PROLOG

504 Kata
"Buang, Pak!" ujar pria dengan dua lesung pipi itu tanpa mau melihat kembali seonggok benda mengerikan di depannya. Benda yang awalnya ia pikir bangkai tikus yang berdarah-darah. Ia sudah lemas dan hampir pingsan sebelum akhirnya mengetahui jika apa yang ada di depannya itu hanyalah mainan berbentuk hewan pengerat yang berlumuran cairan berwarna merah darah. Namun tetap saja, rasa mual yang mengaduk-aduk perutnya tidak bisa hilang seketika. "Ada suratnya, Mas." Security yang hendak membuang benda menjijikan itu menyorongkan kertas berwarna merah sebelum akhirnya berjalan menuju tong sampah berada. Pria bertubuh tegap itu segera membuka kertas yang sudah ia duga isinya apa. Bagaimana? Cukup syok? Itu belum seberapa. Kita masih akan bermain-main. Ini masih pemanasan. Pria itu meremas kertas yang ia pegang lalu membuangnya ke sembarang tempat. "Pak Irwan beneran nggak liat orang yang mencurigakan?" "Beneran, Mas. Saya nggak liat ada tanda-tanda orang berhenti di depan gerbang." Pria tadi mendesah kesal, lalu mendongakkan kepalanya untuk melihat CCTV yang terpasang. Sialnya, lokasi tempat benda tadi ditemukan tidak akan tertangkap kamera lengawas. Sepertinya orang tersebut sudah sangat hafal seluk beluk rumah ini. "Ya sudah, Bapak terus jaga." "Belum mau dilaporin juga, Mas." Langkah pria tadi terhenti saat mendengar pertanyaan itu. Seharusnya memang ia melaporkan kejadian ini sejak dua tahun lalu. Karena memang sejak saat itulah berbagai macam teror terus mengganggunya. Waktunya tidak terduga. Bahkan ini baru terjadi lagi setelah enam bulan ia merasa lega karena teror itu tidak juga datang. Ternyata itu hanya serupa permainan. Jika tujuan orang tersebut ingin membuatnya resah. Dia memang berhasil. Karena meski tidak ada teror selama enam bulan ini, hidupnya tidak pernah dikatakan tenanng. "Nggak ada bukti yang jelas, Pak. Lagipula, cuman teror-teror receh kayak gini. Kalau sudah berbentuk kriminal yang membahayakan, nanti akan ssya lapor." Pria itu segera masuk ke dalam rumah sebelum security mengangguk. Tentu saja kalimat tadi hanya semacam kalimat hiburan. Untuk dirinya sendiri mungkin. Karena faktanya, hidupnya tidak pernah baik semenjak teror itu hador. Meski bentuk terornya tidak pernah menyelekainya. Tapi batinnya tersikss karena terus diingatkan pada kejadian pahit di masa lalu yang sudah hampir berhasil ia kubur. Kamu pikir bisa lari begitu saja? Mungkin kamu kebal hukum karena faktor uang. Tapi kita lihat, apa setelah ini hidupmu akan baik-baik saja? Itu adalah pesan pertama yang ia dapatkan. Tertulis pada kertas berwarna merah. Tidak ada benda mengerikan. Tapi foto-foto orang yang terluka dengan darah berceceran menjadi pemandangan yang lebih mengerikan. Pria itu segera membuka laci nakas yang ada di kamarnya. Mencari benda yang sudah dia tinggalkan dua tahun lalu, tapi menjadi teman terbaiknya lagi kini. Dia keluarkan beberapa butir pil penyelamat kewarasannya. Setidaknya untuk sejenak, ia bisa lari dari rahasia hidup yang terus mengikutinya. Walaupun faktanya, dalam mimpipun dia terus dikejar-kejar rasa bersalah. ---""--- Hai-hai, aku datang dengan cerita baru. Di sini kalian akan menemukan cerita dengan teka-teki. Happy reading dan selamat menebak-nebak. Jangan lupa klik tanda love untuk memasukkan cerita ini ke library kalian, ya. Dan boleh banget buat follow akun aku. Haha ... Ci uuu. Love Aya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN