembilan hari. Aku sadar dia pria gila. Tapi, aku pun tak mesti ikut-ikutan hilang akal kan? Dilihat oleh Dion di bar waktu itu sebagai bayarannya aku harus kehilangan kesempatan menyandang posisi istri di usia 28 tahun. Lantas sekarang, di tengah-tengah aula, meremas ujung jasnya erat. Lucas dan orang tuaku bisa saja tengah menonton di salah satu sudut ruangan kan? Nyawa ini pun belum tentu cukup guna membayar polah memalukan ini. Melepasku pelan, sumpah aku tak siap buka mata. Hingga kurasakan usapan ringan nan hangat merambat, menghapus basahan yang luruh di atas dua pipiku. Itu ... air mata? Yang kutahan sedari memasuki gedung ini kah? “Namaku malam ini, Zander. Gazander ...,” bisiknya di sisi telinga. Tampaknya ini benar-benar tidak ada sangkut-pautnya dengan Jebakan Catwoman atau reality show jamuran apa pun itu. Dia pria berbau Polo Black. “Alejandro Gama. 35 tahun. Seorang Hunter buruan MI 6. Aku sangat berbahaya.” Lucas membuktikan kebenarannya lagi. Menjadi anak tiri Red Wang sama artinya menerima bom di telapak tangan. Organisasi Ayahku mengincar banyak orang dan dia sendiri menjadi bahan pencarian orang banyak. Masuk ke genggaman tangan musuh, apa aku punya pilihan lain di luar mati? “Menikahiku mungkin kau bisa sekaligus membunuhku juga,” Zander atau Alejandro atau kudengar multi identitas adalah hal wajar bagi buronan. Dia menarik punggungku hingga d**a bidang itu menempel ketat padaku. “Atau menikahimu mungkin aku bisa membunuh Red Wang juga. Siapa lengah, dia kalah.” Dan hari itu kisahku bersama Alejandro Gama sang agen Hunter paling dicari resmi dimulai. Mati atau hidup, keduanya akan sama menyakitkan bagi kami. *** Ket: °MI 6: Memiliki tugas yang nyaris sama dengan CIA.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN