3. Tumpangan

1509 Kata
"Pak Toni tahu nggak ada bengkel deket sini, yang masih buka?" Andre baru saja akan masuk ke dalam mobil saat mendengar obrolan dua orang satpam, tidak jauh dari tempatnya berdiri. "Kasian itu Mbak Anna, bannya bocor." Andre segera mengedar pandang, dan menemukan seseorang tengah berlutut di samping sebuah motor maticnya. Karena penasaran, dan juga merasa kasihan, pria itupun memutuskan untuk mendekati dua satpam yang masih tampak bingung. "Kenapa, Pak?" "Eh Mas Andre. Itu, Mbak Anna. Karyawannya Bu mila, kasian ban motornya bocor, Mas." Andre mengangguk, lalu kembali menggerakkan matanya ke arah yang disebut Mbak Anna oleh satpam tadi. "Coba biar saya lihat," ujar Andre sembari mendekat. Dan diikuti satpam dengan name tag Dirga itu. "Kasian Mbaknya ini, Mas." Andre kembali mengangguk dan mempersilahkan satpam tersebut pergi, karena memang ini adalah jadwalnya untuk patroli. "Bocor, ya?" Andre bisa melihat gadis bernama Anna itu menoleh ke arahya. Seperti ingin mengatakan sesuatu, tapi urung entah karena apa. Malah, mata gadis itu sempat terlihat melebar, seperti sangat terkejut akan kehadirannya. Mungkin salahnya juga karena langsung berdiri di samping gadis itu tanpa mengatakan apapun terlebih dulu. Seharusnya dia bisa memberi tanda dengan berdeham atau apa mungkin. Tapi ya sudahlah, niatnya juga kan ingin menolong gadis ini. "Sebentar, saya coba telepon temen saya yang punya bengkel," ujar Andre setelah Anna terlihat menganggukkan kepalanya. Gadis itu terlihat bingung. Wajar saja, langit bahkan sudah mulai menggelap. Kantor-kantor yang ada di sekitar sini pun sudah tampak tutup. Andre bersyukur saat Iwan segera mengangkat sambungan teleponnya, dan bersedia membantu. Meski harus mendengar ketengilan Iwan yang memang sering menjadikan status singlenya ini sebagai bahan ejekan. Andre yang sudah terbiasa dengan sikap Iwan tidak lagi merasa terganggu. "Bilang aja kalau punya cewek lo." Andre hanya menanggapi dengan kekehan mendengar godaan dari seberang. "Jadi bisa, Wan? Nggak jauh kok tempatnya. Nanti gue share lock lokasinya." "Buat elo, Ndre. Apa si yang nggak bisa. Apalagi menyangkut seorang gadis. Andre pacaran, woi! Perlu syukuran nggak, si?" Terdengar gelak tawa, namun Andre hanya berdecak dengan senyuman tipis. Memilih untuk tidak meluruskan apapun. "Jadi beneran bisa kan, Wan?" "Bisa, si. Tapi paling ngerjainnya besok. Bengkel udah tutup soalnya." "Oke kalau gitu, gue kirim lokasinya." Andre segera menutup sambungan telepon. Lalu saat tangannya ingin mengirim lokasi tempatnya berada, pria itu menoleh ke arah samping. Ia lupa menanyakan apakah gadis ini tidak masalah jika motornya dibawa? "Temen saya bisa bawa motornya, tapi paling dikerjainnya besok. Gimana, nggak pa-pa?" Bukannya menjawab, gadis itu malah terlihat berpikir. Andre tidak sadar jika sebenarnya gadis ini sedang salah tingkah. Pria itu berusaha meyakinkan Anna jika motornya akan aman. Wajar saja kalau gadis ini takut, mereka bahkan baru dua kali ini bertemu. "Gimana?" tanya Andre lagi saat gadis itu tidak juga memberi jawaban. Mungkin masih belum percaya. Namun saat akhirnya anggukan dengan jawaban 'iya' itu meluncur, Andre tersenyum lega dan segera mengirim lokasi keberadaan mereka pada Iwan. Tidak ada obrolan yang terjadi sepanjang waktu menunggu itu berlangsung. Entah hanya perasaan Andre saja, atau memang gadis di sampingnya ini terlihat salah tingkah. Sesekali Andre bisa merasakan jika ia diperhatikan dari samping. Namun saat ia menoleh dengan sebuah senyuman, gadis itu segera melempar pandang ke manapun. Andre geli sendiri melihat sikap lucu gadis itu. Tidak lama sebuah mobil pick up datang dan membawa motor matic milik Anna. "Kamu tunggu sebentar, ya. Saya mau ngambil mobil dulu." Kalimat yang tidak sempat Anna dengar, dan akhirnya membuat gadis itu kebingungan. Andre segera melangkah ke arah mobilnya terparkir. Tanpa tahu kondisi Anna yang hampir menangis. Ada senyum yang entah mengapa terus hadir di bibir pria itu. Apalagi saat wajah polos Anna tertangkap penglihatannya. Ada gurat bingung yang kini gadis itu tunjukkan entah untuk apa. Dan saat pada akhirnya ia menghentikan mobil, dan menyuruh gadis itu untuk naik ke dalam mobilnya, wajah menggemaskan Anna yang tengah mengerjabkan mata dengan gugup kembali terlihat. Andre hanya bisa menahan senyumnya sembari memperhatikan gadis itu yang tengah berjalan ke arah pintu mobil, membukanya, lalu duduk tenang di sampingnya. * "Nama kamu Anna?" Anna tampak terkejut saat kalimat tanya itu meluncur dari bibir pria di sampingnya. Belum sempat meredakan debaran jantung semenjak tahu Andre tidak meninggalkannya begitu saja. Kini kerja jantungnya harus bekerja lebih cepat lagi, hanya karena mendengar Andre menyebut namanya. Ada kekeh merdu yang menyadarkan Anna jika dia harus bersikap santai. Jangan terlalu memperlihatkan jika dirinya gugup. Hal yang tentu saja sangat susah untuk dilakukan. Tapi Anna harus bisa menguasai diri jika tidak ingin terlihat konyol dan memalukan. "Saya tahu nama kamu dari security tadi," jelas Andre yang dibalas oh panjang tanpa suara oleh Anna. "Kalau nama saya udah tahu, kan? Kita sempet ketemu di resto tadi siang." Anna mengangguk, memperhatikan Andre yang tengah mengelus dagunya yang ditumbuhi rambut-rambut halus. Ada kumis tipis juga yang menghiasi wajah itu. Andre tampak makin dewasa dan juga tampan dengan itu semua. Anna segera melempar pandang saat mata Andre yang sedang fokus pada jalanan, menoleh sekilas ke arahnya. "Kak ...." Anna menggeleng, panggilan itu rasanya tidak cocok untuk ia gunakan sekarang. Dulu memang dia sering menyebut Andre dengan sebutan Kak Andre. Entah mengapa sekarang terdengarnya sedikit menggelikan. "Mas Andre," katanya menjawab pertanyaan atau pernyataan yang Andre utarakan tadi. Senyum Andre merekah, entah untuk apa. Yang jelas, lesung pipi itu tampak semakin mempermanis wajah pria ini. "Jadi, rumah kamu, daerah mana?" Pertanyaan yang sebenarnya agak terlambat, karena mobil yang ia kendarai sudah meluncur keluar dari arah Gading Serpong. Anna yang baru menyadari kebodohannya pun mengggigit bibir. Bukankah seharusnya ia mengatakan di mana alamat rumahnya sebelum Andre melajukan mobil sejauh ini? Tapi beruntung, mobil berjalan ke arah yang benar. "Emm, rumah Mas Andre daerah mana?" tanya Anna yang dijawab kerutan bingung di dahi Andre. "Kalau nggak searah, biar saya turun di jalan saja," jelasnya cepat untuk mengusir kebingungan yang Andre tunjukkan. Meski setelahnya dia bingung jika Andre mengiyakan, dan menurunkannya di tempat yang masih jauh dari rumah. Ini sudah agak malam, dan jujur Anna takut. "Daerah Graha Raya." Anna mengembus napas lega saat mendengar jawaban itu. Karena jelas rumahnya berada di jalur yang Andre lalui. * "Berhenti di sini aja, Mas." Andre menoleh dan mengamati tempat yang Anna tunjuk. "Rumah kamu mana?" "Masuk gapura situ, udah nggak jauh kok." Andre malah menggeleng mendengar jawaban itu. "Saya anterin sampe depan rumah kamu." "Tapi ...." Kalimat Anna terhenti saat Andre melempar senyuman manisnya. "Nggak pa-pa. Udah malem, bahaya." Dan Andre merasa beruntung karena memaksa untuk mengantar Anna sampai depan rumahnya. Karena yang dimaksud dekat oleh Anna itu limat menit perjalanan memakai mobil. Padahal, jika sedang tidak menggunakan motor, Anna sudah biasa berjalan kaki setelah turun dari angkutan umum di jalan besar tadi. "Ini rumah kamu?" tanya Andre sembari melongok rumah dengan bangunan dua lantai, yang terlihat tidak terawat dengan baik. Bahkan cat rumah bernuansa krem itu sudah mengelupas dibeberapa bagian. Belum lagi suasana gelap yang kini terlihat, membuat rumah Anna sediKt menyeramkan. Anna mengangguk kaku, "Iya." "Ini jauh loh, Na." Anna yang sudah ingin melepas tali seatbelt urung. "Kalau sudah biasa si, nggak, Mas." Andre mengangguk-anggukkan kepalanya. "Rumah kamu sepi." Kali ini Anna yang sudah melepas tali seatbelt dan hendak membuka pintu menghentikan sejenak gerak tangannya. "Orang rumah pasti udah pada tidur, ya?" Anna menunjukkan senyum sendu. Entah Andre menangkap hal itu atau tidak. "Orang tua saya udah meninggal." Ada nada marah yang sedikit tersirat pada nada suara itu. Andre yang mendengar hal itu terlihat tidak enak hati. Seharusnya dia tidak selancang ini. "Maaf, kalau saya lancang." Anna menggeleng, sikap gugup yang tadi merajai sempat hilang. Hatinya selalu tidak baik-baik saja setiap kali ada orang yang menanyakan tentang ini kepadanya. Kematian tragis yang orangtuanya alami adalah penyebabnya. Tragedi yang selalu menjadi mimpi buruk untuk kehidupan Anna. "Terima kasih udah mau nganter. Mas Andre hati-hati di jalan." Anna sudah membuka pintu mobil dan siap menurunkan kakinya. Namun kalimat Andre lagi-lagi menahan geraknya. "Kayaknya kita pernah ketemu. Muka kamu nggak asing buat saya." Anna menoleh dengan jantung yang kembali bekerja hebat. Apa Andre mengingat perkenalan singkat mereka dulu? Apa itu berkesan? Tapi .... "Kan tadi siang kita ketemu di resto Mas Andre?" Mungkin saja Andre lupa tentang hal itu. Namun pria itu menggeleng yakin. "Saya rasa bukan di situ. Seperti sudah lama sekali, apa kita memang pernah saling mengenal? Dulu, mungkin?" Akankah ada gunanya jika Anna mengatakan jika dia adalah gadis yang dulu terkena lemparan bola yang Andre lakukan. Apakah Andre mengingat itu? Dan akankah semua fakta itu akan mengubah keadaan? Tapi, bagaimana jika Andre tidak mengingatnya? Bagaimana jika hatinya terluka saat apa yang ia inginkan tidak terwujud? "Saya rasa, itu hanya perasaan Mas Andre saja. Sekali lagi, makasih tumpangannya, Mas. Permisi," ujar Anna cepat. Mengabaikan raut bingung dan juga penasaran yang kini Andre tunjukkan. Andre yang masih merasa penasaran, hanya bisa diam di tempatnya. Memperhatikan sosok Anna yang turun dari mobil, dan tanpa menoleh lagi langsung masuk ke dalam rumah. Andre baru benar-benar pergi saat sosok Anna sudah menghilang dari jarak pandangnya. Sementara Anna yang baru saja mengunci pintu, hanya bisa memegang d**a bagian kirinya yang tidak juga mau berhenti berdetag keras. Ada sebingkai senyum di bibir manis itu. Senyuman yang jarang sekali ia perlihatkan untuk siapapun. ----"""----
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN