Berharap Terjadi Sesuatu

662 Kata
Yura mengusap bulir bening di pipi lalu, tersenyum getir menatap Edo yang bergeming di hadapannya. Wanita itu enggan menunggu jawaban Edo, ia langsung melewati pria itu melangkah ke dalam. Edward bersembunyi di balik pintu saat Yura masuk agar tidak terlihat oleh istri keduanya. Pria itu menatap punggung sang istri yang menghilang di balik pintu kamarnya. Sedikit rasa iba, ia baru tahu jika Yura pun terpaksa untuk menikah dengannya. Ia bingung menghadapi semua masalah di hidupnya. Paksaan sang ibu, belum lagi dengan keinginan Amalia yang membuatnya tidak bisa mengikutinya. Ia hendak melangkah, tapi terhenti saat Edo memanggil. “Pasti bingung mau masuk ke kamar mana?” tanya Edo dengan sinis. “Bukan urusan kamu.” Edward merasa tidak senang dengan ejekan Edo. Sejak kecil mereka memang tak pernah aku karena Edo selalu membuatnya kesal. Apalagi saat ini pun, adiknya sangat membuat pusing keluarga dengan tingkah liarnya. Tak menggubrisnya, Edward memilih masuk ke kamar Yura. Edo tersenyum tipis melihat kakaknya yang masuk ke kamar Yura. Entah, pria itu sengaja atau tidak, tetapi untuk saat itu Edward tidak mau bersama Amalia yang masih emosi. Yura terkesiap dengan kedatangan Edward. Ia lupa mengunci pintu hingga sang suami bisa masuk leluasa. “Kalau aku tidak ada, jangan lupa mengunci pintu. Kalau aku yang masuk, kalau orang lain, bagaimana?” tanya Edward. Yura bergeming. Ia memang lupa mengunci pintu karena ia terlalu kesal dengan Edo. Dadanya berdegup kencang saat Edward mengunci pintu kamarnya. Ia bingung mengapa tiba-tiba sang suami datang ke kamarnya. Padahal, saat malam pengantin, Edward jelas-jelas pergi begitu saja. “Jangan ganggu aku, aku mau tidur.” “Di sini?” tanya Yura gugup. “Kamu pikir di toilet?” Merasa kesal, Edward pun langsung merebahkan tubuh di ranjang. Ia gegas memiringkan badan memunggungi Yura. Sementara, gadis dengan rambut pirang itu terus menatap punggung sang suami yang begitu kekar. Semuanya akan berakhir jika memang dia hamil. Namun, bagaimana bisa memaksa Edward untuk menyentuhnya? Sebuah pemikiran yang terus ia pikirkan. Yura pun ikut merebahkan tubuh di samping sang suami. Tak memedulikan jika Edward terbangun dan mengusirnya nanti. Sembari mencoba memejamkan mata, ia kembali teringat saat dirinya masih menjadi pelayan di kelab malam. “Loh, itu perempuannya kok pingsan?” tanya Yura pada temannya. “Tadi aku lihat si pria mencampurkan sesuatu, sudah tidak heran kalau di sini perempuan baik-baik jadi tidak baik. Lagi pula, masuk ke sini pun sudah jadi wanita tidak baik.” “Termaksud kita?” Yura kembali bertanya. “Nggak-lah. Kita, kan kerja di sini. Tapi, kita juga harus hati-hati, Yura. Dunia malam kejam. Lihat saja wanita itu, di bawa beberapa pria. Bisa kamu bayangkan, kan?” Yura bergiding ngeri mendengar cerita temannya itu. Lalu, ia kembali ingin tahu bubuk apa yang ditaburkan itu. “Bubuk apa itu?” “Nggak tahu juga, tapi sepertinya obat yang bikin mabuk atau obat perangsang.” “Memang ada?” tanya Yura lagi. “Kamu sercing saja deh.” Yura terbangun dari lamunan saat tak sengaja Edward berbalik badan dan netra keduanya saling bertemu. Edward melipat tangan di d**a sembari tertidur miring menatap Yura yang sudah mulai panas dingin. “Kenapa kamu diam? Bukannya kamu menginginkan ada sesuatu antara kita?” tanya Edward. Yura masih bergeming karena tak sanggup berkata-kata karena dadanya saja masih sesak. Ia membutuhkan pasokan oksigen saat Edward terus saja menatapnya lekat. Yura terus memutar otak, apa yang akan di lakukan sang suami? Apa dia akan melakukan apa yang diinginkan Madam Syin? Bukan hanya Yura yang merasakan hal aneh, Edward pun merasakan hawa semakin panas di sekujur tubuhnya. Ia mencoba membayangkan Amalia, tapi tetap saja Yura yang berkeliaran di pikirannya. Bibir tipis merona itu membuatnya semakin tak karuan. Menatapnya terus menerus membuat gelenyar aneh di jantung pria itu. Perlahan tangannya tanpa ia inginkan pun menyentuh pipi Yura. Namun, ia kembali mencoba berpikir tenang. Kembali, ia menetralkan degup jantungnya. Lagi-lagi ia harus setia, tapi bukankan di depannya istrinya juga? Edward pun mulai memikirkan, sentuh atau abaikan? Bahkan, ia berpikir untuk ke kamar Amalia lagi. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN