Jam sudah menunjukkan pukul 06.00 pagi tapi gadis yang tidur tengkurap itu tidak berniat sekalipun untuk bangun dari tidur cantiknya. Tak lama datanglah wanita paruh baya dan berdiri tepat di samping tempat tidur gadis itu.
“Nona, ini sudah pagi, apakah Nona tidak ingin bangun?” gadis itu tidak menyahut, hanya menggeliat sebentar tanpa membuka matanya.
Dengan tangan sedikit gemetar, wanita paruh baya itu sedikit mengguncang bahu gadis yang tertidur pulas dengan keadaan tengkurap itu.
“Nona, ini sudah pagi Nona. Nona harus bangun. Kata tuan, hari ini Nona harus masuk sekolah.” Ucap wanita paruh baya itu sedikit keras.
Namun, masih sama, tidak ada pergerakan.
Wanita paruh baya itu mengambil napas dalam-dalam dan mulai mempersiapkan diri jika Nona-nya itu akan marah setelah dia melakukan hal yang agak kurang sopan.
“NONAAAAA! BANGUUN! INI SUDAH PAGIII! NONA HARUS SEKOLAAHHH!!”
Gadis yang tengah tertidur pulas itu terperanjat kaget mendengar teriakkan yang sangat menggelegar iti. Dia duduk tegak di kasur seraya mengucek matanya yang terasa buram.
“Nona, maafkan saya karena telah lancang teriak di hadapan Nona. Tolong maafkan Saya, Nona.”
Gadis itu mengalihkan pandangannya pada wanita paruh baya yang sudah terduduk bersimpuh di lantai dengan bahu yang bergetar.
“Maaf?” beonya kecil.
Ia menggaruk pipinya. “Anda siapa ya? Terus ini kamar siapa? Kok mendadak gue ada di sini sih?” Wanita paruh baya itu dengan perlahan mendongak menatap dirinya yang sedang kebingungan.
“No-nona tidak usah bercanda, ini saya Bi Yuni pengasuh Nona dari kecil, dan ini adalah kamar nona. Kamar Nona Elisa.” Jelas wanita paruh baya itu yang menyebut dirinya sendiri Bi Yuni.
Ia semakin bingung. “Lha, sejak kapan gue ganti nama? Gue punya pengasuh? Terus sejak kapan kamar gue ganti cat? Kok mendadak banget sih?” gumamnya kecil.
“Bentar-bentar, gue inget-inget dulu.” Ia berpikir keras. Menatap Bi Yuni di hadapannya yang asing, lalu mengedarkan pandangannya melihat seisi ruangan.
Cat warna pink dan biru muda motif kelinci-kelinci?
Bibi namanya Yuni?
Lalu...
“Lha? Warna rambut gue kok beda?”
Jantung nya berdegup kencang. Debarannya benar-benar menggila sampai membuat dirinya takut, takut dengan apa yang telah terjadi padanya.
“Bibi, tolong ambilin kaca, cepet!” Bi Yuni segera bangkit dan mengambil Kaca kecil yang ada di atas nakas. Sedangkan dirinya semakin dilanda kecemasan.
“Ini nona.” Bi Yuni menyerahkan dan ia langsung merebutnya.
Dirinya langsung berkaca.
“AAAAAA! INI MUKA SIAPA? INI BUKAN MUKA GUE! PERASAAN GUE KAGAK PERNAH OPLAS, INI MUKA SIAPA?” Pekiknya histeris. Bahkan ia sudah melempar kaca itu ke sembarang arah membuat Bi Yuni khawatir.
“N-nona b-ba-baik—”
“—Siapa nama gue?”
Bi Yuni terserang gugup. “Nona lu-lupa n-nama Nona s-sendiri?”
“Udah cepet bilang. Nama gue siapa?” Ia membentak dengan wajah memerah menahan kesal membuat Bi Yuni takut.
“Na-nama Nona Elisa Galleria Harrison.”
“Hah?” mulutnya terbuka kecil. Telinganya terus terngiang-ngiang perkataan Bi Yuni.
Elisa Galleria Harrison.
Bukan Elvira tapi Elisa.
Dirinya adalah Elisa?
Gue jadi Elisa?
“Nona kenapa?” Lamunan nya buyar karena pertanyaan Bi Yuni. Dalam kebingungan, ia kembali bertanya untuk memastikan.
“Jadi nama gue Elisa Galleria Harrison? Anaknya Mr. Dave Mills Harrison dan Mrs. Sonia Galleria Menzies?” Ketika Bi Yuni mengangguk jantung nya terasa berhenti berdetak beberapa detik.
GAK MUNGKIN!! KENAPA GUE BISA MASUK KE DUNIA NOVEL ITU SIH? INI BENERAN ENGGAK MUNGKIN! GUE NGGAK MAU HUAAAAAA!!!
Bagaimana mungkin dirinya yang seorang Elvira tiba-tiba bertukar menjadi Elisa? Sangat tidak masuk akal. Terlebih lagi, sosok Elisa Galleria Harrison adalah salah satu karakter tokoh dalam sebuah novel yang hasil karangan seorang author, yang artinya adalah fiksi.
Tunggu..
Matanya membulat.
Wajahnya memucat.
Seakan baru teringat hal sangat penting, ia bertanya dengan nada sedikit panik.
“Sekarang tanggal berapa Bi?” Bi Yuni kebingungan tapi tanpa bertanya lagi ia segera melihat kalender yang berada di atas nakas di sebelahnya.
“15 Januari 20xx.” Wajahnya semakin bertambah pucat mendengar itu.
Ia membuka kecil bibirnya. Itu artinya, cerita novel itu sudah berjalan cukup lama dan Elisa sudah menjalankan perannya sebagai antagonis.
Antagonis dengan citra yang buruk.
Sial, berarti Elisa udah ngebully si tokoh utama juga dong. Itu artinya, dia udah jatuh cinta sama Morgan dan hubungan dia sama Garvin udah bener-bener buruk.
Sia, s**l, s**l.
“Nona,” Suara Bi Yuni kembali menyadarkan dirinya dari lamunan.
“Tuan Dave bilang Nona harus sekolah hari ini. Katanya, tidak ada izin lagi!” tegas Bi Yuni pada kata-katanya.
“Emang kemaren gue nggak sekolah?” Bi Yuni mengerjap, menatap Nonanya dengan sangat lekat, kepalanya mengangguk sebagai jawaban.
“Kenapa kemarin?”
Bi Yuni mengerjap sebentar, dia menatap Nonanya dengan sangat lekat. “Kan kemarin Nona baru saja sembuh.” Ujarnya pelan.
Hah?
“Sembuh? Emang gue sakit apa?”
Bi Yuni semakin bingung. Tapi kebingungan nya berubah menjadi kekhawatiran yang besar. “Nona ap-apa sebaiknya kita periksa ke dokter? Sepertinya Nona tidak baik-baik saja.”
Apa? Dokter?
Ia segera menggeleng, menolak.
“Nggak perlu Bi. El—maksudnya Lisa baik-baik aja kok. Tapi, ada sedikit yang Li-sa lupain kayak kejadian kemarin. Jadi Bibi jelasin ke Li-lisa ya,” Alibinya sedikit terbata karena belum terbiasa memanggil dirinya dengan panggilan baru, Lisa.
Bi Yuni tersenyum, sedikit lega. Lalu Pelayan wanita paruh baya itu menjelaskan dengan sejelas-jelasnya.
“Kemarin lusa kan Nona kecelakaan, Dokter menyuruh Nona agar tidak terlalu banyak beraktivitas. Tapi karena sekarang Nona sudah sembuh, makanya Tuan Dave ingin Nona kembali sekolah.”
Setelah menganggukkan kepalanya pertanda paham, ia menghela napas panjang.
Ia ingat. Orang tua Elisa itu tipikal orang yang tidak mau anaknya bermalas-malasan dan mereka juga sangat gila nilai. Itu menurut dirinya.
Begonya, hal itu malah di manfaatkan oleh Elisa untuk membuat Garvin sang kakak tertekan karena kekangan dan tuntutan dari orang tua mereka.
Simpel saja, Elisa melakukan itu agar dirinya bisa bebas melakukan apapun tapi yang mendapatkan hukuman karena melanggar peraturan dari orang tuanya adalah Kakak nya. Elisa memanipulasi.
Sekarang gue harus gimana? Si Elisa udah buat Garvin jadi benci, terus nanti yang bisa jadi pelindung gue dari kejahatan si makhluk macem Morgan itu siapa?
SIAPA HEY?
Ia mengacak-acak rambutnya kelewat frustrasi.
Lagi-lagi membuat Bi Yuni menatapnya aneh. Biasanya Nonanya itu sangat menjaga penampilan, walaupun itu bangun tidur. Tapi ini? Kenapa malah membuat rambutnya sendiri menjadi berantakan?
Aneh sekali.
Lain dengan Bi Yuni, dirinya masih tidak percaya. Sungguh ia sangat berharap ini mimpi bukan nyata.
Karena masih belum percaya, ia harus memastikan, barang kali ini hanya ilusi kan? Siapa yang tau?
“Oke, Kalo mimpi, gue tinggal tutup mata terus buka lagi pasti udah berubah. Iyah bener tapi kalo bukan, gue bakal tetep ada disini.” Ia mengepalkan tangannya kuat.
“Semoga mimpi!” Gumamnya. Merebahkan tubuhnya ke kasur seraya memejamkan matanya perlahan dan mulai berhitung.
“Satu......”
“Dua......”
“Ti.........”
“GA!” Ia membuka matanya kembali dengan binar. Namun sayangnya, tidak ada yang berubah.
Sama sekali tidak ada!
Ini nyata?
Seriously?
Gue nggak balik lagi ke kamar gue?
Gue tetep di tubuh Elisa?
Gue jadi antagonis?
HUAAAA!! GUE PENGEN MENGHILANG SEKARANG JUGA!!
***
Pagi yang penuh kejutan.
Setelah fakta yang menamparnya kini ketampanan cowok di hadapannya yang memakai seragam sekolah SMA elit itu yang juga memukul kesadarannya.
Jadi... Gue beneran masuk novel dan jadi Elisa?
Ia menatap cowok itu, sulit. Sedangkan, cowok itu menatapnya datar dan melenggang pergi begitu saja dengan aura dinginnya. Jelas, hubungan keduanya kan tidak akur.
Ngomong-ngomong, Cowok itu adalah Garvin Menzies Harrison kakak kandungnya Elisa. Orang yang membenci Elisa karena ulah Elisa sendiri, dan lagi, kebencian Garvin semakin membara karena Elisa mencintai Rivalnya, musuh bebuyutan geng nya, Morgan.
Garvin memiliki perawakan yang tinggi, kulitnya putih, punggung yang lebar dan tegap terlihat sangat kokoh dan gagah dan jika menurut deskripsi dari novel wajahnya sebelas dua belas tampannya dengan Morgan sang tokoh utama. Ya, Garvin memang tampan sih, tapi untuk Morgan dirinya kan belum melihat bagaimana rupa sang tokoh utama itu.
“Yaampun emang bener ya, tokoh di novel itu gak kaleng-kaleng gantengnya. Gue aja sampai tersepona eh terpesona maksudnya. Coba lo bukan kakak gue dah gue jadiin pacar lo!” Monolognya, Dia menatap nanar Garvin yang sudah hilang bersama motor sport nya.
“Garvin aja gantengnya omaygat banget, gimana sama si Morgan? Tapi ya, tenang aja sekalipun si Morgan ganteng nya pake buanget buanget buanget, gue bakal teguhin hati dan pikiran, kalo gue nggak bakal naksir sama si Morgan, TITIK!” tegasnya pada diri sendiri.
“Dan untuk Garvin, tunggu aja gue bakal luluhin hati lo yang keras kek tembok itu dengan cinta dan kasih sayang seorang adik pada kakaknya.”
“Huh, liat aja nanti.”
***
Berpenampilan khas dirinya, urakan. Ia berdiri menatap lurus ke depan tepat pada tulisan yang terpampang jelas di depan sebelum memasuki lorong sekolah.
SMA GARUDA.
Cewek itu adalah Elisa Galleria Harrison yang tanpa adegan darah berdarah atau dengan merenggut nyawa dengan ajaibnya, raganya kini di isi oleh jiwa asing, si cewek biang onar yang menghuni raga itu, Elvira Meldivan.
Decakan kagum lolos dari bibirnya. Matanya berbinar indah menatap bangunan yang berdiri kokoh dengan mewah itu.
“Gila-gilaaaa! Gue pikir dunia novel bakal kek apa? Tapi ternyata.... Ck, Ck, semuanya sama!” Ia bergumam tak percaya.
Menatap sekeliling, mengagumi keindahan sekolah yang mulai hari ini dan seterusnya akan ia tempati sebagai tempat menuntut ilmu dan sarana dirinya akan menjalani kehidupan penuh ujian dan tantangan.
Mengingat ke beberapa menit yang lalu, ketika Bi Yuni selesai menjelaskan semuanya ia langsung bangkit dan bersiap menuju sekolah.
Untuk apa?
Jelas, untuk belajar tapi lebih tepatnya untuk mengetahui seperti apa dunia novel itu dan juga.... Untuk melanjutkan peran antagonis novel yang kini diembannya.
Ya jangan lupakan pertemuan tak sengaja antar dirinya dengan salah satu tokoh novel, Garvin si cowok ganteng dan keren kakak kandung Elisa.
Kini, matanya hanya menatap lurus lorong sekolah di hadapannya. Ia sedikit mengerutkan kening mempertajam penglihatannya.
Mendadak dirinya gugup.
“Tarik napas, buang. Tarik napas, buang!” Ia mensugesti dirinya sendiri agar tenang dan tidak melakukan hal sembrono nantinya.
“Oke El, sekarang lo bukan lagi Elvira Meldivan tapi Lisa, Elisa Galleria Harrison.”
“Ini adalah hidup baru gue, gue nggak akan biarin si author nyiksa hidup gue. Gue bakal hidup seperti apa yang gue inginkan bukan seperti apa yang Author tuliskan.”
“Gue akan merubah segalanya.” Ucap Elvira—ralat Elisa. Dengan penuh tekadnya, Dia mulai melangkah melewati lorong sekolah SMA Garuda menuju kelas tercinta, di mana lagi kalau bukan di....
XI IPA 2.
***