8. Elisa dengan targetnya

2762 Kata
Hari-hari terus berlalu. Tanpa terasa sudah dua bulan Elvira berada di tubuh Elisa. Elvira juga sudah mulai terbiasa menjalani hidup sebagai seorang antagonis. Tapi Elvira saat ini benar-benar pusing. Misi yang sudah ia rencanakan belum ada yang berhasil sama sekali membuatnya lelah hati dan body. Garvin, Belum ada perubahan. Kayla, Shami juga belum. Kenapa? Karena target pertamanya Lily, dan misi untuk Lily saja belum bagaimana bisa lanjut ke misi kedua. Tapi tenang saja, ia akan segera menjalankan misinya. Sudah cukup dirinya leha-leha di Dunia novel Anjim yang mungkin nanti akan memberikan sesuatu yang tak terduga. Pada pagi ini, Elisa bangun lebih awal. Dia berniat ingin membuat sarapan tapi pada saat sudah berada di ruang makan, meja makan sudah terisi sarapan Segera ia menarik satu kursi dan mendudukinya. “Eh, Non Lisa udah bangun?” Bi Yuni muncul dari arah dapur dengan membawa dua gelas s**u putih. “Eh, iya. Selamat pagi Bi Yuni!” Ucap Elisa riang di temani senyum manisnya menyapa pelayan wanita paruh baya itu. “Pagi juga Nona. Ini susunya,” Elisa menerima segelas s**u yang di berikan Bi Yuni dan meminumnya hingga setengah “Makasih, Bi.” “Sama-sama. Non mau sarapan apa? Biar Bibi ambilin.” Elisa menolak dengan cepat. “E-eh nggak usah, Lisa bisa sendiri.” Dirinya dulu sebagai Elvira, tentu menyiapkan makanannya sendiri. Tak enak jika sekarang ia melakukan hal itu dengan bantuan orang lain. Apalagi Bi Yuni lebih tua darinya, ya walaupun Bi Yuni adalah pelayan sih. Bi Yuni mengangguk mengiyakan ucapan nona-nya yang terbilang cukup aneh sih tapi ia tak mau ambil pusing dan pamit kembali ke dapur. Setelah kepergian Bi Yuni, Elisa mengoleskan selai coklat kacang, strawberry, nanas dan blueberry pada roti tawar nya hingga ada empat tumpuk dengan berbeda rasa dia melahapnya dengan tenang. DRRK Kursi di depan nya berderit dan diduduki seseorang membuat Elisa mendongak dan menyapa si empu. “Sewlawmat pawgwi kwak!” Elisa menyapa dengan mulut penuh makanan. Dan tentu saja, sapaan dengan usahanya itu sia-sia karena Garvin melengos dan tak meliriknya sama sekali. “Ehhe,” Cewek itu bersendawa dengan tidak tau malu di hadapan Garvin. Cepat-cepat ia mengelap bibirnya dengan tisu.  “Akhirnya, kenyang juga.” Dia melihat Garvin yang masih melahap sarapannya tanpa menoleh membuat dirinya cemberut dengan mata menyipit, berpikir. kayaknya gue harus cari cara lain buat si Garvin cepet luluh, tapi apa ya? atau .. gue pelet aja dia? “Hm .. rayuan tak di tanggapi, pelet pun beraksi.” Gumamnya kecil tak lupa seringainya tapi itu tak lama, karena cewek itu segera menggelengkan kepalanya ribut mengenyah pemikiran konyolnya Berdehem dan terbatuk kecil, matanya menatap sang kakak dari pemilik tubuh dengan senyum “karena Lisa udah sarapannya, Lisa duluan ya kak.” Cowok itu masih tak mengalihkan pandangannya “Bye!” Elisa menyambar tas nya, dia berlari kecil ke garasi tanpa menyadari ada sepasang mata yang menatapnya tajam. *** Cewek brandal yang tersasar di tubuh antagonis itu kini tengah berjalan santai di koridor, sesekali dia tersenyum kepada murid-murid yang berlalu lalang. Ingat pada misi No 04 agar merubah image buruknya menjadi baik. Di temani senandung kecil dia terus berjalan menuju kelas tapi dari arah samping tiba-tiba ada yang menyenggolnya keras hingga membuatnya terjerembat di lantai. BRUK “ANJIR! s****n! KAMVREEEET!!” Umpatnya ketika p****t semok indahnya mendarat mulus di lantai.  Tak lama uluran tangan muncul di hadapannya. Segera Elisa menyambut uluran tangan itu dan berdiri. “Anjim ya lo! Bisa nggak sih kalo jalan itu hati-hati, kaki melangkah mata melihat, gunain itu kalo lagi jalan. Bukan malah kaki melangkah mata seliweran kemana-mana, jadi p****t tercinta gue kan yang jadi korbannya. Sakit nih, sakit!” Cerocos Elisa mengomel kesal sembari membersihkan roknya yang agak kotor. “Bacot.”  Elisa melotot melihat pelaku yang menabraknya. ANJ! INI MASIH PAGI TAPI KENAPA GUE UDAH KENA s**l AJA SIH?  Tau, orang yang menabrak Elisa adalah Nicho. Ya, benar. Justin Nicholas si tokoh dingin yang berada satu kubu dengan Morgan. Suka membalas di balik layar, bermainnya licik. Si tukang kamuflase. Pagi-pagi sudah berhadapan dengan dia. s**l sekali kan Elisa? “Ck,” Decakan dari cowok di depannya membuat Elisa mengedipkan matanya tersadar dari lamunan. Tanpa sadar cewek itu mengerutkan keningnya. Tunggu, adegan ini keknya nggak ada deh. Tapi, kenapa sekarang malah... Apa ini karena plot cerita melenceng itu?  “Minggir.” Elisa mendelik suara yang memerintah itu. “Noh jalan masih luas, nggak usah nyuruh minggir juga.” Ia melipat tangan di depan d**a seakan menantang seorang Justin Nicholas. Sedikit kerutan samar di dahi Nicho terlihat. Segera cowok itu menatap Elisa dingin. “Minggir.” Kali ini nada suara nya rendah, menekan satu kata itu agar Elisa segera melakukannya. Namun, Elisa malah bebal. Berkacak pinggang seraya memasang wajah garang. “Mata lo buta? Telinga lo tuli? Udah gue bilang, jalan masih luas. Noh, minggir dikit lo jalan ke sana. Nggak usah nyuruh gue minggir!” DUGH  “A—JEGE!” pekik Elisa kaget. Cewek itu menatap Nicho yang sudah berjalan melewatinya setelah lebih dulu mendorongnya hingga punggung menabrak dinding. Dasar author biadab. Kenapa bisa-bisanya dia bikin tokoh yang karakter nya kayak si makhluk itu? s****n banget.  “Awas aja lo ketawa, gue sumpahin lo bakal—” “Bakal apa?”  DEG  Bohong jika Elisa tidak terkejut. Ketika menoleh ke samping dia langsung di hadapkan wajah seseorang yang juga seharusnya tidak berurusan dengan dirinya. “Nggak usah kepo dan Sokab. Bagi gue, lo sama dia sama aja. Sama-sama cowok k*****t!” Elisa membalikkan badannya. Melanjutkan langkahnya dengan tergesa-gesa tanpa menoleh ke belakang lagi. Bara menyentuh pelan alisnya. Kok di balas ngegas sih. Dia salah apa? “Cih, gue kan nanya baik-baik.” Cowok itu mengedikkan bahu lalu melanjutkan langkahnya mengejar Nicho. “Nicho sayang! Tungguin Bara dong!” teriak Bara yang tentunya membuat Nicho yang belum jauh mendengar nya dan langsung bergidik. Stres. Umpatnya merujuk pada tingkah bunglon Bara yang akhir-akhir ini sering muncul. Kadang cuek, dingin, judes, dan konyol seperti pada hari ini. Dan tentu saja, yang sering menjadi korban dari kekonyolan seorang Xavier Albara adalah dirinya.  Padahal Nicho kan hanya suka bermain dengan wanita, bukan bermain dengan pria. Sungguh, s**l. *** TET..TET.. Setelah bel berbunyi, Bu Sopi membereskan buku-bukunya, dia menatap wajah para anak didiknya dengan tegas. “Anak-anak, jangan terlalu banyak bermain dan berpacaran. PR yang ibu kasih kerjakan sepulang sekolah. Jangan bermain dan pacaran sebelum mengerjakan tugas dari Ibu, paham?” “Paham Bu!” “Baiklah, kalau begitu, Ibu pamit. Semoga hari kalian menyenangkan, sampai jumpa minggu depan. Selamat siang!” “Siang!” Murid-murid berhamburan keluar begitupun dengan Elisa yang sudah semangat 45 untuk pergi ke surganya anak sekolah yang tidak lain dan tidak bukan adalah, Kantin. “Hoi! Kalian mau ikut ngantin kagak?” tanya Elisa menatap mereka seraya menanti jawaban dari ketiga cecunguknya itu. “Ayok lah!” Sahut Shami. “Kuy!” Seru Kayla. Elisa melirik cewek di sebelahnya. “Ly, lo ngikut kagak?” Lily terlihat berpikir sebentar dan pada akhirnya cewek itu mengangguk. “Gaskeennn!” Ke-empatnya berjalan beriringan menuju kantin sesekali tertawa karena candaan garing dari Elisa. Bukan tak sadar kalau sedari mereka keluar dari kelas, mereka sudah menjadi pusat perhatian. Tapi berkat kata-kata yang di lontarkan mulut manis Elisa mereka memilih acuh. “Gue yang cari tempat duduk, kalian yang pesen. Pesenan gue bakso jumbo mercon kuah sama sayuran nya banyakin dan nggak pake mie kuning. Air minumnya, air mineral botol.” ucapnya diangguki yang lain. “Okurr!” Mereka pun berpisah. Sekarang tinggallah Elisa yang hanya berdiri diam, tapi matanya berkeliling mencari tempat kosong  “Eng .. kesana aja.” Ujarnya setelah lama berpikir. Ia berlari kecil menuju ke arah meja yang berada di tengah-tengah dan segera menduduki kursi yang ada. Beberapa menit menunggu, Tak lama dia melihat ketiga temannya yang berdiri celingak-celinguk dia pun dengan segera melambai-lambaikan tangannya . “Woi, sini!” mereka bertiga menghampiri Elisa dengan membawa nampan.  “Nih.” Elisa mengambil bakso persenan nya, wajahnya terlihat sangat bersemangat. “Ouwaaah! Enak banget nih pasti!” Dia memakannya dengan sangat lahap seakan tidak mau membiarkan ada orang lain yang melihat bakso dirinya dan meminta. “Yelah biasa aja dong Lis. Kita juga nggak bakal minta.” Sindir Shami. Matanya mendelik geli pada Elisa. “Ndwak biwca nancwi kewbuwu dwingin.” ucap Elisa dengan mulut penuh bakso yang dia tiup-tiup di mulutnya. “Telen dulu baru ngomong!” tegur Lily tertawa kecil melihat tingkah Elisa yang sangat bocah tapi lucu. Kadang ia merasa heran, di hadapannya ini Elisa kah atau bukan? Karena Elisa yang asli tidak pernah bertingkah seperti itu. Tapi kemudian ia segera menepis pemikiran aneh nya. Drett .. Drett Lily melihat nama si pemanggil. Tiba-tiba tubuhnya menegang dan dengan sedikit bergetar dia bangkit.  “Gu-gue k-ke toilet du-dulu.” Pamitnya agak gagap. Dia segera menuju ke arah toilet dengan sedikit berlari. Elisa merajut kedua alisnya menyelidik. hm, ada yang nggak beres. Dia melirik kedua temannya.  Damm! Benar saja ternyata mereka juga tengah memperhatikan Lily yang sudah menjauh. Sedikit berpikir, lalu ia memantapkan idenya.  “A-awww perut gue .. S-sh..” ia memegang perutnya, merintih sakit. Bahkan keringat pun sudah membasahi pelipisnya. Jangan salah paham, itu terjadi karena dia kepedasan. “Lis, lo kenapa?” tanya Shami agak panik.  “Pe-perut gue sakit, sssh.. Gue mau ke toilet s-shh..” Ia bangkit dengan memegang perut untuk meyakinkan akting nya. Dan itu, berhasil. “Apa kita perlu beliin dia obat sakit perut? Tadi kan dia makan pedes, mana sambelnya banyak banget lagi.” Kata Shami memberi saran.  Kayla mengangguk mengiyakan. Lalu, cewek itu menatap Shami agak lama. “Kesambet apa lo?” “Maksudnya?” “Tumben perhatian ke Elisa, gue pikir lo kesambet.”  Shami menatap Kayla cengo. Lalu cewek itu mencubit lengan Kayla. “Ngaco lo nyet. Gue kagak kesambet ya!” sangkalnya kesal. Kayla membulatkan mulutnya. “Ouh, gue kira lo kesambet. Aneh aja, tiba-tiba lo peduli sama cewek b**o itu. Gue pikir lo udah terpengaruh ‘akting’ pura-pura baiknya.” “Nggak lah. Ya kali. Lagian, gue cuma mau berterima kasih aja.” sanggah Shami cepat. Kayla mengernyit dahi. “Berterima kasih?” Shami mengangguk tegas. “Yup, gue mau berterima kasih sama dia karena udah mau jadi alat kemakmuran hidup gue di sekolah.” “Pft.. sorry, alat kemakmuran hidup di sekolah?” agak lucu mendengar itu, jadi Kayla menahan tawa. “Iya. Karena Elisa, gue bisa mengakses apapun tanpa hambatan di sekolah ini. Dan julukan Kaisar maha tau pun udah pindah ke gue. Mantap kan?” Shami mengedipkan sebelah matanya pada Kayla. Hal itu membuat Kayla menggelengkan kepalanya dengan senyum tipis. “Gue pikir lo udah berubah.” “Lo pikir gue power rangers, pakek berubah segala?” Keduanya tertawa sebelum kembali melanjutkan makan yang tertunda. Di sisi lain, Elisa sudah sampai di toilet, dia berdiri diam di depan pintu toilet paling akhir dan pojok seraya memasang telinga tajam-tajam agar bisa mendengar jelas apa yang Lily ucapkan di telepon. “Ada apa?” itu suara Lily. Agak samar tapi Elisa mampu mendengar nya.  Lalu, ada jeda. Mungkin itu lawan bicara yang bicara di telpon. “Jinja. Kenapa harus aku? Kan masih banyak gadis club yang lain.” “Anjir, club.” Elisa menutup mulut rapat-rapat setelah keceplosan karena kaget. Ternyata kisah Lily di Novel tidak berubah. Sungguh luar biasa.  Ia kembali mendekatkan telinga pada pintu. Agar suara Lily lebih jelas. Kepo, apa respon yang akan Lily berikan. Menerima atau menolak?  Dan ternyata... “Iya Madam, ntar aku kesana.” Anjim, setuju dong. Elisa menelan ludah. Membayangkan apa yang akan terjadi di club saja membuat nya merinding. “Apa jangan-jangan, Lily mau karena udah terlanjur.” “Ya, terlanjur kena jebol.”  Ini yang jadi Ma De Su nya si Lily dong berarti?  Ia menggeleng pelan. Mengenyah pemikiran negatifnya. Kini, dirinya memilih stay dengan kedua tangan di saku almamater nya. Cewek itu menatap datar pintu tepat di hadapannya sampai sebuah suara kembali terdengar. “Hiks .. hiks kenapa aku selalu mendapat cobaan ini .. hiks .. ya tuhan?” “Aku nggak mau kerja kayak gini. Aku nggak mau jadi wanita penghibur. Hiks .. hiks .. aku capek ya tuhan harus kerja kayak gini!” “Aku mohon .. aku nggak kuat. Aku nggak tau gimana nanti kalau rahasia ku terbongkar, aku nggak bisa membayangkan mereka mengolok-olok ku hiks .. dan mengataiku .. hiks.” Lily menangis meraung-raung di toilet sampai Elisa pun penat karena berdiri terus menunggunya yang tak kunjung keluar, padahal bel masuk sudah dari 10 menit yang lalu. Udah Ly, gosah nanges. Rahasia lo udah ketahuan sama gue kok, percuma aja. Batin Elisa agak dongkol dengan Lily yang sepertinya bertelor di toilet.  Tapi tiba-tiba, pikiran buruk merasukinya. Ini Lily nggak bunuh diri kan? Wah, kalo dia bunuh diri terus meninggoy ntar nasib gue gimana? Misi gue gimana? How? How? How? Nggak bisa nih, nggak bisa nih! Elisa berperang dengan pikirannya sendiri. Dia membulat kan tekad, takut-takut pemikirannya itu benar kan bahaya. Jadi, ia akan membuka pintu di depannya ini. Namun, saat hendak membuka pintu, pintu itu terbuka dari dalam dan menampilkan wajah Lily dengan mata sembabnya. Cklek Lily masih belum menyadari kehadiran Elisa karena dia menunduk. Pada saat ia mendongak matanya sedikit membulat. “Lo-lo ngapain di sini?” gagap Lily dengan jantung yang berdebar-debar, takut. Tapi Elisa, dengan santainya menjawab “Nguntit lo.” APA?? Tangan Lily gemetar. “Ja-jadi, lo de-denger a-apa yang gu-gue omongin tadi?” Cewek itu berharap-harap cemas. Menggigit bibir bawahnya berharap apa yang ia harapkan terjadi.  Tapi sayang sepertinya dewi fortuna tidak berpihak dengan nya. Karena jawaban Elisa bukan yang ia harapkan. “Gue denger. Mulai dari lo telponan sampai lo nangis-nangis, semuanya jelas ke denger sampe telinga gue. Seperti yang gue bilang tadi, gue ke sini mau nguntit lo jadi jelas aja nggak akan ketinggalan juga gue buat nguping.” Tubuh Lily seakan membatu di tempat. Wajahnya sudah berubah pucat pasi. Dalam diam, ia tersenyum getir. Apalagi ini ya tuhan? Apa mungkin sekarang penderitaan ku akan bertambah? “Ikut gue!” Dirinya pasrah ketika Elisa menarik lengannya dan membawanya entah pergi ke mana.   Lily benar-benar pasrah pada nasib lebih buruk yang mungkin akan menimpanya lagi. *** Sepi.  Elisa ternyata membawa Lily ke tempat yang paling sepi sunyi dan tidak terawat, yaitu taman belakang. Dia mengajak Lily duduk di kursi besi yang masih layak dan kuat, membiarkan Lily bergelut dengan pikirannya sendiri. 10 menit berlalu .. Mereka hanya diam tidak ada yang membuka pembicaraan. Akhirnya pun Elisa yang menyerah dan mulai memecah keheningan. “Kenapa lo, lakuin itu?” Lily diam dan menunduk tanpa mau melihat Elisa. Seperti maling tertangkap basah yang diinterogasi. Elisa menghela napasnya panjang. Dia mulai mencari kata-kata yang pas “Kenapa lo mau kerja kayak gitu? Kenapa Ly?” Lily yang di tanya tidak menjawab. Tatapan matanya kosong, tanpa di minta, air matanya menggenang ingin menetes. “Kalo misalnya lo butuh uang, lo bisa bilang sama gue atau lo cari kerja yang lebih baik. Bukan kerja di club dan jadi wanita penghibur.” cewek itu semakin menundukkan kepalanya, dia meremas kuat roknya. “Lo sekarang udah sama aja kayak jalang. Murahan!” JLEB Hati Lily sakit mendengar Elisa mengatainya jalang. Apakah ia sekarang sudah bisa disamakan seperti itu? “Lo masih SMA, kita masih SMA, seharusnya lo berpikir panjang untuk masa depan bukan berpikir pendek dan malah terjun ke dalam pekerjaan hina itu.” Elisa semakin memojokkan. Air mata Lily sudah tumpah, pipinya basah ia tak kuat hatinya sakit dan rapuh ketika Elisa mengatakan kata-kata yang begitu menusuk. Elisa menyerong, menatap Lily. Dia memegang kedua pundak cewek itu agak kuat. “Sekarang gue tanya, udah berapa lama lo jadi jalang? Udah berapa kali lo layanin om-om?” ia mengguncang pundak Lily kuat. “Ayok Ly jawab! Berapa kali lo di pake?Berapa kali lo layanin om-om? Berapa kali lo di tidurin om-om? Jawab Ly! JAWAB!!” PLAAKKK "Cukup! Cukup Elisa! Tutup mulut lo itu! hiks .. hiks Gue bukan jalang!” “GUE BUKAN JALANG!” Lily berlari cepat dengan air mata yang bercucuran meninggalkan Elisa yang kini mematung memegangi pipinya. “Apa yang lo lakuin El? Kenapa lo malah berbicara seakan lo nggak tau apa-apa? Kenapa El? Kenapa? WHYYY?” Ia mengacak-acak rambutnya kesal. Tadi dirinya seperti kehilangan kendali, padahal dia sadar. “AARRRRGGGH!” “s****n! HARUSNYA GUE BAIK-BAIKIN DIA BUKAN MALAH MAKI-MAKI! KENAPA GINI SIH NJIM?” “KENAPA? OMG!!” “s****n! s****n! s****n!” “GUE BENCI KEKALAHAN!” Tapi .. apa masih ada harapan untuk ia menang di misi pertama ini. Sedangkan, dirinya saja sudah salah. Sangat, sangat, sangat salah. Salah langkah. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN