Nancy menatap gawainya tanpa henti. Semenjak Edward pergi dari rumahnya, Nancy tanpa sadar selalu menantikan Edward. Hampir tiap menit dia memeriksa gawainya. Menghidup matikan benda tersebut, memeriksa sinyal dan koneksi internetnya. Semua tak ada masalah, gawainya baik-baik saja, hanya saja Edward memang tidak menghubunginya. Tak ada telepon maupun pesan. Nancy melempar gawai tersebut dengan kesal. "Dia mengatakan, selama dia menyukaiku, dia tak kan pernah pergi. Tak pernah pergi apanya!" Nancy mengacak-acak rambutnya, "Tapi ... aku yang menyuruhnya pergi. Sial! kenapa aku lakulan itu? persetan dengan ancaman Ayahnya, harusnya aku mempertahankan dia hingga akhir!" Nancy menatap saputangan yang ditinggalkan Edward di atas meja saat dia pergi. Pikirannya melayang pada saat dimana dia dic

