Esok paginya, mata Ciara diperiksa oleh spesialis mata. Ternyata ketakutan yang pernah dikatakan dokter terbukti dan kini Ciara sedang mengalaminya. Akibat kerusakan syaraf dekat mata karena benturan di kepala Ciara dulu, mengakibatkan syaraf retina mata Ciara terganggu. Ditambah lagi dengan tangisan Ciara yang terlalu emosional sehingga mempercepat kerusakan kornea matanya.
Charles mengusir Adam dan tidak memberikan kesempatan pada menantunya untuk sekedar berada dekat dengan Ciara sejengkal pun.
Adam kembali membisu di dalam kamarnya, begitu juga dengan Ciara yang menjadi pendiam sejak mengetahui kebutaannya. Mereka sama-sama berkelana pada kisah mereka sebelum tragedi ini terjadi.
***
Sudah setahun setengah Adam dan Ciara berpacaran dan setahun menjalin pacaran jarak jauh. Selama setahun ini Adam belum kembali ke Jakarta dikarenakan harus fokus dengan kuliahnya di tambah dengan pekerjaan tambahan dari Brahm untuk membantu mengawasi perusahaan di Amerika. Setiap akhir pekan, Adam harus bolak balik Massachuset-New York demi pekerjaan dan membangun jaringan bisnis daddy nya di sana.
Hampir setiap bulan setelah Adam kuliah di Harvard dan Ciara memilih kuliah di Jakarta, keduanya kerap kali bertengkar karena satu hal. Rasa posesif dan kecemburuan berlebihan baik dari Adam ataupun Ciara kerap menjadi pemicu utama hubungan keduanya. Usia mereka yang terbilang sangat muda membuat ego merasa paling benar masih tinggi. Sulit untuk mengalah sesaat, memaksa satu sama lain untuk menuruti dan mengerti keinginan mereka.
Ciara memang sempat putus asa dan memutuskan hubungan mereka tapi ditolak oleh Adam mati-matian. Adam mengalah karena ancaman Ciara. Suasana keduanya tenang namun hanya berlangsung dua bulan saja, setelah itu mereka meributkan hal yang sama.
“Kamu ngekang aku tapi kamu sendiri di sana lebih parah, Dam. Kemarin siapa perempuan yang masuk ke kamar kamu.”
“Aku sudah bilang dia pacarnya teman sekamar aku di sini. Aku juga kaget pas ternyata Chris bawa pacarnya pas aku balik. Kamu mesti percaya sama aku. Aku ngak pernah bawa siapapun masuk ke kamar.”
“Oh, jadi ngak di bawa ke kamar trus di bawa ke tempat lain kan!”
“Cia, aku benar-benar ngak begitu. Teman perempuan pasti ada tapi aku ngak pernah dekat sama mereka. Kamu harusnya tahu aku seperti apa.”
“Kamu saja sulit kan percaya sama aku yang ngak pernah jalan sama cowok. Apalagi aku yang jelas-jelas lihat dengan mata kepalaku sendiri semalam.”
Ciara marah sambil menangis sesegukkan saat sedang melakukan video call dengan Adam. Perbedaan waktu yang terlampau jauh membuat keduanya hanya bisa mengobrol di malam hari waktu Jakarta dan pagi hari waktu Masachusset. .
“Jadi kamunya mau gimana, Cia? Aku ngak akan mau putus kalau itu mau kamu.” Adam lebih dulu memberikan ultimatum sebelum Ciara mengatakan niatannya.
“Tapi aku cape kita berantem terus, Dam. Bukannya bikin aku semangat kuliah tapi malah kamu bikin mood aku down. Minggu ini aku telat ngumpulin tugas karena kita berantem terus. Sebentar lagi mau ujian semester, kalau kita berantem terus gimana aku bisa fokus sama kuliah.”
Bahu Adam terlihat turun, rasa bersalah mengginggapinya. Bukan begini keinginannya menjalin hubungan dengan Ciara. “Maaf, aku ngak maksud begitu.”
“Kita break dulu, Dam. Please kasih aku waktu beberapa hari.”
“Tapi aku ngak bisa, Cia. Aku bisa gila kalau ngak dengar suara kamu sehari aja.”
“Terus kamu lebih tega lihat aku nangis begini? Kamu juga harus fokus sama kuliah demi masa depan kamu sendiri.”
Bahu Adam terlihat naik turun mendengus. “Berapa lama?” Dengat berat hati Adam bertanya.
“Dua hari saja. I need free time, bukan karena aku bosan sama kamu, mungkin kita perlu menenangkan diri.”
“Oke, dua hari.”
Adam mengalah lagi karena takut Ciara meminta putus darinya lagi. Namun ucapan Adam seperti angin lalu yang dilakukan hanya untuk membuat Ciara tenang saja.
Kenyataannya baru saja Ciara akan berangkat kuliah esok paginya, Adam sudah menghubunginya kembali. Membuat Ciara mendengus kesal di depan halaman rumahnya.
“Kenapa, Cia?” Tanya Charles melihat wajah kesal putrinya saat mereka sudah di dalam mobil.
Charles sempat melihat nama yang muncul di layar ponsel Ciara, keningnya mengerut ketika melihat tingkah kesal Ciara.
“Ini Adam nelfon Cia. Katanya mau kasih aku free time semalam selama dua hari. Tapi sekarang udah ngecek lagi, pasti mau lihat aku ke kampus sama siapa. Ngak percayaan banget.”
Charles terkekeh menanggapi kekesalan Ciara. “Yah, wajarlah dia begitu. Kalau Daddy jadi Adam juga pasti was-was pas tahu Brandon jemput kamu ke rumah.”
“Tapi kan bukan salah di Cia, Dad. Memangnya Cia minta Brandon jemput. Dia aja yang kayak jelangkung datang ngak diundang pulang mesti diusir.”
Charles tertawa dengan pembelaan putrinya itu.
“Udah diangkat aja tinggal kasih tahu kamu berangkat sama Daddy. Beres kan. Cowok cuma butuh kepastian kok. Berisik tuh HP kamu bunyi terus.”
Sambil mencebik kesal, Ciara menjawab panggilan Adam. Di sana sudah jam 9 malam jika di Jakarta jam 9 pagi.
“Hai, Sayang. Udah berangkat yah?” Adam langsung bersuara sebelum Ciara menyapa.
“Hem.” Jawab Ciara singkat menahan kesal.
“Kok gitu sih jawabnya. Aku cuma nanya loh ngak nuduh kamu.”
Charles menoleh pada putrinya sambil mengangkat dagu menyiratkan untuk menjawab saja tanpa perlu membuat drama dengan Adam.
“Iyah udah berangkat dianterin daddy, pulangnya sama supir kantor daddy.”
“Yah sudah, aku jadi tenang tidur mala mini. Bye Cia, semangat kuliahnya yah.”
“Bye.”
Ciara lebih dulu menutup panggilan Adam sebelum pemuda itu melanjutkan percakapan lagi. Sejak berpacaran Ciara baru tahu kebawelan Adam ternyata melebihi dirinya, hanya saja hal itu dilakukan Adam hanya kepada Ciara. Sedangkan dengan kedua orang tuanya apalagi orang lain Adam tidak banyak bicara.
Rona kecewa terpancar di wajah Adam menghadapi sikap Ciara yang sedang mengacuhkan dirinya. Salahnya memang menjilat ludah sendiri sudah berjanji memberi waktu luang pada Cia nya namun dirinya tidak tahan jika tidak mendengar kabar wanita yang dicintainya itu.
‘Aku cinta sama kamu, Cia. Mungkin kamu kesal sama aku. Tapi aku takut kalau tanpa kehadiranku di sana, perasaan kamu bakalan goyah sama cowok yang dekatin kamu. Kamu tuh ngak nyadar kalau makin ke sini makin cantik. Gimana bisa aku tenang fokus sama kuliah dan kerjaan.’
Merasa frustasi, Adam menjatuhkan tubuhnya di kasur sambil menutupi matanya dengan lengan.
“Hei, Dude.” Panggil Chris teman sekamar Adam yang baru saja masuk.
“Yah.”
“Let hang out, chloe invites you to her party right?”
“No, I’m not going.” Adam menjawab tanda dirinya tidak ingin diganggu.
“Come on, Dude. Your jealousyIndonesian girl friend won’t find out.”
“I said no, Chris.” Seru Adam suaranya mulai meninggi.
Kemudian Adam membalikkan tubuhnya membelakangi Chris.
“You will going to regret it, Adam.” Kemudian Chris keluar dari kamar meninggalkan Adam . Chris sudah mengerti tabiat Adam akhirnya meninggalkan teman sekamar yang dijuluki Chris dengan nama the love Grinch, saking seringnya melihat Adam frustasi dengan percintaannya.
Setelah sejam bergelut dengan kegalauannya menahan diri untuk tidak mengganggu Ciara, akhirnya Adam tertidur pulas tidak sabar menunggu dua hari lagi. Adam memang tidak berencana memberitahu Ciara kalau dirinya akan pulang ke Jakarta lusa karena kuliahnya memasuki liburan musim panas. Adam akan tinggal selama 2,5 bulan di Jakarta dengan rencana yang sudah diputuskan olehnya atas seijin sang daddy tentunya demi menenangkan kegundahan batinnya.
Ciara merasa senang setelah Adam menghubunginya tadi pagi, pacar posesifnya itu tidak lagi menelpon dirinya di malam hari bahkan dirinya tidak mendengar kabar Adam selama 3 hari. Namun perasaan Ciara malah sebaliknya, pikiran-pikiran buruk mulai melekat di benaknya.
Mungkin Adam tidak menelponnya karena sedang bersenang-senang dengan cewek bule di sana. Apalagi liburan musin panas tahun lalu. Apalagi Ciara melihat foto-foto yang baru saja terbit di media sosial milik Adam yang sedang menghabiskan waktu libur sehari di pantai bersama teman-teman kuliahnya.
Fokus Ciara tertuju pada kumpulan para gadis yang hanya memakai bikini memperlihatkan lekuk tubuh mereka. Jantung Ciara serasa melayang memikirkan Adam bermesraan dengan salah satu gadis itu. Apalagi bulan ini sudah memasuki musim panas.
Charles memperhatikan raut wajah murung putrinya dalam perjalanan ke kampus keesokkan paginya.
“Adam ngak nelfon?”
“Ngak, Dad.”
“Terus kamu ngak cari tahu?”
“Aku yang minta Adam free time dua hari.”
“Terus itu bibir kenapa sampai bisa nadahin koin?” Goda Charles.
“Ngakpapa, Dad. Ish, lagi ngak mood doang.”
“Kapan Adam liburan kemari? Udah musim panas di sana kan?
“Iyah, ngak tahu tuh Adam ngak kasih tahu kapan balik, mungkin ngak balik lagi kali. Tahun lalu kan summer holiday dia kerja di kantor Daddy Brahm.”
“Kalau kangen yah chat aja orangnya. Jangan di tahan nanti panas dalam loh.”
“Daddy!!”
Charles tertawa senang melihat wajah merah putrinya menahan kesal.
Siang ini seharusnya supir Charles menjemputnya pulang. Saat keluar dari kelas, Ciara membaca pesan di ponselnya dari sang supir mengatakan kalau mobil yang digunakan sedang mogok.
Ciara menghubungi Charles untuk meminta ijin pulang sendiri dengan taksi, papa Ciara mengijinkan asal Ciara langsung pulang ke rumah.
“Cia!”
Dengusan dihembuskan Ciara mengenali siapa yang memanggilnya.
“Pulang sama siapa? Kalau ngak ada yang jemput bareng sama aku saja yuk. Kebetulan aku mau ke daerah dekat rumah kamu.”
“Aku mau naik taksi aja, makasih.”
“Loh, kenapa? Aku nawarin bantuan ngak niat macam-macam, Cia.”
“Ngak perlu, Don.”
“Janji aku ngak akan macam-macam sama kamu. Daripada kamu naik taksi ngak jelas siapa orangnya, lebih bahaya. Lagipula aku pernah ketemu sama orang tua kamu, mau aku yang telfon ke daddy kamu buat ijin? Aku mau kok.”
Malas berdebat akhirnya Ciara mau ikut pulang bersama Brandon. “Yah udah, buruan deh.” Memperlihatkan wajah setengah menahan kesal karena terpaksa.
Wajah sumringah Brandon terbit ketika akhirnya Ciara mau diantarnya pulang. “Yes!! Ayok.”
Di dalam mobil Ciara merasa canggung duduk berdampingan dengan Brandon. Pemuda itu bisa merasakannya.
“Nyantai aja kali, Cia. Aku udah bilang kan ngak akan berbuat macam-macam sama kamu.”
Ciara malas menanggapi, inginnya cepat sampai di rumah. Perasaannya merasa bersalah seakan tengah berkhianat di belakang Adam.
“Cia, jangan diam aja dong. Ngomong apa kek, balas apa kek.”
“Gua ngak tahu mau ngomong apa sama loe, Don. Makanya tadi ngak usah nganterin gua.”
“Eh, jangan marah dong. Iyah sori deh ngak maksud nyinggung.”
Akhirnya mobil Brandon sampai di depan rumahnya. Tadinya Ciara berniat turun di depan gerbang saja tanpa harus Brandon masuk ke dalam. Nyatanya pemuda itu menekan klakson dan pintu gerbang satpam.
“Loe langsung balik deh, thanks udah nganterin gua.” Ciara bergegas keluar dari mobil.
Namun Brandon malah ikutan turun menyusul.
“Cia, tunggu!”
“Agh!!”
“Cia! Hati-hati!”
Karena terburu-buru kaki Cia tidak sengaja terantuk kerikil dan hampir membuatnya jatuh. Untung saja Brandon keburu menangkap Ciara.
“Kamu ngakpapa?”
Jarak wajah Brandon dan Ciara begitu dekat dengan posisi Ciara berada di bawah dalam dekapan tangan Brandon yang menatapnya.”
“Cia!”
Suara panggilan seseorang membuat wajah Ciara memucat berdiri terpaku menatap siapa yang tengah ada di hadapannya. Wajah tersenyum pemuda itu berubah dingin seketika melihat dengan siapa Ciara pulang.