Chapter 2_Pertemuan Pertama dengan sang Protagonis Pria

1667 Kata
P.O.V <AUTHOR> Davia yang sekarang terjebak dalam tubuh Catrine masih tidak mempercayai kondisinya sekarang ini, Davia bergegas menuju dapur untuk mengorek lebih dalam apakah ia memang benar-benar dalam dunia novel yang ia baca atau jiwanya tertukar dan masih suatu kebetulan yang tak disengaja jika namanya sama, karna Davia tidak tau wajah asli Catrine dan tokoh-tokoh lainnya yang terdapat di novel karna novel hanya berisi kata yang di rangkai menjadi kalimat yang begitu banyak sehingga terbentuk suatu cerita yang membawa pikiran pembaca untuk bebas berimajinasi. "Bik Darsih..." panggil Davia "Eh, iya Non Catrine ada apa ??" Timpalnya. Davia yang masih belum terbiasa dengan panggilan terhadap lingkup lingkungan barunya pun membuatnya kikuk dan canggung. Sembari melempar senyum dan menggaruk tengkuk lehernya Davia meminta tolong "Bik, tolong buatkan saya air teh dingin ya, saya tunggu di kamar" lalu Davia bergegas pergi. "Baik non..." sahut Bik Darsih dengan kernyitan dahi nya pertanda heran dan bingung akan sikap majikannya sedari pagi tadi. Bagaimana tidak bingung, Bik Darsih pembantu satu-satunya yang tahan akan omelan, cacian bahkan hinaan Catrine setiap harinya mendadak mendapat perilaku yang begitu baik bahkan amat sopan kepadanya. Seolah-olah bukan Catrine yang ia kenal. P.O.V <DAVIA> Aku kembali ke kamar Catrine setelah meminta Bik Darsih membuatkan ku minuman dingin untuk menenangkan pikiranku. Aku masih bingung akan kondisi ini, ya ampun bagaimana bisa aku sampai masuk ketubuh orang ini. Memang Catrine ini kelihatannya kaya dan bisa membuatku tidak usah bersusah payah lagi untuk kerja part time demi kebutuhan hidup dan kuliah ku. Tapi akankah aku terjebak dalam tubuh ini terus sampai kapan ??? Hah, memikirkannya saja membuatku frustasi. Tok...tok..tok... "Non, ini minumannya" suara Bik Darsih dari balik pintu. "Masuk saja Bik" balas ku. "Silahkan diminum non mumpung masih dingin" pinta Bik Darsih, "Makasih Bik". "Ada yang perlu saya bantu lagi non ?" "Hmmm, Bik ini tanggal berapa ya ?" Tanyaku pada Bik Darsih, "tanggal 12 November non" jawabnya, "Tahun ?" Tanyaku sembari meminum minuman yang di antarnya "2021 non" timpalnya kembali sontak membuatku menyemburkan air yang sudah masuk ke tenggorokanku. "Apaaa 2021 ???" Tanyaku dengan reaksi kaget. Bagaimana tidak, seharusnya didunia Davia hari ini tanggal 31 Oktober 2023. Berarti Davia kembali hidup mundur ke 2 tahun sebelumnya, "ya ampun Non tidak apa-apa kan ?? Pelan-pelan saja minumnya non tidak udah terburu-buru" Bik Darsih menghampiriku dan membersihkan sisa muncratan air yang aku minum, "aduh tidak usah repot-repot Bik biar aku saja yang bersihkan" aku mengambil tissue dari tangannya dan segera ku bersihkan air muncratan itu. Jika di pikir-pikir tanggal 12 November 2021 itu hari dimana Catrine dan calon suaminya pergi fitting baju pernikahan mereka. Untuk memastikan apakah aku marasuki tubuh Catrine yang ada di novel yang aku baca atau bukan aku harus mengorek informasi lebih mendalam kepada Bik Darsih. "Hmmm, Bik Darsih..." Kring.kring...... kring.kring..... suara telfon rumah membuat Bik Darsih beranjak keluar kamarku, "Tunggu sebentar ya Non, saya angkat telfon dulu" pamitnya beranjak pergi. Huft, padahal aku masih penasaran dengan asal usul tubuh ini sebenarnya Catrine Oliver Jasmine pemeran antagonis dalam novel yang aku baca atau bukan sih "akhhh...." aku mengacak rambutku frustasi. Selang beberapa waktu pintu kamarku terbuka lagi, terlihat Bik Darsih ingin menyampaikan kalau telfon tersebut dari seseorang yang ingin berbicara kepada ku. "Non, ada telfon dari Den Argya". Jegerrrrrr..... tubuhku seperti tersambar petir kala mendengar nama itu, pikiranku yang tadinya bingung dan bertanya-tanya seolah-olah sudah mendapatkan jawaban yang tidak pernah aku inginkan sebelumnya, yap betul sekarang aku benar-benar yakin bahwa aku bereinkarnasi di tubuh Catrine sebagai calon istri CEO Gila yang tega membunuhnya. Ahhh, ini membuatku makin bertambah frustasi dan merinding huhuuuu. *** Aku beranjak dari tempat tidurku menuju telfon yang aktif dengan panggilan suara, "haloo..." ucapku kepada penelfon di sebrang sana, "Bersiaplah !! sebentar lagi aku akan menjemputmu" Tuttt.tuuttt..tutttt... Sambungan telfon itu langsung terputus. Hah, sudah ku duga akan seperti ini akhirnya. Bagaimana tidak, CEO gila itu kan sangat membenci sosok Catrine dengan kepribadian Catrine yang selalu memaksakan kehendaknya untuk menikah dengannya. Huhuuu aku jadi sangat takut bertemu dengannya. Aku harus memikirkan bagaimana caranya terbebas dari pernikahan ini, memang ini pernikahan yang di inginkan Catrine tapi aku ini Davia aku tidak menginginkan hidupku berakhir di tangan CEO gila itu. Sesuai dengan novel yang aku baca, alur ceritanya memang Catrine memaksa keluarganya menolong perusahaan keluarga Argya yang sedang mengalami saham yang anjlok, dengan memberikan dana besar sebagai investor keluarga Catrine juga mengajukan persyaratan untuk menikahkan Catrine dengan Argya, yah siapa lagi yang meminta hal bodoh itu jika bukan Catrine yang merengek kepada kedua orangtuanya untuk menjadi investor supaya keinginannya memiliki Argya tercapai. Sungguh gadis yang malang bukan ?! *** Aku harus bergegas cepat supaya tidak di umpat lelaki gila itu, pokoknya sekarang aku harus memikirkan cara supaya aku bisa membatalkan pernikahan ini tanpa menyinggung pihak manapun, tetapi bagaimana caranya ?!, ya ampun... aku di buat stres dengan alur novel yang aku sukai ini, kenapa aku bisa terjebak di kehidupan yang begitu mengerikan ini Tuhan huhuhu rasanya aku ingin menghilang saja dari sini. *** P.O.V <AUTHOR> Citttt.... suara decitan ban mobil yang berhenti di area parkiran keluarga oliver. Seorang lelaki bertubuh tinggi dan gagah keluar dari mobil lamborghini silver itu dan melangkahkan kakinya memasuki rumah megah kediaman keluarga Catrine yang di sambut oleh Bik Darsih "silahkan masuk Den, Non Catrine masih di kamarnya mungkin sebentar lagi keluar, saya panggilkan dulu ya Den..." pamit Bik Darsih yang di balas anggukan di sertai senyuman sopan ke Bik Darsih. Beberapa menit kemudian Bik Darsih kembali ke ruang tamu bersama dengan Catrine. "Eummm, haa..lloo Arrrggyaaa.." Davia memberikan salam kepada Argya yang amat begitu terdengar aneh di telinga Bik Darsih dan Argya, karena gugup dan kecemasan yang meluap membuat Davia berbicara terbata-bata. "Sudah tidak perlu basa-basi, mari kita pergi tidak usah membuang waktuku" ucap Argya amat begitu sarkas kepada Catrine. Catrine lalu beranjak pergi mengikuti langkah Argya dan berpamitan di depan pintu rumahnya "Bibik aku pergi ya...", "eh, iya non Catrine hati-hati" ucap Bik Darsih. *** P.O.V <DAVIA> Aku terus mengikuti langkah kaki lelaki gila ini menuju mobilnya yang terparkir jauh di area parkiran mobil dimana tempat mobil-mobil keluarga Catrine terparkir, di cerita aslinya biasanya Catrine tidak suka jalan kaki terlalu jauh karna itu menurutnya merepotkan dan membuat kakinya lecet karna ia sering menggunakan high heel. Hmmm, aku tau maksud lelaki gila ini memarkirkan mobil di parkiran yang jauh dari rumah untuk memancing amarah Catrine supaya mood nya tidak bagus dan membatalkan fitting baju pengantin. Aku baru ingat alur cerita asli novel ini, tetapi karna Catrine sangat amat mencintai lelaki gila ini bahkan dia rela jalan kaki sampai kakinya lecet dan luka. Yah itu sih masa bodo buatku, aku sudah antisipasi memakai high heel yang ringan dan tidak begitu tinggi. "Masuklah..." lelaki gila menyuruhku masuk dalam mobilnya tanpa membukakan pintu mobilnya untuk ku, ya ampun sulit untuk ku bayangkan bagaimana kalau pernikahan ini terjadi dan hidup dengan lelaki macam dia, Ini membuatku sakit kepala. Tapi eitss tunggu dulu, aku mau masuk bagaimana caranya, aku belum pernah naik mobil mewah sekelas lamborghini di kehidupanku sebelumnya, jadi bagaimana cara aku membuka pintu mobil ini, sial sial aku sungguh sial hari ini harus memohon kepadanya untuk membuka pintu mobilnya untuk ku, pasti dia berfikir aku adalah wanita tak tahu malu. Baiklah ikuti saja alurnya dulu untuk saat ini. "Emmm... anu Argya bisakah kau membukakan pintunya untuk ku ?" Aku melihat ekspresi di wajahnya yang kesal saat keluar kembali dari mobilnya dan menghampiri ke arahku "Minggir" dia menyuruhku ketepi agar ia bisa membukanya. Ya ampun lagi-lagi aku di buatnya jengkel akan sikap dingin dan gilanya itu. Akhirnya pintu mobil terbuka dan aku sudah tau cara menutup dan membukanya setelah memperhatikannya membuka pintu mobil untuk ku. Baiklah aku tidak akan lagi meminta tolong kepadamu lelaki gila. Aku menaiki mobil dan Argya pun langsung menancapkan gas mobilnya meninggalkan kediaman Catrine. P.O.V <ARGYA> Apa-apaan perempuan licik ini sudah bertingkah untuk memintaku membukakan pintu mobil untuknya, akhh jika bukan karna aku terdesak aku tidak akan mau bersanding dengannya, membayangkannya saja aku mual. Bisa-bisanya nasib buruk ini menimpaku, sial. "Kau saja nanti yang fitting aku tidak usah" aku memecahkan keheningan dalam perjalanan untuk menuju tempat fitting baju pengantin kami. "Kenapa ?" Tanya gadis bodoh ini kepadaku, masih berani dia tanya kenapa kepada ku apa ekspresiku masih kurang untuk meyakinkan bahwa aku tidak menyukainya melainkan sangat amat membencinya. Tetapi aku tidak bisa menghindari pernikahan ini, jika tidak aku harus kehilangan perusahaan keluargaku karna saham milik keluarga Catrine dalam perusahaan kami yang menyelamatkan nya. "Argya..." dia kembali meminta kepastian akan pertanyaannya yang tadi. "Karna aku sibuk" jawabku singkat. "Oh, baiklah..." sahutnya lagi, "eumm, Argya boleh aku meminta kita mampir sebentar di cafe dekat sini, aku lapar belum sempat makan dari tadi pagi" ucapnya menatapku penuh harapan aku mengiyakannya. Kelihatannya memang ia belum makan karna tenaganya yang membara yang biasa menempel penuh energi disisiku kini tidak ia tunjukan sekalipun. "Baiklah" aku memelankan laju mobilku dan berbelok memarkirkan mobilku di cafe yang kami temui. Kami berjalan memasuki area cafe dan memesan beberapa makanan. Keheningan diantara kami terpecah ketika gadis bodoh ini memanggilku "Argya... aku ingin bicara serius denganmu, ini masalah pernikahan kita" aku mengernyitkan dahi ku, kenapa lagi dengan pernikahan ini membuatku muak saja gadis bodoh ini selalu membahas tentang pernikahan, jujur aku muak. Aku hanya menatapnya tanpa ada satu katapun yang keluar dari mulutku. Ia langsung memberi aba-aba melanjutkan ucapannya. "Aku tahu kamu pasti berat untuk menikah denganku apalagi harus melihat pacarmu terluka" kata-kata gadis bodoh ini membuatku ingin marah karna telah menyinggung pacarku. Apalagi yang dia mau, aku sudah akan menikah dengannya apa dia ingin mengusik pacarku juga, belum puaskah gadis bodoh ini dengan semua yang ia dapat. Gadis yang merepotkan. "Aku ingin menawarkan pembatalan pernikahan kita kepadamu" ucapannya kali ini membuatku sontak begitu terkejut, kenapa gadis bodoh ini menawarkan pembatalan pernikahan, bukankah dia yang meminta ini semua sebagai imbalannya karna keluarganya menjadi investor besar di perusahaan keluargaku, apa dia ingin mencabut kembali investasinya karna sikapku yang keterlaluan kepadanya, akhh bagaimana ini bagaimana masa depan perusahaan keluarga ku. Banyak yang ingin aku tanyakan kepadanya tapi bibir ini enggan membuka suara untuk bertanya, mungkinkah aku sebegitu bencinya kepadanya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN